#Danendra
Gue sepertinya mendengar ada yang meneriakkan nama Aira di luar perpustakaan. Tapi saat gue menoleh ke jendela perpustakaan, nggak melihat nggak ada siapapun di sana. Gue bangkit dari kursi untuk memastikan kalau gue nggak salah dengar.
“Mau ke mana?” tanya Syahila sambil menahan tangan gue.
“Keluar bentar.”
“Ini belum kelar, Daka. Selesaikan dulu soal ini. Lo bilang mesti dikumpulkan siang ini, kan? Gue soalnya nggak ada waktu hari ini karena harus ngasih les tambahan ke anaknya temen ortu angkat gue,” jelas Syahila lalu meminta gue duduk kembali.
“Bentar doang, La. Gue cuma mastiin kalo nggak salah denger aja, kok.”
“Denger apa, sih? Orang nggak ada suara apa-apa di dalam sini dari tadi.”
“Gue denger kayaknya ada yang panggil Aira di luar.”
“Nggak ada siapa-siapa. Lo salah denger. Ayo buruan kerjain. Sebentar lagi gue ganti jam pelajaran.”
Gue akhirnya kembali duduk di kursi perpustakaan. Gue sendiri juga sebenarnya nggak enak karena sudah mengganggu waktu Syahila untuk membantu mengerjakan PR. Abis gimana lagi, dong? Dia sendiri yang menawarkan. Mana si Aira makin sulit diganggu. Jadinya gue memutuskan meminta bantuan Syahila mengerjakan tugas yang baru gue ketahui tadi pagi. Karena saat pelajaran Biologi berlangsung minggu kemarin gue nggak masuk karena bangun kesiangan. Kalau dulunya Aira yang selalu mengingatkan gue supaya bangun lebih pagi karena harus menjemput dia terlebih dulu. Sejak beberapa bulan terakhir kami sudah jarang berangkat bareng. Aira menolak katanya dijemput Angel. Entah benar atau dianya yang ngibul bawa-bawa nama gue.
Setelah bel istirahat bunyi gue mengambil kesempatan ini untuk bergegas membereskan buku-buku yang menjadi referensi gue dalam mengerjakan tugas Biologi yang harus dikumpulkan siang nanti. Gue bahkan nggak menolak saat Syahila mengajak gue untuk menghabiskan waktu istirahat di kantin atas. Gue penasaran sudah sedekat apa Aira dan Titanium itu.
Sesampainya di kantin atas gue lihat Aira sedang berada di kursi paling pojok bersama Titanium. Tapi dia nggak sendirian. Ada beberapa siswa siswi lain tapi pasti kakak kelas karena gue juga nggak pernah lihat salah satunya selain Aira. Posisi Aira saat ini sedang membelakangi gue. Yang melihat kedatangan gue justru Titanium. Gue yakin cowok itu ngasih tahu Aira soal keberadaan gue di kantin atas, karena sedetik setelah tatapan gue dan Titanium bertemu, Aira menoleh dan tatapan gue beralih padanya.
Syahila mengajak gue di set kursi yang berseberangan dengan posisi duduk Aira. Karena gue nggak pernah tahu sistem jual beli di kantin atas, terpaksa gue mengikuti apa kata Syahila. Ternyata kalau di kantin atas menggunakan kartu siswa yang sudah diisi saldo deposit. Dan pembelian semua makanan maupun minuman yang ada di kantin atas menggunakan kartu. Kalau saldo sedang kosong bisa membeli di gerai kesiswaan. Gue baru tahu fungsi id card ternyata sebanyak itu. Gue kira selama ini hanya berfungsi sebagai kartu pengenal, bukti kalau gue sekolah di BHS doang. Juga sebagai akses keluar masuk gerbang sekolah dan juga tempat parkir.
“Lo mau makan apa?” tanya Syahila sambil melihat ke arah stand-stand makanan dan minuman dari tempat duduk kami.
“Yang ringan-ringan aja kayak roti. Minumnya air mineral dingin aja,” jawab gue.
“Oke, gue pesenin.”
“Sorry ya, id card gue beneran gue tinggal di loker. Lagian gue juga nggak tahu kalau sistem pembayarannya seperti ini,” jelas gue.
“Iya, santai aja,” balas Syahila kemudian beranjak dari kursinya.
Pandangan gue kembali tertuju pada Aira. Dia terlihat nggak terlalu banyak bicara. Cewek moody-an itu mendadak kalem ketika berada di tengah-tengah Titanium dan komunitasnya. Kalau diajak gabung main sama komunitas gue aja dia nolak melulu.
“Temen lo sama temen gue makin akrab kayaknya,” komentar gue sesaat setelah Syahila kembali ke tempat duduknya.
“Iya. Setiap hari gue lihat dia ada di sini,” balas Syahila.
“Emm…pantes.”
