Dari kejauhan, Axel melihat Stela dengan Amara yang tengah berbicara, sedangkan gadis yang bersama Axel merasa penasaran, dan dia pun bertanya
"Dia siapa, kak? Apa kakak mengenalnya?" tanya gadis itu
"Dia mahasiswi di Fakultas Ekonomi, semester satu." Jawab Axel tanpa menoleh ke arah gadis yang bertanya padanya
"Ouh ... Berarti satu angkatan denganku," ujar gadis itu
"Iya." jawabnya mengangguk
Gadis itu melihat Stela, lalu dia kembali melihat kakaknya, dia menyadari ada sesuatu pada Axel, karna dia melihat pandangan Axel pada Stela sedikit berbeda. Namun, gadis itu tidak bertanya pada Axel, karna dia ingin mencari tahu sendiri.
"Ayo, kak. Kita pulang." ajak gadis itu
"Um .... "
Akhirnya kedua orang itu beranjak pergi dari mall tersebut. Sedangkan Stela dan Amara sekarang sedang mencari buku mata kuliah yang mereka perlukan.
"Oh ya, Stel." ujar Amara
"Hm?" sahut gadis itu
"Bukannya kamu tadi bilang akan menungguku di depan restoran, lalu kenapa waktu kita bertemu kamu seperti ingin pergi dari tempat ini,"
"Ah ... Itu ... Stela ingin ke toilet."
Stela mencari alasan supaya Amara tidak tahu jika dirinya tadi bertemu dengan Axel dan seorang gadis yang Stela sendiri tidak tahu siapa.
"Oh ... Aku kira kamu marah padaku, lalu kamu kembali pulang."
"Tidak. Mana mungkin Stela pulang. Stela datang kesini untuk mencari buku, lalu belum dapat bukunya sudah pulang saja. Bagaimana mungkin."
"Ehm .... "
Gadis itu teringat dan memikirkan gadis yang bersama dengan Axel. Dia merasa penasaran dengan gadis yang bersama dengan Axel tadi, tapi dia tidak bisa bertanya, karna takut dikira cemburu atau ada sesuatu
"Perempuan tadi siapa ya? Kenapa terlihat sangat dekat dengan Kak Axel." Pikir Stela. "Argh ... Apa sih, Stel? Kenapa kamu memikirkan mereka? Memangnya kak Axel siapamu."
Karna Stela tengah melamun, dia tidak sadar jika di ajak bicara, dan di panggil oleh Amara. Hingga akhirnya Amara merasa kesal, dan menghampiri Stela yang berdiri dengan tatapan kosong, dan dengan tingkah laku yang aneh.
"Stela!" Panggil Amara menepuk pundak gadis itu
Seketika itu juga Stela terkejut, dan tersadar dari lamunannya.
"Hah! Ada apa?" tanya Stela
"Ada apa denganmu? dari tadi aku ajak bicara tidak membalas, ketika di panggil juga tidak menyahut."
"Hah? Maaf. Aku tidak mendengar kamu memanggilku,"
Amara merasa kesal, karna temannya itu dari tadi bersikap aneh.
Mereka akhirnya melanjutkan lagi mencari bukunya. Setelah mendapatkan buku yang di cari, Stela dan Amara beranjak untuk menonton film terbaru. Mereka berdua juga makan bersama sebelum pulang.
"Stel," panggil Amara
"Hm?" sahut Stela
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Amara
"Am, kamu sudah bertanya hingga 5 kali, dan jawaban Stela akan tetap sama. Stela baik-baik saja."
Wajah Amara menunjukkan ketidakpercayaannya pada Stela, dia merasa jika temannya itu tengah menyembunyikan sesuatu atau sedang memikirkan sesuatu sehingga membuatnya tidak fokus
Flashback On
Ketika Amara dan Stela berada di toko buku, Stela mengambil buku yang bukan buku mata kuliahnya, dia mengambil buku mata kuliah Mahasiswa Administrasi Bisnis.
"Hei! Kenapa kamu ambil buku untuk mata kuliah Administrasi Bisnis?" tanya Amara menyahut bukunya
Stela hanya diam, dan merasa bingung. Akhirnya Amara yang mengembalikan buku tersebut.
Lalu ketika mereka berada di bioskop, Stela hampir salah masuk ruang teater, lalu dia juga lupa mengambil popcorn dan minum yang sudah dia bayar. Untung saja, Amara ada bersama Stela, jadi temannya itu yang membantu Stela.
"Ada apa denganmu?" tanya Amara
"Huh?" ujar Stela bingung.
Amara hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Stela yang tidak seperti biasanya.
Yang terakhir, ketika mereka berdua makan bersama. Stela hanya membuat mainan makanannya, dia banyak melamun dan memikirkan sesuatu.
Flashback Off
"Apa kamu yakin bisa pulang sendiri?" tanya Amara yang kurang yakin
"Iya, Am. Tenanglah. Stela bisa pulang sendiri, jadi jangan khawatir."
Stela mencoba meyakinkan temannya itu jika dirinya bisa pulang sendiri, dan tidak akan terjadi apapun padanya, karna seharian sikap Stela sedikit kacau, jadi Amara sedikit khawatir pada temannya itu.
"Sudah ya. Stela pulang dulu." pamit gadis itu
"Eh! Stel," tahan Amara
"Apa?" tanya Stela
"Nanti ketika sampai di rumah, jangan lupa mengabariku ya,"
"Iya."
Gadis itu pun beranjak pergi, dan dia berpisah dengan Amara. Dalam perjalanan pulang, Stela memikirkan kejadian seharian ini.
"Stela banyak sekali melakukan kesalahan hari ini, pikiran Stela juga kacau sekali. Sebaiknya Stela cepat pulang, lalu beristirahat." gumamnya.
Ketika gadis itu sampai di rumah, dia langsung masuk ke dalam kamar untuk meletakkan barang belanjaannya, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepuluh menit kemudian
Ponsel gadis itu berdering, dan kebetulan dia baru saja keluar dari kamar mandi. Dia langsung mengangkat panggilan masuk tersebut
"Ya, halo."
"Bagaimana, Stel?"
"Stela sudah sampai di rumah, dan baru saja selesai mandi juga. Sekarang Stela akan beristirahat."
"Ouh ... Oke. Kalau begitu teleponnya aku matikan. Bye, Stel."
"Bye."
Pembicaraan mereka hanya berlangsung sebentar, karna Stela ingin beristirahat.
Malam semakin larut, Stela akhirnya terlelap tidur.
Ardan tidak menyerah untuk mendekati Adele, bahkan dia lebih sering datang ke Fakultas Administrasi Bisnis karna ingin bicara dengan gadis itu.
"Hai," sapa Ardan.
Adele tetap tidak mempedulikan kehadiran Ardan, karna dia tengah duduk bersama teman-temannya. Sedangkan teman-temannya menyenggol lengan Adele, dan berkata. "Del, itu senior menyapa kamu, kenapa tidak kamu balas?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan untuk teman-temannya tidak perlu mempedulikan Ardan.
Namun, Ardan tetap berusaha mendekati Adele, hingga Adele merasa terganggu, dan berkata. "Apa kakak tidak capek selalu saja menggangguku? aku saja merasa capek."
"Tidak. Aku tidak merasa capek, apalagi ketika melihat wajah kamu."
Adele memutar bola matanya, dia merasa malas mendengar perkataan Ardan.
Akhirnya Adele mengajak teman-temannya untuk beranjak pergi dari tempat duduk itu, dan Ardan pun mengikuti mereka
Ketika teman-temannya Adele sudah masuk ke dalam kelas, gadis itu berdiri di depan kelas dan bicara dengan Ardan. "Kenapa kakak mengikuti kami? Apa kakak tidak punya kelas? Ini kelas anak semester satu jurusan Administrasi Bisnis, untuk apa kakak ada disini?"
Ardan pun melihat ke dalam kelas Adele, kemudian dia menjawab perkataan Adele
"Aku tidak ada kelas, makanya aku mengikuti kamu. Aku tahu jika ini kelas semester satu jurusan Administrasi Bisnis."
"Lalu? Bisakah kakak pergi dari sini? Aku merasa terganggu dengan adanya kakak di sini."
"Um ... Baiklah. Aku akan pergi, dan menunggu kamu di tempat duduk di depan Fakultas kamu."
Tanpa mendengar jawaban Adele, Ardan pun beranjak pergi.
"Tunggu. Siapa juga yang akan menemuinya di sana?" gumam Adele.