Aku tersenyum menatap Mas Harris yang masih tertidur pulas. Tanganku dengan gemas bergerak membelai wajahnya, menyusuri wajah tegasnya itu dengan jari telunjukku. Mata tajamnya, hidung mancungnya, bibirnya ranumnya yang selalu membuatku iri, dan rahangnya yang terlihat tegas. Jika diperhatikan dengan teliti, wajah Mas Harris tampak sempurna. Bahkan heranku tak ada noda jerawat pun di sana. “Kamu berani ganggu tidur aku, Sayang?” Suara Mas Harris tiba-tiba terdengar. Aku sontak melangkah mundur, menjauh satu jengkal dari sisi ranjang. “Kamu udah bangun, Mas?” Mas Harris kemudian bangkit dari tidurnya, matanya masih terlihat ngantuk. Dia duduk dengan lesu, menatapku lekat. “Sini,” suruh Mas Harris, tangannya terlihat menepuk-nepuk pelan kasur kosong yang ada di sampingnya. “Aku udah