Syahila hanya menatap penuh tanya pada gue tanpa berkomentar apa pun. Nggak lama kemudian pesanan kami datang. Anehnya sampai makanan gue datang meja di hadapan Aira itu kosong. Nggak ada bekas makanan maupun minuman di sana. Sementara jam istirahat saja baru berlangsung selama lima menit. Bahkan sampai gue mengakhiri acara makan gue, belum lihat Aira makan apa pun. Pantes waktu itu pentol gue diembat sama dia. Sepertinya dia bohong sama gue soal sudah makan di kantin atas. Gue juga ngerasa akhir-akhir ini Aira agak sedikit kurus. Seperti kurang seger wajahnya.
Setelah lebih dari lima belas menit berlalu dan Syahila juga sudah selesai makannya, gue pamit meninggalkan kantin atas untuk kembali ke kelas gue. Syahila ikut beranjak dari kursi karena katanya sekalian mau kembali ke kelasnya.
“Jadi nanti malam lo nggak bisa diganggu?” tanya gue setelah berada di depan kelas Syahila.
“Iya, nggak apa-apa, ya. Nanti malam udah mulai jadwal les private karena sudah dekat ujian kenaikan kelas.”
“Trus, lo kapan bisa ditemui?”
“Baru bisa minggu depan. Karena weekend ini gue ikut kelompok belajar bersama di rumah temen.”
“Perlu gue antar?”
“Ngerepotin nggak?”
“Ya, enggaklah.”
“Nanti ada yang nggak suka kalo lo sering bareng gue, apalagi antar jemput gue ke mana-mana.”
“Lo kali yang gitu.”
“Nggak ada, kok. Lo tuh yang banyak penggemarnya.”
Gue terkekeh-kekeh mendengar komentar dari Syahila. “Kok, jadi gue? Bukannya lo, ya, yang banyak fansnya? Cantik, jenius, ketua forum keputrian plus ketua Rohis. Kurang apa lagi coba?”
“Tapi gue nggak punya standar kecantikan versi cewek-cewek BHS.”
Gue mengedikkan bahu. Nggak mengerti dengan maksud ucapan Syahila. Bukannya memberi penjelasan dia malah tersenyum geli melihat ekspresi bingung gue.
“Emang apa standar kecantikannya?” tanya gue penasaran.
“Putih, tinggi, langsing dan fashionable. Seperti itu, itu, dan banyak lagi,” ujar Syahila sambil menunjuk ke arah siswi-siswi yang baru saja keluar dari lift, keluar dari kelas dan cewek yang baru saja melewati pintu kelas Syahila. Semuanya memang memiliki kriteria yang dikatakan oleh Syahila. Tinggi, putih, dan langsing. Kalau fashionable gue kurang paham karena mereka mengenakan seragam yang nggak ada bedanya satu sama lain. Tiba-tiba gue kepikiran omongan Angel dan Zara yang waktu itu sempat membahas soal Aira yang selalu gue ledek kurang tinggi, kurang putih dan kurang cantik.
“Lo ngelamunin apa, Daka?” tegur Syahila sambil memukul pelan bahu gue.
Gue sedikit terkejut kemudian menyeringai polos. “Ya, sih, mereka semua cantik, tinggi dan putih. Tapi kalo nggak pinter-pinter amat dan kalo diajak ngobrol nggak nyambung juga B aja buat gue.”
“Jadi lo sukanya sama yang pinter juga.”
“Iyalah. Sama yang nyambung juga. Cantik kalo nggak nyambung kan percuma tak berguna.”
Syahila tertawa mendengar ucapan gue. “Lo bisa aja. Trus jadinya ada yang marah atau nggak kalau lo gue repotin?” tanya Syahila untuk memastikan.
“Nggak ada, Lala. Santai aja lagi. Gue beneran free, kok.”
“Kalau lo sama Almeira? Kira-kira kalian ada hubungan spesial, nggak?”
“Gue sahabatan doang sama Aira.”
“Oh, nama panggilannya Aira,” gumam Syahila.
Gue hanya mengangguk diiringi senyum ringan. Bertepatan dengan itu gue menemukan Aira sedang menapaki tangga ke arah turun dari kantin atas. Ekor mata gue terus mengikuti pergerakan Aira. Dia berhenti di pintu lift. Gue kira Titanium akan ikut turun seperti waktu itu. Rupanya gue salah duga saat melihat Titanium berjalan menuju arah gue.
“Gue balik kelas dulu, ya, La. Nanti gue tunggu di tempat biasa aja pulangnya,” ujar gue. “Oiya, lupa. Thanks banget udah bantu gue ngerjain tugas dan juga traktiran makan siangnya. Nanti gue traktir lo balik.”
“Nggak usah sungkan gitu, Daka.”
Syahila nggak menghalangi niat gue dan mempersilakan gue kembali ke kelas. Sesampainya di lorong, gue berpapasan dengan Titanium yang sedang berjalan menuju kelasnya bersama beberapa siswa lain yang gue tebak masih satu kelompok atau se-genk. Dia sama sekali nggak menyapa gue. Sementara gue sendiri lupa, apa pernah kenalan secara resmi atau nggak selama ini dengan Titan. Jadinya gue pilih untuk sedikit mengangguk sopan tanpa basa basi menyapa lewat sapaan yang seharusnya.
~~~
^vee^