Aku membuka email terbaru yang dikirim oleh Raid. Muncul data pribadi oknum yang mengganggu Masayu tadi malam. Aku membacanya dan mencoba mempelajari profilenya. Setelah aku merasa paham, aku beralih ke email Raid berikutnya. Transaksi kemarin.
Aku buka email itu, terlihat foto seorang wanita yang mungkin berusia awal 40an, lokasi transaksi, dan juga profile wanita itu. Ooh.. orang kaya. Aku tersenyum sinis, target Andres rupaya wanita kaya raya. Sudah lama aku tahu pekerjaan sampingan Andres, namun aku tak peduli, hanya berjaga-jaga. Apalagi saat ini dialah yang paling dipercaya ayah. Jangan sampai ia memanfaatkan kepercayaan itu menjadi sesuatu yang meresahkan.
Email ke-tiga aku buka, Laporan Keuangan startup yang kurintis dari 0 dulu yang dikirim oleh Gain. Aku membaca sekilas, dan memutuskan akan mempelajarinya besok.
Raid dan Gain adalah dua orang kakak beradik yang sangat aku percaya. Masing-masing mempunyai kelebihan tersendiri. Saat ini aku mempercayakan Gain memegang tampuk kepemimpinan startup-ku. Tentu saja tidak ada yang tahu kalau Gain adalah orangku. Tidak mungkin kan aku melepas begitu saja startup yang kurintis dengan keringat dan air mata ini jatuh ke tangan orang-orang yang tidak kompeten.
***
"Den Buana.. bangun den.. sudah jam 9, ada temennya den nungguin dari tadi" Kata mbok Nini yang sedang berada di kamarku.
Aku masih ingin tidur sebenarnya, tapi ini memang jam-nya mbok Nini membangunkanku. Aku sudah berpesan kepadanya agar setiap hari membangunkanku pukul 9 pagi. Jangan kurang dari jam 9, bisa aku amuk nanti.
"Keluarlah mbok.. aku sudah bangun" Jawabku sambil masih bermalas-malasan di bawah gulungan bed cover tebal dan nyaman.
"Eh tapi ada temennya nungguin ya den.." Mbok Nini agak takut-takut.
"Saya nggak punya teman mbok.. lagian siapa sih pagi-pagi begini?" Aku membalikkan badanku dengan sedikit kesal.
"Cantik den.. Ayu.. kayak namanya" Mbok Nini terlihat senyum-senyum tidak jelas.
Aku segera bangun dan duduk dengan wajah malasku.
"Ck..! Ya udah mbok.. saya temuin deh.. siapa sih.. ganggu bener!"
Akhirnya mbok Nini meninggalkan kamar, aku dengan malas bangkit dan hendak keluar kamar tanpa mempedulikan penampilanku yang 'wow' ini.
Tetap ketika aku buka pintu, terdengar teriakan nyaring menggema pas di telingaku. Seketika aku membuka mata karena melihat wujud itu sedang berteriak tapi matanya melotot memandangku.
"Apaan sih tarzanwati? Berisik tau ga?" Aku meneriakinya agar ia berhenti berteriak.
"Eh Orang Utan, enak aja panggil gue Tarzanwati!" Nah kan, nih cewek nyablak bener manggil aku orang utan.
Begini nih yang disebut mbok Nini 'Ayu'? Udah cocok jadi tarzan, hilang ayu-nya. Ya, dia Masayu, gadis yang aku tolong jumat malam itu.
"Lah kan emang lu tarzan.. teriak-teriak ga jelas. Lu kata ini hutan?" Jawabku tak kalah jutek.
"Emang hutan.. dan lu penunggunya, orang utan!" Untung aku masih waras kalau gak, udah aku caplok bibirnya yang sembarangan bicara. Eh.. nih otak mulai ngaco kayaknya.
"lalu mau apa lu di hutan sini? Mau gue terkam?" Sengaja bicara dengan seringai menyeramkan biar jiper tu cewek.
"Lu berpakaian yang benar sana gih! Jangan bikin gue sakit mata deh!"
Yaelah ni cewek beneran menguji kesabaran.
Emang pakaianku ga benar? Aku menunduk memperhatikan tubuhku sendiri. Astagah..!! Aku cuma menggunakan boxer sehelai aja.. pantansen dia berteriak segitunya. Ngakunya aja sakit mata, padahal demen. Matanya melotot dari tadi, padahal kalau cewek normal kan biasanya merem ya, atau menutup wajahnya menggunakan tangan, tapi yang ini barbar sekali.
"Jawab aja mau apa..? kalau sakit mata, merem aja, ngapain masih melotot? Siapa juga yang minta lu ke sini pagi-pagi?" Aku memilih mengabaikan kata katanya tadi, dan mempertanyakan tujuannya datang ke rumahku.
Gadis barbar itu manyun, sampai monyong 5 senti bibirnya. Gemesin banget, minta dicium. eh bukan.. dicubit maksudnya.
"Lo mandi aja dulu kalo gitu, gue tunggu ditempat mbok Nini ya. Jangan rupa keramas. Rambut lu dah mirip genderuwo!" Sambil berlalu gadis itu menjawab dengan seenak jidatnya.
Enak aja rambutku dibilang mirip gendruwo. Mirip dari mananya coba? Rambutku ini rajin di-shampoin, walaupun jarang creambath. Melihat dia berlalu, aku kembali masuk ke dalam kamar untuk mandi. Sekilas aku melewati depan kaca dan melihat penampakanku. Ya ampun.. memang mirip gendruwo. Rambut gondrongku mengembang karena baru bangun tidur. Biasanya sengaja aku ikat biar rapi. Tapi kalau tidur ya gak pernah pakai ikatan rambut.
Sedikit penasaran terbersit dalam hatiku, mau apa gadis itu datang ke sini? untung tidak ada ayah dan kakakku. Kalau ada mereka, habis sudah pasti aku akan dihina habis-habisan di depan gadis itu. Mungkin setelah itu gadis ini akan kapok muncul lagi di sini, dan menurutku gadis itu memang tak perlu datang lagi.
Aku dengan cepat menyelesaikan mandiku, berganti baju seperti biasa, karena jam 10 aku tetap akan pergi ke apartemenku. Baju kaos hitam, celana panjang hitam, dan jaket kulit hitam sudah menjadi seragamku setiap hari. Aku tak ingin warna lain, hanya hitam, sehitam hidupku.
Setelah selesai bersiap, aku mulai keluar kamar dan bersiap menuju motorku. Soal gadis itu, biarkan saja lah.. aku malas menemuinya. Aku berharap dia sudah pulang, kembali ke rumahnya, daripada rese dihadapanku.
"Eh Mas Buana mau kemana?" Suara itu muncul begitu aku membuka pintu samping menuju ke garasi.
Suerr nih cewek kayak jelangkung, datang tak diundang, pulang tak diantar. Aku melirik sekilas ke arah bawah, apakah kakinya masih napak gak tuh. Begitu lihat dia napak, aman. Aku mengacuhkannya, tetap melanjutkan langkahku keluar dari pintu samping menuju ke garasi.
"Eh mas kok gue dicuekin sih?"
Masayu mengejarku yang masih mengacuhkannya.
"Ih ga sopan banget sih, tamunya datang malah ditinggal pergi!"
Apa? Tamu katanya?
"Ga terima tamu!" Jawabku cuek aja sambil menaiki motorku dan bersiap untuk pergi.
"Gue ikut!" Masayu spontan menaiki boncengan motorku. Wah nekad sekali dia.
"Turun!"
"Gak mau!"
"Turun, kalau gak mau nyesal!"
"bodo!"
wah.. beneran keras kepala gadis ini.
"Baiklah.. terserah lo, jangan menyesal nanti ya!" Ancamku yang kemudian turun dari motor, berjalan menuju rak di ujung garasi, dan mengambil sebuah helm yang tidak terlalu besar.
"Pakai nih kalau masih sayang sama kepala lo" Ujarku sambil memberikan helm yang langsung dipakai Masayu.
Aku kembali mengendarai motorku, membawa motor ini keluar dari garasi, sambil menunggu bang Mardi membuka gerbang.
Bang Mardi melongo melihatku yang memboncengi perempuan.
"Lah.. mbak Ayu udah bonceng-boncengan nih sama mas buana?" Ledek bang Mardi ke Ayu.
Entah apa tanggapan Ayu, aku tak tau, dan tak peduli. Langsung saja kubawa motorku melesat meninggalkan rumah ayah.
***
Kami berhenti di pinggir jalan yang agak sepi. Ayu turun dengan linglung dan langsung melepas helm-nya. Ia langsung meraup udara dengan rakus dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Mas! lo mau kita mati ya? bawa motor kenceng amat!" Ucap Ayu ngos ngosan. Aku masih dapat melihat tangannya gemetar walaupun halus sekali.
"Kan udah gue bilang, jangan nyesel!" Bantahku simple.
Sebenarnya aku kasihan melihatnya yang ketakutan. Tapi salah dia sendiri mau sok-sok-an membonceng padahal sudah aku peringatkan. Mudah mudahan setelah ini dia kapok dan menjauhiku.
Aku masih mengingat betapa ia memelukku kencang-kencang ketika aku mulai melaju dengan terlalu cepat. Tangannya berkeringan dingin dan mencengkram jaketku dengan erat. Bukannya modus ya, tapi beginilah caraku berkendara.
"Gue masih mau hidup!" Suaranya lirih sekali.
"Itu urusan lo!" Aku membuang muka dan membelakanginya.
"Jangan dekati gue lagi, kalau mau umur lo panjang. Sekarang pulanglah!" Lanjutku dengan dingin dan berusaha untuk tak melihat wajahnya. Aku takut berubah pikiran untuk mengusirnya dari hidupku.
"Lo mo tinggalin gue di sini?" Ku dengar Ayu mulai bertanya dengan lirih.
"Lo ga sanggup ikut gue kan?" Aku malah balik bertanya, kali ini sambil membalikkan badanku untuk melihat ekspresinya.
Wajahnya yang masih ketakutan itu mencoba tetap bertahan untuk tenang. Kulihat ia menelan ludahnya beberapa kali dan terlihat ragu-ragu
"Ikut, gue tetap ikut lo!" Putusnya akhirnya.
"Yakin?" Tanyaku sekali lagi.
"Iyah.. yakin!" jawab Ayu yang terlihat sekali mencoba optimis.
Aku hargai usahanya. Baiklah, mari kita lihat sampai sejauh mana ia sanggup bersamaku.