"Masih mual, nggak?" Gara menggeleng lemah ketika Saira menanyainya. Wanita yang sudah berstatus menjadi istrinya sejak tiga bulan lalu itu menyentuh dahi Gara yang suhunya normal sebetulnya. Hanya saja, Gara memang agak merasa pening dan perutnya agak mules. Sampai-sampai Gara tak tahan menahan rasa mualnya. "Mau ke dokter aja?" Tanya Saira lagi. Pasalnya, sejak semalam Gara begini terus, takutnya ada sakit apa-apa. Lagi-lagi Gara menggeleng. Ia memeluk kaki Saira, karena posisinya sedang berbaring, sementara Saira duduk di samping Gara. "Nggak usah. Palingan cuma masuk angin. Ntar lagi sembuh deh keknya." Saira berdecak pelan. "Makanya, siapa suruh nonton bola sampe pagi. Jadinya gini kan!" Gara hanya tertawa pelan mendengar omelan Saira. Baginya, Saira begitu juga karena perhat

