"Ayu, ayo gue anterin lo pulang" Ajak Buana yang tampak sudah bersiap rapi, baru keluar dari kamarnya.
Ayu masih duduk di sofa sambil menonton tv, terlihat ia mulai mengantuk namun berupaya mengebalikan kesadarannya begitu mebdengar suara Buana.
"Loh, katanya lo balik malam" Jawab Ayu terheran-heran.
"Ga. Gue anterin lo dulu aja. Nanti gue balik sendiri ke sini."
"Kayak orang kurang kerjaan aja sih lo bolak balik gitu?"
"Emang gue kurang kerjaan. Kan pengangguran." Buana santai sekali menjawab hinaan Ayu tadi.
Ayu menghembuskan nafasnya kasar, sesungguhnya ia malas pulang jam segini. Di luar masih lumayan terik, terlihat dari cahaya matari yang terang dibalik gorden sofa tempat ia duduk.
"Boleh ga agak sorean baliknya?" Ayu mencoba memelas untuk merayu Buana.
"Sekarang, atau pulang sendiri?" Ancam Buana.
"Issh.. panas banget ini maaass.. gosong nanti. yah? yah?" Ayu memasang wajah memelasnya, tak lupa puppy eyes nya yang membuat Buana mau tak mau tergelitik untuk tersenyum. Tapi ia tahan sambil membuang muka agar Ayu tak menyadari reaksinya.
Sudah sekian lama tak ada yang merengek-rengek padanya seperti apa yang dilakukan ayu saat ini. Hatinya menghangat seketika begitu menyadari ia tak lagi memasang tembok tebal antara dirinya dan Ayu.
"Berarti pilih pulang sendiri ya..!" Dalam pernyataannya masih tersirat godaan kepada Ayu.
"Tega banget ya nih mas Buana. Nggak bisa ngalahan dikit apa mas ke Ayu?" Jurus berikutnya Ayu, mengubah lo gue menjadi menyebut nama.
"Jangan sok imut deh! eneg gue!"
Lah.. sudah susah payah Ayu berusaha untuk imut, eh tanggapan Buana hanya datar seperti itu. Ayu mendengus menyadari jurusnya gagal, ia harus memikirkan cara berikutnya. Buana sendiri langsung kembali masuk ke kamar, mengurungkan niatnya mengantar Ayu pulang. Mungkin 2 atau 3 jam lagi baru ia akan menghampiri Ayu kembali kemudian menyeret Ayu untuk pulang.
Buana menyadari ia telah memberikan celah kepada Ayu untuk masuk ke dalam kehidupannya. Entah kenapa ia ingin menghindari Ayu, tapi tidak bisa. Padahal ia tahu resikonya akan tidak baik ke depannya untuk ia maupun Ayu. Bukan hanya Ayu sih,.. tapi semua gadis yang dekat dengannya, lebih baik ia hindari.
Di tengah lamunannya, gawainya berdering. Ia melihat layarnya dan mendapati nama Mbok Nini di sana.
"Ya mbok?" Tanya Buana begitu menjawab panggilan mbok Nini.
"Assalamualaikum den Buana.."
"Eh iya.. Assalamualaikum mbok.. ada apa?"
"Den Buana pulang malam ini?"
"Seperti biasa, mbok"
"Oh.. kalau non Ayu?"
"Kenapa sama Ayu, mbok?"
"Itu.. non Ayu pulang malam juga, bareng sama den Buana?"
"Oh.. nggak tahu mbok. Sudah saya suruh pulang dari tadi, tapi dia nya nggak mau.."
"Hmm.. anu den.." Suara mbok Nini terdengar ragu-ragu.
"Bilang aja mbok.. nggak usah drama deh!"
"Eh iya den.. itu, kalau bisa non Ayu jangan di bawa pulang kerumah sini ya den? langsung dianterin ke rumahnya aja."
"Emang kenapa mbok?"
"Tadi den Andres pulang, lihat makanan yang dibawain non Ayu untuk den Buana. Saya jadi diinterogasi macam-macam deh den"
Buana mendesah, ia sudah tau akan begini jadinya. Andres nggak akan pernah membiarkannya dekat dengan siapapun.
"Mbok tenang aja.. saya tahu harus ngapain. Tapi mbok jangan cerita yang macem-macem sama Ayu ya.."
"Siap den.. pokoknya mbok dukung den buana sama non Ayu."
"Apaan sih mbok.." Kalau ada mbok Nini di sini, sudah dipastikan ia akan melihat pipi Buana yang bersemu merah ketika digoda begitu. Padahal dia lelaki dewasa yang terkenal cuek, cool, dsb lah.. tapi godaan itu tetap saja bisa membuat ia malu.
Setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan mbok Nini, Buana mendesah lagi, ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan mulai menatap langit-langit kamarnya.
