Chapter 5 : Jiwa lain

1928 Kata
Rama tergesa-gesa sampai ke rumah sakit dengan kondisi basah kuyup, dan ia lupa membawa mantel, beruntung hujan yang turun masih gerimis. Ia cukup beruntung setelah sampai di rumah sakit, hujan menjadi sangat deras. “Untung aja!” ujarnya Rama masuk ke dalam rumah sakit, baru beberapa kali ia melangkahkan kaki ke rumah sakit itu. Tiba-tiba bayangan aneh muncul seperti siluet hitam layaknya pecahan kejadian di mana ia tampak tak asing dengan rumah sakit itu. Rama…Rama bertahanlah Ramaa…. Rama seperti melihat sebuah bayangan dirinya yang saat itu dibawa dengan brankar menuju ruang gawat darurat setelah turun dari ambulance. Hiruk piruk keramaian diiringi tangisan pecah menggema di telinga. Ia bingung dengan bayangan aneh itu yang seketika kembali hilang sesaat setelah ia merasakan sakit di kepalanya. “Bayangan apa tadi?” tanyanya pada diri sendiri. Rama memegang pelipis dahinya yang masih sakit, seketika seseorang menyentuh pundaknya membuatnya kaget. “Rama!” panggil seorang perempuan Rama menoleh, rupanya yang memanggilnya adalah Yumi.”Kamu ngapain ngelamun di tengah jalan?” “Yumi?” “Iya, ini aku, kamu nyari siapa sih?” “Enggak, cuman tadi aku kaya lihat ada bayangan aneh.” “Rama, kamu halu deh. Udah ah, ayo ketemu sama mama kamu!” Yumi menarik tangan Rama segera menuju ke salah satu ruangan pasien. Rama masuk ke salah satu kamar dimana di sana ada mamanya tengah dirawat, rasa canggung dicampur kerinduan menjadi satu. Ini juga momen yang sangat ditunggu Rama setelah hari itu—kehilangan mamanya. “Tante, maaf tadi Rama. Kebetulan tadi Yumi ketemu sama Rama.” Rama berdiri di belakang Yumi, dan kini berhadapan langsung dengan mamanya. Sosok perempuan paruh baya dengan rambut sebahu itu tersenyum. “Mama!” ucapnya lirih memanggil ibu kandungnya masih hidup. “Rama!” Tak terbendung lagi, ia langsung berlari dan memeluk mamanya, seakan ia benar-benar kehilangan sosok ibu di hidupnya. “Rama rindu banget sama mama!” Yumi terlihat heran melihat sikap aneh Rama, tak seperti biasa juga ia menjadi sangat sensitif. Tapi ia memaklumi karena sudah beberapa hari Rama memang belum bertemu ibu kandungnya. “Rama seneng banget bisa ketemu lagi sama Mama.” Sosok wanita itu membalas pelukan anaknya dengan lembut, “tumben sikap kamu jadi aneh, apa ada masalah?”Tanya wanita itu Rama melepas pelukannya, ia menoleh pada Yumi yang menatapnya aneh. “Enggak kok, Rama Cuma kangen aja ngak ketemu beberapa hari ini.” “Iya Tante, Rama tuh super sibuk akhir-akhir ini,” balas Yumi Mama Rama tersenyum, ia membelai rambut Rama. Belaian yang selalu dirindukan Rama kini ia hadirkan kembali di masalalu. …. Setelah bebapa jam berbincang-bincang dengan mamanya, dan setelah jam besuk sudah usai, kini gilran Rama mengantar Yumi untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 8 malam, dan hujan sudah mulai reda. Keduanya menuju ke motor Rama, ia memberikan helm pada Yumi dan kedua pun naik motor keluar dari rumah sakit. Di tengah jalan, Yumi membuka percakapan. “Rama, tadi tuh sikap kamu aneh banget, nggak kaya biasanya, kamu baik-baik ajakan?” Rama tersenyum, “Aneh gimana, enggak kok.” “Ya habis aku nggak pernah lihat kamu bilang kaya tadi sama mama kamu, kaya nggak pernah ketemu aja.” “Aku cuman kangen aja sama mama, sama kaya kamu, kangeenn terus,” gombalnya membuat Yumi mencubit perut Rama. “Dih gombal, sejak kapan kamu jadi sok romantic gini?” “Sejak hari ini.” “Ih Rama!” Yumi kembali mencubit perut Rama membuat motor yang ditumpangi mereka oleng karena Rama tak fokus. “Aaaa Yumi, jangan dicubit dong.” “Terus diapain?” “Disayang dong!” Yumi langsung memeluk erat pinggang Rama dan meletakkan kepala di punggung Rama. Rama membalas dengan menyentuh tangan Yumi dan untuk semakin mengeratkan pelukannya pada dirinya. Tetaplah seperti ini Yumi, batinnya *** Kring, jam beker Rama yang tergeletak di dekat kasurnya membuat Rama kaget. Dan langsung mematikan alarm yang mengganggu itu. Jam menunjukkan pukul 6 pagi, ia bangun dan bergegas untuk mandi dan berangkat sekolah. 