Bab 9

1303 Kata
Kaisar tak menjawab, tapi melakukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk pergi dari sana. Aura hanya diam disebelahnya. Memeriksa ponselnya yang mendapat pesan dari Jasmine. Lalu dia melihat sekeliling, kembali ke ponselnya. Dia menoleh ke arah Kaisar yang sejak tadi hanya diam saja. "Mau ke apartemen?" tanya Aura tanpa basa basi. Ckit..... Duk.... Kening Aura hampir saja membentur dashboard mobil. Tapi ternyata tangan Kaisar yang menahan kening Aura. Aura membuka matanya, dan melihat di depan keningnya masih ada tangan Kaisar. Aura lalu menatap Kaisar aneh. "Ngapain sih kamu berhenti mendadak?" omel Aura. Kaisar duduk menyamping ke arah Aura. "Kamu kenapa tahu kok mau ke apartemen?" Aura memegang ponselnya, menunjukkan alamat Kaisar yang dj beritahu oleh Jasmine. "Kalau gitu sekalian aku ambil mobilku!" Kaisar menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum. Dia tak lagi bertanya, dia memilih melanjutkan melajukan mobilnya ke apartemen. Aura yang melihat sikap Kaisar menatap aneh. Tapi dia memilih membiarkan Kaisar tanpa ingin berdebat lagi. # Ternyata perjalan ke apartemen Kaisar membutuhkan waktu yang tak lama. Saat ada basement, Aura melihat mobilnya terparkir rapi di parkiran. Dia keluar dari mobil Kaisar, tapi dia lupa kunci mobilnya masih ada pada Kaisar. Aura menengadahkan tangannya ke arah Kaisar. Tapi Kaisar malah meninggalkan Aura begitu saja. "Apa maksudnya ekspresi itu? Kenapa malah ninggalin aku disini?" Aura merasa aneh dengan Kaisar, tapi dia tetap mengikuti Kaisar masuk ke dalam apartemen Kaisar. Saat berada dalam lift, mereka tak hanya berdua. Tiba tiba ada segerombolan orang masuk dan membuat tubuh Aura terdorong. Beruntung Kaisar menahannya, jika tidak luka Aura akan kembali terbentur. Kaisar menarik tubuh Aura agar mendekat ke arahnya. Aura menurut, karena memang posisinya sedang banyak orang. Setelah itu saat sampai di lantai apartemen Kaisar, kembali mata Aura membola. Bagaimana tidak, tiba tiba Kaisar menggandeng tangannya. "Duduk dulu, aku mau ganti pakaian!" Aura duduk di sofa ruang tengah, mengamati semua isi ruangan yang dominan berwarna silver. Khas cowok dan juga beberapa hiasan dinding. Tapi Aura merasa aneh karena tak melihat foto Meisya sama sekali. "Mereka pacaran udah lama tapi tak ada fotonya sama sekali." gumam Aura pelan. Dia berjalan mengitari ruangan itu, sampai matanya tertuju pada sebuah lukisan yang menarik perhatiannya. Aura mendekat, jantungnya berdetak kencang. Karena dia kenal sekali dengan lukisan itu. "Ini lukisan ku." Aura menyentuh lukisan itu dengan tangannya yang gemetar. Kaisar yang baru keluar dari kamarnya mencari keberadaan Aura. Lalu langkahnya terhenti saat melihat Aura berdiri di depan lukisan favoritnya. Dalam lukisan itu, ada sepasang orang yang duduk di sebuah bukit yang hijau, berada di bawah langit yang cerah. "Kamu suka lukisan itu?" Aura berbalik, dia melihat Kaisar yang berdiri tak jauh darinya. Aura menggeleng sebagai jawaban. Dia berjalan ke arah Kaisar, kembali meminta kunci mobilnya pada Kaisar. Tapi Kaisar tak kunjung memberikannya. "Kalau kamu nggak mau kasih juga nggak apa apa, aku kasih mobilnya sama kamu." ucap Aura santai. Sret.... "Apa yang kamu lakuin?" pekik Aura. Pinggangnya di peluk oleh Kaisar agar jarak mereka semakin dekat. "Aku nggak butuh mobil kamu, mobilku udah banyak." Aura menaikkan sebelah alisnya, "Lalu kenapa kamu nggak kasih kunci mobilku?" Mata Kaisar memindai wajah Aura yang sejak tadi terlihat tenang. Tapi Kaisar tahu, di dalam sorot mata itu ada banyak kesakitan dan juga kecewa. Tapi Kaisar tak pernah tahu apa yang di rasakan oleh Aura sebenarnya. "Kenapa tadi pagi langsung pergi?" Aura diam, dia lalu ingat jika dia memang tak menunggu Kaisar di rumah Amara. Lalu Aura mulai paham, kenapa tiba tiba Kaisar ada di rumahnya. Tangan Aura menyentuh rahang Kaisar yang membuat bola mata Kaisar membesar. "Kamu nyari aku, sampai repot repot datang ke rumah?" Tatapan mata Aura sudah berbeda, dan Kaisar tahu arti tatapan itu. Tapi Kaisar menikmati permainan yang diciptakan oleh Aura saat ini. Kaisar menangkap tangan Aura yang sudah sampai di dadanya. "Kalau aku memang mencarimu, kamu keberatan?" Aura terdiam, dugaannya benar jika Kaisar benar benar mencarinya. Lalu Aura tersenyum, dia membalas tatapan Kaisar yang sejak tadi tak lepas dari wajahnya. "Kamu nggak takut tunangan mu tahu?" Kaisar tersenyum miring ke arah Aura, dan perlahan wajahnya mendekat. Hidung Kaisar mengendus leher Aura bahkan bergerak pelan disana. Tubuh Aura sempat menegang karena apa yang di lakukan Kaisar saat ini. Dia menggigit bibir bawahnya agar tak terlena dengan permainan Kaisar. "Aku nggak pernah tunangan sama dia!" Kaisar menjauhkan wajahnya, lalu menunjuk telapak tangannya sendiri yang tak mengenakan cincin sama sekali. Disana hanya ada cincin Aksesoris favorit Kaisar. Dia melepaskannya, lalu meraih tangan Aura. Menyematkan cincin itu di tangan Aura. Aura sontak mendorong tubuh Kaisar pelan. Dia melihat jarinya yang sudah memakai cincin dari Kaisar. "Apa yang kamu lakukan?" "Itu baru yang namanya tunangan." jawab Kaisar santai. Mata Aura melotot, dia ingin melepaskan cincin itu tapi tangan Kaisar sudah meraih tangan Aura lalu menggenggamnya. "Jangan sampai kamu melepasnya, bareng sedetikpun." Aura melihat Kaisar penuh tanda tanya karena Kaisar berusaha mengikatnya dengan cincin itu. "Apa maksud mu?" Kaisar tak menjawab, dia dengan cepat menyambar bibir Aura, mengunci bibir itu agar tak terlalu banyak bertanya. Mata Aura melebar, dia berusaha mendorong Kaisar tapi tenaganya kalah dengan Kaisar. Kaisar menahan pinggang Aura agar Aura tak menjauh. Tapi kemudian, Aura meringis kesakitan. Seketika itu juga Kaisar melepaskan ciumannya. Membalik tubuh Aura. Di pinggang itu bercak darah kembali keluar. "Sial, aku kelepasan!" umpat Kaisar. Lalu Kaisar membawa Aura masuk ke dalam kamarnya. Menyuruh Aura untuk duduk di ranjang miliknya. Sementara dia mengambil kotak obat dan juga salep luka miliknya. Aura hanya diam melihat apa yang di lakukan Kaisar. "Buka bajumu!" Aura beringsut mundur, dia tak peduli dengan lukanya. Dia sudah bersiap menghajar Kaisar jika Kaisar berniat macam macam dengan nya. Kaisar yang melihat wajah ketakutan Aura menyentil kening Aura pelan. "Kenapa menjauh? Apa yang ada di otakmu itu? Dan lagi aku nggak tertarik mau ajak kamu tidur pas masih ada luka di tubuhmu!" Kaisar terlalu blak blakan saat ini, dan semua perkataan Kaisar membuat wajah Aura panas. Perlahan Aura berbalik dan melepaskan kancing bajunya. Dan terlihat lah punggung Aura yang penuh dengan bekas luka itu. Kali ini Kaisar lebih jelas melihatnya. Dia menahan diri untuk tak mengamuk saat ini. Tangannya dengan lembut membuka perban Aura mengoleskan obat yang membuat Aura kembali meringis kesakitan. "Kamu hanya tertusuk sekali, tapi kenapa tubuhmu penuh luka?" Kaisar yang tak bisa menahan diri akhirnya mengeluarkan suaranya untuk bicara. "Kenapa kamu ingin tahu?" pancing Aura. Dia sudah menggigit bibir bawahnya karena sentuhan tak sengaja dari jari Kaisar. "Jika aku tahu pelakunya, aku akan membantumu membalasnya!!" Tangan Kaisar spontan bergerak sendiri mengobati luka Aura yang lainnya. "Sama seperti yang kemarin. Di lakukan sebelum aku kembali ke negara ini." Tangan Kaisar sempat terhenti mengoleskan salep itu. Lalu mengalir lah cerita dari bibir Aura. Kaisar mengumpat berkali kali, tapi dia tak ingin membuat Aura curiga. Perlahan wajah Kaisar mendekat, mencium bekas luka yang hampir hilang di pundak Aura. Mata Aura membola, dia mencengkeram bajunya erat karena tubuhnya tiba tiba panas saat Kaisar menciumnya. "Kai, apa yang kamu lakukan?" Kaisar tak menjawab, dia meneruskan apa yang tengah dia lakukan. Menciumi semua bekas luka milik Aura yang sudah kering. "Kai.... jangan ...." Suara Aura mulai bergetar karena menahan diri dengan sentuhan bibir Kaisar pada lukanya. Lalu Kaisar memeluk Aura dari belakang dengan lebih hati hati. Dia menarik dagu Aura pelan, melahap bibir Aura. Awalnya Aura ingin menolak, tapi tubuhnya berkata lain. Aura membalas ciuman Kaisar, dengan pelan Kaisar memindahkan tubuh Aura ke atas pangkuannya. Dengan posisi itu, Kaisar bisa menciumnya lebih leluasa. Saat Kaisar mulai kehilangan kendali, Aura mendorong pelan tubuh Kaisar. "Jangan Kai... ini terlalu cepat." Napas Kaisar dan Aura sama sama tersengal. "Jadi tunangan ku." Aura menatap dalam mata Kaisar. Dan Kaisar tahu apa yang ada dalam pikiran Aura saat ini. "Soal pernikahan ku, kamu nggak usah khawatir. Dari awal yang mengatur itu semua adalah nenekku. Aku masih punya waktu tiga bulan lagi." Aura tersenyum, dia mengusap lembut pipi Kaisar. "Jadi selama itu, kamu bakal jadiin aku selingkuhan kamu?" To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN