"Sabar ya Ay.. semuanya ada waktunya. Sekarang kita masih belum bisa bersama dulu. Masih banyak hal yang harus aku selesaikan dulu sebelum menuju ke arahmu." Jelas Buana pada Ayu yang masih memasang wajah sedih. "Ayu ga nyangka mas, kalau masalah kamu begitu pelik." Lirihnya. Buana terdiam. Dalam pikirannya banyak pertanyaan yang berkecamuk. Seharusnya ia menjalani hari-harinya dengan normal dengan Ayu. Namun keadaannya tak memungkinkan. Ia harus bergerak cepat. Banyak rahasia yang harus ia ungkap, berkejaran dengan waktu. *** Keesokan harinya, Buana masuk kantor seperti biasa. Sejak pagi ia sudah sibuk memeriksa beberapa proposal, termasuk dengan proposal yang dititipkan ayahnya untuk diperiksa, mengenai proposal kerja sama Mahendra Corp dengan perusahaan milik Clara Wardhana. Tampa