30 menit kemudian, Rama sudah siap dengan seragam putih birunya, tak lupa hoddie hitam yang selalu ia pakai. Ia melihat pantulan dirinya di cermin, sosok dirinya yang masih berusia 16 tahun, tanpa kerutan dan jerawat di pipinya. Wajahnya cukup terawat diimbangi dengan kulit putihnya. Bergegas ia memakai sepatu dan berangkat ke sekolah sebelum terlambat. Motor scoopy hitam masih menjadi kendaraan pribadinya. Saat di lampu merah. Rama dikagetkan dengan sosok perempuan yang tengah diganggu oleh preman dan taka da orang yang menolongnya. Sesaat setelah lampu kembali hijau, Rama langsung menepikan motornya. Ia melirik jam tangannya, kalau ia membantu perempuan itu, konsekuensinya ia akan terlambat masuk sekolah, tapi kalau ia tak segera menolongnya, mungkin perempua itu dalam bahaya. Rama tak peduli, ia pun memberanikan diri menemui perempuan itu dan menolongnya dari para preman itu. “Jangan mengganggunya!” “Wah sok jagoan lo, berani sama kita?” tantang preman memperlihatkan otor besarnya Rama yang hanya bermodal berani, menelan ludah melihat 2 sosok preman berbadan kekar itu. Satu pukulan telat langsung mengenai pipi Rama hingga mengeluarkan darah segar di sudur bibirnya, ia tersungkur dan langsung ditertawakan para preman. “Pengecut loh, sok berani lawan kita, hahaha…!!!” Sampai suara lantang dari belakang mengejutkan Rama. “WOI, BERANI LO SAMA TEMEN GUE!” teriak keras Nico dari kejauhan setelah memarkirkan motor di sebrang. Nico yang memang jago berantem dengan mudah melawan mereka dengan cepat. Segera ia bisa menyelamatkan Rama dan perempuan itu. “Ram, lo nggak papa kan?” Rama bangkit, “Iya gue nggak papa.” Perempuan yang masih memakai seragam sekolah sangat berterimakasih pada Rama. “M-makasih ya Kak!” “Lain kali hati-hati ya!” ucap Rama setelah perempuan itu pergi kini Nico mengurus Rama. “Sok jagoan sih lo, udah tau nggak bisa berantem, masih aja ngehadang dua preman.” “Cewek tadi diganggu Nic, masa gue diem aja?” “Gentle loh, salut gue sama lo!” “Ngomong-ngomong udah jam berapa sekarang?” NIco kaget, ia memeriksa jam tangannya. “Anjir, jam tengah 8, mati kita telat!” “Sial, yaudah berangkat berangkat!” “Bareng gue aja, motor lo ntar sopir gue yang urus!” Rama mengambil motornya dan langsung berboceng dengan motor ninja Nico yang bisa lebih cepat sampai ke sekolah. … Benar saja, sampai di sekolah gerbang sudah ditutup dan tidak mungkin mereka bisa masuk ke dalam. Nico mencoba bernegosiasi dengan satpam sekolah untuk bisa membiarkan mereka masuk ke dalam. Setelah mendapat sogokan dua batang rokok akhirnya keduanya diperbolehkan masuk ke dalam sekolah diam-diam. Awalnya Rama kaget, kenapa Nico bisa memipunyai rokok. “Lo ngerokok?”tanyanya. “Dikit doang. “Sejak kapan Nic? Kok lo nggak pernah cerita sama gue kalau lo ngerokok?” Nico tampak santai, “santai bro, gue cuman ngerokok bukan minum-minuman keras.” “Bukan masalah itu Nic, ini sekolahan.” “Iya gue tahu, makanya gue diem-diem.” “Siniin rokok lo!” “Lo mau juga?” “Bangk3, gue mau buang!” Rama langsung merampas rokok milik Nico. “Beneran lo buang Ram, sisain satu kek!” “Ini sekolahan, lo mau kena hukuman gara-gara bawa rokok ke sekolah?” “Satu doang Ram,” pintanya memohon Satu bungkus rokok milih Nico pun berakhir di tempat sampah, Nico sangat menyayangkan tindakan Rama. Namun di balik larangan Rama, Nico tahu kalau sahabatnya itu sangat mempedulikannya. “Rama, tungguin gue!” teriak Nico. “NICO, RAMA!” teriak dari ujung lorong mengejutkan mereka, keduanya enggan untuk menoleh karena dapat dipastikan kalau mereka ketahuan. “Sial, kita ketahuan.” Rama terpaksa berbalik badan, sosok badan besar dengan pakaian training olahrahga berdecak pinggang dengan raut wajah garang. “Pak Aryo!” Pak Aryo—selaku guru olahraga mereka berjalan mendekat. “Nico!” Nico yang masih membelakangi gurunya pun kini berbalik badan, dengan wajah