Pov Justin Sebastian Aku mengerjap lirih dengan kedua bola mataku yang terasa begitu lengket dan berat. Tubuhku begitu kaku, sangat sulit untuk digerakkan. Bahkan, sekedar menggerakkan jemari tanganku saja, aku harus menggunakan sekuat tenaga. Pandanganku masih berbayang, semuanya putih berawan. Mulutku masih seperti terkunci rapat, kesulitan untuk berbicara. ‘Ya Tuhan, apa ini? Apakah takdirku telah sampai? Tapi, aku belum membalaskan dend4m kedua orang tuaku,’ bisikku lirih dengan lelehan air mataku sendiri yang terasa hangat membasahi kedua pipiku. Suasana yang aku rasakan, begitu tenang dan damai. Aku tak tahu, sebenarnya aku sedang berada di mana, antara hidup dan mati. “Selamat pagi, Tuan Justin Sebastian. Saya selalu berharap, agarTuan Justin, lekas siuman.” Tiba-tiba terdenga

