Pertanyaan Kaisar membuat Jasmine merasakan terjebak. Dia salah tingkah karena ternyata semua yang dilakukan Reynald karena perintah Kaisar
Disana hanya Aura yang terlihat sedang kebingungan. Setelah dia kembali, dia langsung di hadapkan dengan penyerangan dari Meisya dan Bella yang lagi lagi membuatnya terluka. Dan sekarang dia baru tahu kalau Jasmine adalah kekasih Reynald.
"Wah, plot twist sekali." gumam Aura.
Jasmine meneguk ludahnya kasar, berbeda dengan Reynald yang tetap tenang. Dari awal dia tak bersalah, jadi dia mendiamkan Jasmine begitu saja. Terlebih semua tuduhan Jasmine kepadanya tak terbukti. Reynald hanya ingin Jasmine menemukan semua buktinya sendiri.
"Jadi, selingkuh dengan siapa?" tanya Aura penasaran.
"Kamu!"
"Hah?"
Aura spontan mendelik ke arah Reynald yang baru saja menjawabnya dengan cepat.
Aura menunjuk dirinya sendiri lalu beralih pada Jasmine meminta penjelasan.
Jasmine yang mendapat tatapan menyeramkan dari Aura meneguk ludahnya kasar.
"Kemarin waktu aku nggak tahu kamu terluka, aku lihat Reynald beliin baju cewek. Dan pas aku hubungi dia nggak respon. Aku cari ke apartemen dia nggak ada. Tahu tahu dia udah ada di kantor sama Kaisar. Dia nggak jelasin apa apa." cicit Jasmine takut.
Reynald masih terlihat tenang saat ini karena memang dia tak melakukan kesalahan apa apa. Berniat selingkuh juga tak ada sedikitpun.
Aura menghela napas panjang, bisa bisa nya Jasmine seperti itu. Ingin rasanya dia tertawa mendengar semua pikiran Jasmine.
"Kamu secinta itu ya sama Reynald? Sok cool gitu? Kalau dia gitu lagi, nggak perlu lah kamu nuduh dia. Apalagi di cariin nggak ngabarin juga kan? Mending langsung di tinggal aja. Kayak nggak ada cowok lain."
Mata Kaisar membola mendengar itu, Reynald yang sejak tadi diam pun langsung gusar. Bisa bisa nya Aura mengatakan hal seperti itu secara blak blakan. Reynald niatnya menghukum Jasmine tapi Aura malah mengajari Jasmine.
"Ra, jangan ngomong aneh aneh dong." protes Reynald.
"Aku nggak ngomong aneh aneh ya, lagian ngapain sok Sokan cool diem gitu? Sok ganteng kamu?" balas Aura.
Reynald semakin panik, Kaisar yang ada di sebelah Aura menjadi bingung kenapa Reynald menjadi panik. Dia juga langsung berdiri menarik tangan Jasmine. Membawanya pergi dari sana. Aura yang melihat itu menahan tawanya, lalu saat Reynald dan Jasmine pergi tawa itu meledak begitu saja.
"Kamu ngerjain Reynald?"
Aura menggeleng, dia kembali ke mode tenang dan dingin.
"Masalah seperti itu kenapa harus putus? Sebuah hubungan itu kuncinya komunikasi, percaya dan jujur. Dan yang terpenting harus ada rasa aman. Kalau empat hal itu belum siap dan belum ada, bukannya lebih baik nggak bangun hubungan?"
Kaisar terdiam dengan jawaban Aura. Dia baru mendengar jika ada cewek yang bersikap realistis seperti Aura. Tak memakai hati terlalu dalam.
Aura menikmati minuman yang ada di depannya. Saat Kaisar ingin mendekat ke arah Aura, ponselnya berdering.
Nama Meisya muncul di layar ponsel Kaisar.
Mereka berdua hanya melihat, terutama Kaisar yang membiarkan ponselnya terus berbunyi.
Karena Meisya terus mengirim spam chat dan juga telfon, akhirnya Kaisar mematikan telfon itu.
"Ayo pulang, takutnya tiba tiba dia nekat dan datang kesini."
Aura mengikuti Kaisar yang keluar dari ruangan itu. Semua anak buah Kaisar berjaga di restoran itu sesuai perintah Kaisar. Mereka pergi melewati jalur khusus bukan lewat pintu utama.
Kaisar sudah mengambil alih restoran itu demi rencana Aura. Tapi bukan berarti Kaisar juga ingin menghambur kan uangnya. Restoran itu tetap berjalan seperti biasa dengan beberapa orang tambahan disana.
Dalam perjalanan pulang, Aura terlihat hanya diam saja dan itu mengusik Kaisar.
"Kenapa?"
"Nenek kamu kenapa bisa sesayang itu sama Meisya. Dan aku masih penasaran, kenapa tiba tiba kamu di jodohkan sama dia?"
Kaisar sendiri tak bisa memberi jawaban yang pasti karena dia belum menemukan alasan neneknya memaksanya bersama Meisya.
Aura yang melihat Kaisar hanya diam saja semakin penasaran. Apa yang terjadi pada Melati sampai dia menyukai Meisya yang punya treck record negatif.
"Aura, aku nggak bisa jawab sekarang. Karena beberapa waktu lalu saat nenek kembali kesini, Meisya tiba tiba datang bersamanya. Saat aku dan orang tua ku bertanya, nenek hanya diam saja. Dan dia tiba tiba minta aku untuk bersama Meisya. Saat aku menolak, nenek terkena serangan jantung. Beberapa kali aku menolak menemui Meisya dia selalu seperti itu. Akhirnya aku menuruti semua keinginan nenek."
