02 - Suasana Baru

1263 Kata
2 bulan yang lalu Pagi itu di sebuah kompleks perumahan elite, aku baru saja tiba menggunakan jasa mobil online yang kupesan satu jam yang lalu. Sambil memeriksa kembali nomor rumah yang tertera di sebuah rumah asri bergaya minimalis dengan alamat lengkap yang diberikan oleh ibuku. Setelah memastikan nomor rumah itu benar, aku turun dan tersenyum lebar memandang bangunan itu kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan memandang ke rumah-rumah di sekitarnya. "Assalamualaikum tante.." sapaku ketika melihat seorang wanita paruh baya muncul dari pintu depan dengan wajah sumringah. "Eh Ayu.. kamu sudah tiba nduk?" sapa wanita itu dengan ramah. Beliau adalah tante ku, tante Rahmi, istri dari pamanku, adik ibu. "Iya tante.." Hari ini aku resmi tinggal dengan Paman dan tanteku ini. Beberapa hari yang lalu, aku dapat promosi di tempatku bekerja, aku diangkat menjadi sekretaris utama direktur muda. Namun aku ditempatkan di kantor ke-dua tempat dimana direktur muda berkerja. Lokasi kantor baru ini cukup jauh dari rumahku. yah bisa satu jam perjalanan, belum kalau ditambah macet. Akhirnya ibuku menyarankan untuk tinggal bersama paman Arkan dan tante Rahmi. Kebetulan anak mereka juga masih kuliah di Singapore, sehingga sehari-hari di rumah itu hanya ada merka berdua dengan beberapa ART. "Seneng banget loh tante kamu mau juga akhirnya tinggal bareng tante dan pamanmu ini." Tak henti-hentinya tante Rahmi tersenyum sumringah. "Iya tante.. setelah Ayu pikir pikir, kalau tante dan paman tidak keberatan, memang akan lebih ringan untuk Ayu bekerja jika Ayu tinggal disini. Terimakasih ya tante.." Ujarku dengan senyuman juga. "Ya tentulah tidak keberatan. Lagian di rumah ini cuma ada tante dan pamanmu. sepi. kalau ada kamu kan tante jadi punya teman nge-ghibah. ya kan? ha ha ha" tawa tante Rahmi menggema. walaupun beliau sudah berumur hampir dari setengah abad, tapi jiwa humorisnya tetap ada. Aku rasa hal itu akan membuatku betah tinggal di sini. "Eh ayo, tante tunjukkan kamarmu!" ajak Tante Rahmi sambil bangkit berdiri dan menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. "Kamar kamu di lantai dua ga pa pa kan, Yu?" Tante Rahmi tetap mengajak mengobrol walaupun langkah kakinya terus menuju tangga dan mulai menapak satu per satu. Aku mengangguk sambil mengikuti langkah tante Rahmi. Ini kali pertama aku datang ke rumah paman dan tante. Jadi otomatis mataku ikut berkelana memindai rumah tante ini. Tante Rahmi membawaku masuk ke sebuah kamar yang cukup rapi. tidak terlalu luas, tapi cukup menurutku. Tempat tidurnya queen size, ada sofa kecil yang muat untuk duduk dua orang, lemari pakaian dan meja rias. Di sisi kiri ada pintu kecil yang aku rasa itu adalah kamar mandi. Dan yang paling aku suka, kamar ini berdinding kaca yang tertutup tirai panjang. Di sisi kanan, ada pintu menuju balkon. Aku berjalan menuju ke balkon, membukanya dan melihat ada kursi ayun di pojok balkon, cocok banget untuk bersantai. kayaknya aku sudah menemukan sudut favoritku. Balkon ini berada di paling ujung gedung rumah sisi kanan. dari balkon, aku bisa melihat jalan utama komples perumahan di sisi kiri. sedangkan depannya berhadapan dengan balkon rumah tetangga yang bentuk rumahnha hampir mirip dengan rumah si tante. Mataku menangkap aktivitas di halaman rumah tetangga di depan pandanganku ini. Di garasi tepatnya. seorang pemuda berambut gondrong, menggunakan masker hitam dan jaket kulit hitam sedang mengeluarkan motor ninja hitamnya dari garasi. Tak lama dia menggeber motornya dan segera berlalu dari tempat itu. Kulirik jam tanganku, jam 10 pagi. "Ayu.. tante tinggal masak dulu ya.. pamanmu mau makan siang di rumah, katanya sudah kangen kamu, jadi tante siap-siap dulu ya.." ucapan tante Rahmi menghancurkan suasana sepi. Aku pikir tante sudah pergi dari tadi, ternyata masih disini aja. "Eh iya tante. nanti Ayu susul ya.. Ayu beresin barang-barang Ayu dulu." jawabku sopan "Sudah santai aja. Tante masak dibantu bi Parti kok. Take your time.." aku mengangguk seraya melihat tante pergi dari hadapanku. Baiklah gaes.. aku sudah sendirian di kamar, maka topeng alimku ini aku lepas dulu. Letih dari tadi harus jaim. Mataku melirik bed queen yang seolah memanggil minga ditiduri, aku dengan riang melompat seperti seorang atlet pelompat galah, dan dengan mulus mendarat di atas ranjang empuk yang baru kucicipi ini. Suasana baru ini, semoga aku dapat cepat beradaptasi. *** "Mbak Masayu, ayo saya kenalin ke pak Dir" Ajak bu Icha bagian HRD begitu aku selesai mengurus berkas kepindahanku "Pak Dir itu siapa bu?" tanyaku hati-hati "Lah.. ya bos nya mbak Masayu kan" jawab bu Icha santai sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana pak Dir berada. Aku mengikuti langkah kakinya dari belakang sambil terus mengajaknya berbicara. Biar akrab gitu.. "Hah? bos saya bukannya Pak Andres ya bu?" "Nah itu tau..!" "Lah trus pak Dir?" "Elah.. direktur, bambang!!" bu Icha jengkel juga akhirnya. Aku terkikik pelan. Sudah menjadi hobby-ku untuk berlagak bodoh dan lelet. Sebenarnya tujuanku sih biar ga kaku-kaku amat kayak kanebo kering. Suara kikikkanku membuat bu Icha melirik sengit, yang membuatku semakin mengatupkan bibirku menahan tawa. tok tok tok.. "masuk!" terdengar suara dari dalam ruangan pintu yang diketuk. Bu Icha membuka pintu perlahan. "permisi pak Andres.. mau memperkenalkan sekretaris utama bapak yang baru. Pindahan dari Head Office." suara bu Icha masih dapat kudengar dari balik pintu. entah apa jawaban pak bos di dalam, yang pasti bu Icha mengintip kembali keluar sambil memberi kode aku untuk masuk. Aku berdehem sejenak kemudian menegapkan langkahku agar terlihat anggun dan percaya diri. Aku yakin dengan penampilanku yang sudah sangat aku persiapkan ini. Ya iyalah.. sekretaris utama gitu loh.. walaupun bukan di HO hehehe. Begitu masuk ruangan, aku hanya menatap pada sesosok pria yang duduk di meja kebesarannya, yang begitu melihatku masuk langsung tersenyum ramah dan berdiri menyambut. "Hai.. kamu pasti Masayu kan? Pak Johan telah memberitahukan pemindahanmu ini sejak seminggu yang lalu." Sambut laki-laki itu dengan ramah dan berjalan mendekatiku. Ya ampun.. Aku tak bisa memindahkan tatapanku darinya. Kayak lagi dipatok mata ini. Dia.. pak Andres, yang namanya sering di sebut sebut di Head Office dulu sebelum aku dipindahkan ke sini. Banyak sekali pegawai yang mengidolakannya, baik pria ataupun wanita. Para pria sangat mengidolakan pak Andres ini karena konon kabarnya beliau sangat cerdas, pintar dan brilliant. Pebisnis yang ulung, pandai bernegosiasi, dan sekian banyak prestasi lainnya yang bikin hampir semua pria di Head Office iri dengannya. Ia orang kepercayaan owner perusahaan ini yang sangat dipercaya. Kalau bahasa korea-nya itu tuh Right Hand gitu, alias tangan kanan. Sedangkan para wanita sangat mengidolakannya, tak lain dan tak bukan katanya beliau ini sangat ramah, baik hati, perhatian terhadap bawahannya dan ngguanntenggg. Nah hari ini aku membuktikannya. Ganteng banget.. dan ramah. "Selamat pagi Pak Andres. Masayu pak. Salam kenal" jawabku sambil menyambut uluran tangan pak Andres yang mengajakku bersalaman. "Semoga kamu betah bekerja sama dengan saya ya Masayu" jelasnya setelah jabatan tangan kami terlepas. Awww.. aku tersepona pona pona.. Kok aku beruntung banget punya bos ganteng begini. Bakal betah kali ya kerja disamping mahkluk ini. Aduh mata! tolong dijaga.. "Oh ya.. ruangan kamu ada di sebelah luar yang tadi mungkin sempat kamu lewati. Nanti bu Icha akan mengantar kamu kesana." "Baik pak. Terimakasih" Jawabku sambil balik menatap pak Andres yang aku tahu sejak dari aku masuk tadi matanya tak lepas memandangku. Pak Andres, tingginya mungkin sekitar 175cm, lumayan tinggi untuk orang indonesia, tapi tak terlalu berbeda jauh denganku yang memiliki tinggi badan 168cm. Wajahnya terlihat sangat pribumi, dengan kulit yang putih bersih. Hidungnya mancung standard, cocok lah dengan wajahnya yang simetris. Garis rahangnya tegas, dan kokoh, seperti sifatnya yang pekerja keras dan ambisius. Tapi.. selain ganteng.. aduh semoga feelingku salah, aku khawatir akan sering disuruh lembur nih mengingat sifatnya yang tadi aku sebutkan itu. Oh iya, aura di ruangannya juga terasa aneh bagiku. Namun aku masih belum mengerti apa yang aneh. Atau mungkinkah hanya perasaanku saja? Masih merasa beruntung?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN