Semerbak aroma embun pagi membuat hatiku damai. Hujan semalam ternyata menyisihkan hawa sejuk yang menenangkan pikiranku. Aku tersenyum saat kubuka jendela kamar rawat ibu. Kicauan burung yang bertengger di balkon membuat suasana pagi ini terasa lebih menyegarkan. “Mbak, aku berangkat, ya.” Suara Riyo terdengar. Aku lantas menoleh ke arahnya. Kulihat adikku itu sudah siap dengan pakaian kerjanya yang melekat sempurna. “Enggak sarapan dulu?” kataku. “Enggak sempet, Mbak. Hari ini direktur pusat mau dateng, kalau sampai aku telat bisa gawat,” ujar Riyo. “Memang jam berapa datengnya?” tanyaku. “Jam sembilan sih, tapi sebagai manajer, aku harus arahin staf untuk siapin semuanya,” jelas Riyo. Aku mengangguk paham. Bagaimanapun aku pernah berada di posisi Riyo. Menjadi manajer bukanlah h