Sekarang apa rencanya?
Buana bangkit dari tidurnya dan bangun berjalan menuju sebuah lemari, kemudian mengambil sebuat notebook yang jarang ia buka.
Ia kembali duduk di tempat tidurnya kemudian bersandar di headboard tempat tidurnya, berselonjor, lalu mulai membuka notebook yang berlogo apel digigit itu.
Buana membuka beberapa aplikasi di browsernya. Tak lama tampak beberapa grafik yang muncul dan ia pun mulai dengan serius menatap grafik-grafik lilin yang berwarna hijau maupun merah itu. Ya, itu adalah grafik pergerakan saham. Di tab lain, ia juga melihat grafik reksa dana, dan grafik cryptocurrency.
Selama ini, ketika ia melipir ke apartemen, inilah yang dilakukannya. Menganalisa saham, melakukan jual beli saham, dan tetap memantau startup nya yang sudah 3 tahun tak pernah ia kunjungi.
Ia melakukan semuanya dalam diam. Bahkan banyak yang tidak tahu kalau dia masih secara rutin memantau perkembangan startup yang dibangunnya dari 0 itu. Tidak heran, walapun sudah 3 tahun ia menanggalkan posisinya di startup itu, tetal startup itu berhasil menaikkan statusnya ke level unicorn.
Teak terasa waktu berlalu, Buana melirik jam di tangannya dan mendapati saat ini sudah hampir jam 5 sore. Dengan gesit ia membereskan pekerjaannya, menutup notebooknya, kemudian menyimpan kembali ke dalam lemari. Kemudian ia mematut sendiri dirinya di depan cermin, setelah dirasa rapi, iapun melangka keluar kamar.
"Ayu..! Yuk pulang" Teriak Buana begitu pintu dibuka. Tak ada suara apapun, cuma bunyi tv yang menggelegar di ruangan itu.
Buana berjalan pelan mencari sosok Ayu yang akhirnya ia temukan sedang tidur di sofanya. Buana bimbang sejenak, antara mau membangunkannya, atau membiarkan saja Ayu tetap tidur. Ah tidak.. harus sesuai plan, pikirnya.
Akhirnya Buana mengguncang badan Ayu yang masih terlelap. Kalian jangan mengharapkan Buana akan terhipnotis memandang wajah Ayu yang sedang tidur,.. oh ayolah, adegan seperti itu hanya ada di film, sinetron atau novel, atau sejenisnya lah.
Ayu sedikit menggeliat kemudian kembali tertidur, beberapa kali Buana mengguncang tubuhnya, tapi tetap saja Ayu tidak terbangun.
"Cewek tapi tidur kayak kebo!" Buana mulai kesal melihat Ayu yang tak meresponnya. Akhirnya dengan sedikit tak berperasaan, ia mengitari sofa dan mendorong tubuh Ayu dari belakang sehingga Ayu jatuh terguling, mendarat dengan mulus di atas karpet turki mahal yang empuk.
"Vangke! Kampretos!" Ayu memaki dalam keadaan setengah sadar karena ia merasakan sakit badannya. Walaupun jatuh di atas karpet tebal, tapi tetap saja sakit.
Ayu mendongak mencari siapa orang yang mendoronya. Begitu melihat wajah Buana yang sedang tersenyum meremehkannya, ia menjadi semakin kesal.
"Apaan sih Mas! Orang lagi enak-enak tidurin, dibangunan!" Tuh kan saking emosi, omongan Ayu tak terkontrol.
"Ih salah ngomong lu! Hahaha" Baru pernah Ayu melihat Buana tertawa selepas ini. Makin bertambah kegantengannya jadi 5 kali lipat.
Buana berjalan mengitari sofa kembali, kemudian mendudukkan dirinya di sofa itu.
"Benerin lah kalau salah!" Ayu tak ingin membuat suasana menjadi kacau, tawa Buana itu nular, jadi emosi dia karena digulingkan tadi pun seketika lenyap. Ayu memperbaiki posisi duduknya di atas karpet, kemudian meletakkan sikunya di sofa tepat di samping Buana kemudian menopang dagunya di telapak tangannya.
"Lagi enak-enak tiduran, dibangunin! Ahahaha " Ralat Buana, tapi masih tak bisa menghentikan tawanya.
"Mas Buana kalau tertawa begini, ganteng banget ya. Hati aku jadi ketar ketir!" Suerr ini bukan gombalan, bahkan Ayu mengucapkannya dengan tidak sadar. Ia masih mendongak memandang Buana dengan tatapan memujanya.
Buana terdiam. Ia sendiripun tak menyadari tawanya itu. Setelah 3 tahun berlalu, ia kembali tertawa dengan lepas. Disadari atau tidak, saat ini Buana merasa Ayu semakin istimewa di matanya.