Aura mencerna semuanya, terasa aneh semua cerita dari Kaisar. Dan anehnya, keluarga Kaisar langsung senang dengan Meisya.
"Lalu orang tuamu?"
"Mereka jelas tak setuju, tapi sementara ini kami hanya diam saja. Bukan yang diam, aku yang cari semua bukti dan alasan utama kenapa nenek memaksaku bersama Meisya."
Aura hanya diam, sepertinya ada yang aneh menurut Aura. Tapi saat ini dia tak bisa memikirkan itu terlalu jauh. Dia harus fokus membalas Meisya dan mereka yang sudah bikin dia di ambang hidup dan mati.
Kaisar melirik Aura yang kembali diam, saat ini mereka pulang ke apartemen. Melewati jalur khusus agar tak ada yang tahu.
Saat berada di basement apartemen, Kaisar mengambil ponselnya. Saat dia menyalakannya, dia berpikir jika Meisya tak akan mengganggunya lagi. Tapi ternyata Meisya masih terus menghubungi nya seperti orang gila.
Apalagi saat tahu ponsel Kaisar kembali menyala.
Aura yang melihat itu melirik sekilas, dia enggan mengurusnya saat ini. Tapi berbeda dengan Kaisar. Tiba tiba dia melempar keluar ponsel itu sampai ponsel itu pecah berkeping-keping.
Pyar......
"Woah...... "
Kaisar melepaskan sabuk pengaman nya lalu duduk menyamping ke arah Aura.
"Nggak mau kasih aku hadiah?" tanya Kaisar.
Aura memindai wajah Kaisar, lalu jari telunjuknya bergerak ke dagu Kaisar. Menarik dagu itu agar lebih dekat.
Seringai menggoda terbit di wajah Aura.
"Mau hadiah apa? Bukannya uang mu sudah banyak tuan muda Kaisar?"
Saat ini wajah mereka berdua sangat dekat, satu sama lain bisa merasakan hembusan napasnya bergantian.
Hidung mereka berdua nyaris bersentuhan.
Mata mereka saling tatap dengan rasa kagum masing masing di hati mereka.
"Apapun akan aku terima." bisik Kaisar lirih.
Aura mencium Kaisar, tangan Kaisar menahan tengkuk Aura agar ciuman mereka lebih dalam. Saling membelit lidah satu sama lain. Dan tak ada yang mau melepaskan.
Ciuman Kaisar merembet ke leher Aura, tangan Kaisar mengusap lembut paha Aura.
Tapi tangan Aura menahannya dan menghentikan ciuman mereka.
Napas mereka terengah dengan kening yang saling bersentuhan.
"Kamu mengajakku bercinta di mobil tuan muda?" tanya Aura dengan napas yang masih memburu.
Kaisar tersenyum, lalu dengan cepat dia membuka pintu mobil dan berjalan ke pintu sampingnya. Dia mengangkat Aura dan membawanya masuk ke dalam unit miliknya. Unit bagian atas tempat khusus untuk Kaisar. Membuka pintu apartemen dengan tak sabar.
Kaisar kembali mencium Aura saat pintu apartemen tertutup rapat. Menghimpit tubuh Aura yang lebih mungil dari nya ke dinding. Ciuman itu semakin panas karena Aura membalas tak kalah panasnya.
Ruangan ber AC yang semula dingin menjadi panas karena dua orang yang baru saja masuk.
Kaisar sudah melempar jaketnya ke sembarang arah. Mengangkat tubuh Aura, lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya. Menghimpit Aura kembali ke dekat jendela dengan posisi Aura membelakanginya.
Perlahan, ciuman Kaisar berpindah ke pundak Aura. Membuka satu persatu tali baju Aura sampai baju Aira terlepas. Meninggalkan penutup bagian intinya.
Kaisar menghentikan ciumannya.
"Kai ... jangan di lihat."
Aura ingin berbalik, tapi Kaisar menahannya dengan posisi yang sama. Hati Kaisar tetap berdenyut meskipun dia pernah melihat bekas luka luka itu.
Tangan Kaisar mengusap lembut semua luka itu. Aura menutup matanya, menahan diri agar tak mengeluarkan suaranya.
"Kai.... please ... jangan di lihatin. Kamu jijik nantinya .... ahh......"
Belum selesai Aura bicara, bibir Kaisar lebih dulu menempel di punggung itu. Mencium satu persatu bekas luka milik Aura. Tak ada yang tersisa dan tak membuat Kaisar jijik pada tubuh Aura.
"Setelah urusanmu selesai, kita bersihkan semua luka ini sayang. Membuat tubuhmu lebih indah lagi." bisik Kaisar dengan suara serak dan berat.
"Tak hanya itu, aku juga ingin kamu melupakan semua sakit yang kamu alami."
Aura tak lagi bisa berpikir dengan jernih, karena tangan Kaisar sudah berpindah ke depan. Mengusap titik sensitif milik Aura. Bibir Kaisar mencium telinga Aura dan menjalar ke leher.
Tangan Kaisar semakin brutal dibawah sana. Aura juga bisa merasakan jika ada sesuatu yang menonjol dan keras di balik celana Kaisar.
"Rasakan sayang, dan jangan pernah lupa dengan apa yang aku kasih malam ini."
to be continued