Kaki Dewi berlari tanpa henti, bahkan dia tak peduli lagi dengan napasnya yang sudah putus nyambung. Dewi baru bisa mengatur napasnya saat dia berada di dalam lift, tapi setelah pintu lift terbuka, dia kembali melajukan kakinya, berlari menuju ruang rawat Bu Sari. “Dewi.” Silla menoleh saat Dewi terlihat membuka pintu ruang rawat. Wajahnya tampak sendu menatap Dewi yang datang dengan napas terengah-engah. “Gimana kondisi Ibu?” tanya Dewi, matanya menggelap menatap ibunya yang tampak terpejam. “Itu Ibu lagi tidur, kan?” Dia bertanya dengan perasaan cemas. “Ibu belum sadar,” jawab Silla. “Ma-maksudnya apa, Sil? Ibu bakalan bangun kan? Riyo bilang, Ibu cuma pingsan, berarti ibu bakal bangun, iya kan, Sil?” Dewi dilanda panik, pikirannya seolah rancu, dipenuhi oleh kecemasannya sendiri.