nyengir ketakutan. “Pak Aryo.” “Kalian terlambat?” “Maaf pak Aryo, kami mengaku salah,” ucap Rama menunduk takut “Baiklah kalau kalian mengaku salah, kalian tahukan hukuman untuk siswa yang tidak disiplin?” “Kami mengerti pak!” *** Dan kini keduanya berdiri menghadap bendera di tengah lapangan yang saat ini terik, tanpa perlindungan apapun. Sementara pak Aryo melihat dari kejauhan. Nico yang sudah berdiri setengah jam mengeluh, “Sampai kapan kita berdiri di sini?” “1 jam lagi, tahan ajalah,” jawab Rama “Sialan, dasar guru nggak berperikemanusiaan. Gila panas banget hari ini,” Nico terus saja mengeluh. Rama masih di posisi yang sama dengan tangan hormat ke bendera merah putih. Peluh keringat membasahi dahinya, pandangannya sama-samar buram, mungkin karena efek dirinya juga merasakan panas yang menyengat. “Ram!” panggil NIco menoleh pada sahabatnya itu Rama tak menyahut, pandangannya pening kali ini bahkan tubuhnya seakan mulai lemas. Nico masih menoleh pada Rama yang masih tak menyahut panggilannya. “Rama!” Bruk, tubuh besar Rama luruh ke tanah diikuti suara ambruknya mengejutkan Nico di sebelahnya. “Ram, Rama… pak Aryo, tolong!” Bip bip bip… “Dok, pasien suhu pasien mengalami penurunan, denyut jantungnya juga melemah.” Suara bising di balik meja operasi samar-samar terdengar oleh Rama walau sekilas, bayangan dirinya kini terbaring di meja operasi dengan banyak alat terpasang di tubuhnya. Mesin Ventilator terpasang sebagai penunjang tubuhnya yang saat ini kritis. “Tunggu, bayangan apa ini?” Rama masih bisa merasakan jemarinya dingin yang saat ini terpasang infuse yang mengalirkan darah segar. Samar-samar justru suara seseorang memanggil namanya dicampur dengan suara dokter dan perawat yang saat ini mengelilinginya. “Ram…Rama..” “Denyut jantung pasien melemah Dok.” “Rama bangun!” Rama pun terkesiap bangun di satu ruangan kecil dengan dikelilingi 2 temannya, Nico dan Yumi. Ia masih terbayang-bayang mimpi yang barusan ia lihat. Entah antara nyata atau sekedar mimpinya, semua tampak begitu nyata. “Nico, Yumi.” “Ram, lo baik-baik ajakan?” suara Nico mengkhawatirkannya. Kepala Rama yang masih pening berusaha mencerna apa yang terjadi, ia bangun dengan posisi masih duduk. Yumi langsung memeluknya, mengkhawatirkan keadannya. “Kamu bikin aku takut tahu nggak?” “Maaf ya.” “Pasti kamu belum sarapan kan tadi pagi, kamu kebiasaan tahu nggak,” ucap Yumi ngomel Nico bisa bernapas lega, “Lain kali kalau lo mau pingsan bilang dulu kek, berat tahu bawa lo ke UKS,” keluh Nico. Rama masih bingung apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia bermimpi kalau dirinya saat ini kritis di ruang operasi, tapi tubuhnya sekarang ada di sini, di dirinya di masalalu, jadi apa yang dilihatnya tadi apakah nyata? “Hana…Hana… kamu di mana sekarang, aku butuh penjelasan kamu sekarang!” teriak Rama di taman belakang sekolah, ia tahu kalau Hana bisa dipanggil dimana saja. “Hana!” “Hana.” “Rama!” Yumi tiba-tiba muncul di belakangnya sambil menatapnya heran. Rama kaget, “Yumi!” Yumi mendekati Rama yang terlihat kebingungan itu, “Kamu manggil siapa tadi?” “Bu-bukan siapa-siapa kok.” Rama bersikap netral. Tak disangka-sangka, Hana muncul tepat di belakang Yumi sambil melambaikan tangan. “Hana!” panggilnya lagi membuat Yumi menoleh ke belakang. “Kamu manggil siapa sih?” “Anak kecil yang ada dibelakang kamu.” “Anak kecil?” Yumi mengedarkan pandangan di sekeliling, tak ada anak kecil disana padahal jelas-jelas Hana ada di belakangnya, hanya saja tak terlihat olehnya. “Kamu ngigau ya, nggak ada anak kecil Rama.” Yumi pun menghampirinya, terlihat khawatir dengan kondisi Rama. “Apa kepalamu masih sakit?” Hana tiba-tiba menghilang entah kemana sesaat setelah Yumi mendekatinya. “Aku baik-baik saja kok.” Rama tersenyum, mencoba bersikap senetral mungkin di depan Yumi. “Yaudah, kita balik ke kelas yuk!” Yumi menggandeng tangan Rama pergi dari tempat itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN