Rengganis Rahardian, gadis cantik dengan sejuta pesonanya. Dengan sekali kedip seluruh laki laki maupun perempuan bakal jatuh bertekuk lutut terhadapnya. Gadis cantik dengan hobi membaca novel dan menghalu. Gadis cantik dengan mata bulatnya dan hidung runcing dan juga dagu yang terbelah menambah kesan manis dan juga seksi sekaligus.
Rengganis atau biasa di panggil Ren termasuk dalam golongan gadis somplak. Di lihat dari segi tingkah maupun cara bicaranya. Banyak yang menganggap dia gadis yang abai akan segala hal di sekitarnya. Well betul sih. Melihat motif hidupnya "I LOVE MY SELF".
Banyak orang yang mengira Ren ini playgirl melihat banyaknya laki laki yang mendekatinya. Tapi hanya satu orang yang faham dirinya baik luar dan dalamnya. Hanya Anjani yang memahaminya terutama traumanya terhadap seorang makhluk dengan jenis kelamin laki laki. Meskipun banyak laki laki yang mendekat ia tidak punya keinginan secuil pun untuk menjalin hubungan asmara dengan mereka. Bisa kalian tebak apa penyebabnya. Yesss ia selalu terbayang dengan traumanya.
Mungkin orang lain mengira traumanya muncul gara gara ia di khianati pacarnya atau mungkin di Gosthing oleh pejantan. Ha ha ha tebakan kalian semua ____ salah. Ren trauma akan sebuah hubungan dan laki laki sebab novel. ha ha ha mungkin lucu tapi semua itu sebuah kenyataan.
"Ren, turun yuk makan malam." panggilan itu menghentikan Ren yang sedari tadi asyik mengetik sesuatu di laptop dengan logo apel di gigit berhenti dan balas menjawab.
"Ok Ma."
Setelah itu terdengarlah suara hentakan sendal yang menjauh, pertanda sang mama tercinta menjauh dan yang pasti sudah duduk manis di ruang makan. Ren melihat keadaan kamarnya, kamar bernuansa hutan itu terlihat segar di matanya. Ia mulai bangkit melangkah meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju ruang makan.
"Malem mom."
"Udah gak usah sok sok-an deh bahasa lo, mam mom mam mom. Sok inggris." nyinyir Eza Rahardian yang tak lain adek tengilku.
"Sirik aja deh lo. Dasar adek lucknut."
"Udah gak usah berisik, cepet makan." lerai Marsha Rahardian yang tak lain mama tercinta Rengganis.
Ren dan Eza saling melirik, melemparkan tatapan tajam masing masing setelah itu mereka mulai makan.
"Ahhh kenyangny. Glugk" Ren mengusap perutnya yang membuncit.
"Ren, gak sopan." tegur Marsha.
"Ih dasar kakak jorok." semprot Eza.
Ren yang melakukan aksi kurang senonoh hanya bisa nyengir. Sudah menjadi kebiasaanya setiap selesai makan ia akan bersendawa dan menepuk perutnya dengan mengangkat kaos. entah kapan sosok gadis cantik itu bisa berubah menjelma seperti putri kerajaan, anggun.
"Kalian besok jangan lupa ya."
"Siap Ma,"
"Iya Ma,"
"Ez jangan lupa belajar. Meskipun udah jadi mahasiswa sekarang tetep harus disiplin."
"Iya Ma."
"Dan Ren, kapan mau kenalan pacar ke mama?" picingan mata Marsha berikan untuk Ren.
Yahh inilah yang paling Ren hindari. Umurnya sudah genap 25 tahun kemaren. Untuk masalah karir jangan di tanya ia sudah mapan. Mempunyai butik besar, bahkan pengahsilanya juga luar biasa. Namun kendala satu satunya di sebabkan oleh dirinya sendiri. Lebih tepatnya tentang traumanya.
"He he he Ren mah nunggu Chanyoel dateng ke indo terus ngelamar Ren mah." kilah Ren
"Halu kok kebangetan sih kak." cibir Eza mendengar ucapan Ren.
"Ren mamah serius." peringat Marsha.
"He he he udahlah mah, emang nikah itu wajib, perasaan nikah itu Sunnah lo mah bukan Wajib."
"Yah yah terusin aja ngelesnya. Sampek Hujan duit." celetuk Eza yang sudah bosan dengan jawaban dari kakaknya.
"Emang kapan itu dek?"
"Lahhh si dugong malah balik tanya."
"Eza bahasanya."
"Iya ma, kakak sih ngeselin banget."
"Udah udah, Ren mamah pengen tahun ini kamu segera menikah. Lihat temenmu Anjani, anaknya udah mau dua. Lah kamu laki aja belum punya. Malu tuh ama truk, truk aja gandengan masak Ren sendirian."
"Bwahahahahhaahahha mantep mah." Eza tergelak sedangkan Ren hanya bisa melongo.
"Lahhh Mama kok bisa jadi gaul." tanya Ren tak habis pikir dengan bahasa mamanya.
"Udah udah masuk sana ke kamar, dan Ren jangan keseringan baca novel. Mama gedek kalo liat Ren senyum senyum sendiri atau paling parah galau gak jelas gara gara novel."
"He he he iya ma, gak janji tapi."
Setelah itu mereka meninggalkan ruang makan dan menuju kamar masing masing.
*****
Ren masih berkutik di depan laptop. Berbagai ekspresi mulai ia tunjukan. Dari ketawa, bahkan marah marah, dan terakhir menangis.
"Kampret nih si cowok. Bilangnya cinta mati ama istrinya. Lah ini malah nikah lagi, mana ngelanggar janjinya. Huaaa gue benci cowok kayak gini. Meskipun endingnya si cowok balik lagi ama istrinya dan istri ke dua bunuh diri. Tapi tetep aja dia udah punya buntut ama Istri keduanya. Mana nih katanya cowok setia. Masak gara gara tuntutan keluarga si cowok nikah lagi. b******k. Gue benci cowok. Ngapain harus ada cowok di dunia ini. Ehh tapi kalo gue benci cowok gue benci bapak gue juga dong. Ahh dugong. Pusing mending tidur aja. Tapi gue pengen baca novel lagi." Ren berteriak melampiaskan segala emosi yang ia rasakan.
Brak dug dug
"Ren tidur. Udah malem. Jangan novel terus, awas besok kesiangan ke makamnya."
Setelah mendengar itu segera Ren tutup laptop nya dan segera beranjak ke ranjangnya. Ia mulai menutup matanya. Mengingat besok peringatan satu tahun meninggalnya papa. Ahh jadi kangen papa.
"Tuhan, hilangkan rasa sesak ini gara gara baca novel, kalo gak gue gak bakal bisa tidur." doa Ren sebelum memejamkan mata.
Ya elah, gue kira si Ren bakal doa buat bapaknya, ehh malah doa buat ngilangin rasa galau gara gara novelnya. Emang anak kampret.
*******
"Suit suit Wih bening bener tuh cewek." Ungkap laki laki dengan kaos putihnya dan mata birunya yang menatap sekeliling dengan penuh binar.
Andre Karim, laki laki dengan usia yang sangat matang, 30 tahun. Si laki laki dengan hobi mengoleksi wanita, laki laki yang tidak bisa hidup tanpa adanya wanita di sisinya, laki laki dengan lesung pipinya dan gombalan recehnya yang mampu menaklukan ribuan perempuan, ehh dan tak lupa kekayaannya.
"Lo Ndra kapan sih taubat nya. Kenak karma baru tau rasa," komentar Theo sahabat Andre. Andra hanya menatap Theo sebentar, kemudian melanjutkan aktifitasnya yaitu meminum kopi sekaligus melirik cewek cewek yang lewat.
"Ehhh lihat tuh sebelah sana sumpah tuh cewek cakep, yo lihat tuh pojok sumpah lo bakal nyesel." cerocos Andre yang ditanggapi malas oleh Theo.
"Alah lo Ndre apapun bentuknya yang penting cewek pasti lo bilang cakep, eh tapi bener deh tuh cewek cakep banget. Tapi gue kok gak asing ya" Theo yang awalnya menatap malas Andre kini tatapanya berubah menjadi segar seakan mendapat asupan.
"Alah lo mah sok kenal, lihat aja gue bakal dapetin tuh cewek." ucap Andrea bangga dengan menumpuk d**a kirinya.
"Ahh lo mah semua lo embat, terus gimana tuh cewek yang kemaren, mau lo kemanain?"
"Cewek yang mana?" tanya Andre dengan mata yang tetap fokus pada cewek yang duduk di pojok sendirian.
"Somplak lo, tuh yang lo aja makan di cafe Nagih."
"Sembarangan lo kalo ngomong, gue gak pernah ajak cewek makan bareng ya, yang ada tuh cewek-cewek yang ngajak gue makan." Andre menatap Theo tajam tidak terima dengan ucapanya.
"Udahlah bosen gue denger alasan lo, terus gimana cewek itu, udah putus?" Tanya Theo dengan tangan meraih gelas di depanya.
"Ehhh jangan asal ya, gue gak pernah tuh pacaran. Mana ada gue putus."
Byur
"Lah lu telpon tiap hari video call pula terus apaan tuh namanya. Panggil sayang sayang lagi, terus tiap malem ke hotel juga ngapain, main catur." Theo mulai ngegas dengan tangan sibuk mengelap mejanya yang kena semburan dan mengabaikan tatapan jijik Andre.
Andre menatap tingkah Theo jijik, bagaimana bisa seseorang bisa menghujat dengan keadaannya sendiri yang patut di hujat. Di mata Andre penampilan Theo mirip seperti bocah yang sedang berlatih makan, belepotan. Mengabaikan tingkah temanya Andre menghela nafas dan menjawab.
"Lahh tuh cewek-cewek yang minta masak gue tolak."
"aahh gue jadi ragu kalo lo masih perjaka." tuding Theo setelah merasa meja dan pakaianya sudah rapi kembali.
"He mulut lo ya minta gue sumpel pakek sempak yang gak di cuci satu bulan." sembur Andre.
"Jijik." Theo bergidik ngeri.
Hening, mereka berdua terlibat dalam pemikiran masing masing. Andrea dengan pikiran bagaimana cara menggaet cewek di pojok sana tanpa harus menggoda terlebih dahulu. Sedangkan Theo yang masih meragukan keperjakaan temanya melihat bagaimana sepak terjang sang teman terhadap wanita.
"Ekhmm Ndra gue bener bener kepo deh, lo beneran masih perjaka?" Theo bertanya dengan lirih di akhir kalimat. Sedangkan Andrea melongo dengan pertanyaan temanya.
"Sumpah, kalo lo tahu mungkin lo kaget, bibir gue aja masih suci tau, meskipun gue sering gonta ganti cewek gue gak pernah tu pegang-pegang gak jelas apalagi ngelakuin hal yang menjijikan." ungkap Andrea dengan sorot mata serius yang terlihat tidak ada kebohongan di sana.
Theo yang mendengar itu semakin bingung. Jika temanya masih perjaka bahkan bibirnya juga terus ngapain temanya selalu ke hotel bersama wanita-wanita itu.
"Lahh sumpah serius lo. Terus lo ke hotel ngapain ama cewek-cewek tu, terus lo sama mereka tuh berarti cuma sekedar telvon, vc, ama makan doang." Theo bertanya dengan raut wajah tidak percayanya.
"Sumpah, ngapain sih kayak gini kita bahas, sekarang gue tanya emang lo masih perjaka?" tuding Andre.
"Lah si paijo, yang pasti gue udah gak perjaka lah, orang gue udah nikah ama udah punya buntut satu sekarang mau nambah dua, somplak lo." Theo berucap dengan nada ketus tidak habis pikir dengan pemikiran temanya.
"Lo yang somplak, maksud gue sebelum lo nikah."
"Heee maksud lo bilang kayak gitu, gue tampol juga tuh mulut. Emang lo pernah lihat gue gonta-ganti pasangan. Sedari dulu gue cuma punya satu gebetan, satu pacar, dan berakhir jadi istri gue itu. Dan lo tau sendiri istri gue lurusnya gimana orangnya. Mau kasbon ena-ena sebelum nikah? minta di gibeng tuh namanya." Theo berucap menggebu-nggebu bahkan tanpa sadar mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian. Andre meringis tidak habis pikir dengan Theo yang kebawa emosi.
"Suttt si kampret, suara lo. Gak malu apa lo." Andre berucap dengan mata yang melirik kanan dan kiri.
"Lo sih, makanya pertanyaannya di filter tuh. Kita boleh ikut gaya barat tapi yang baik aja jangan ngikutin gaya percintaan mereka." Theo melotot dengan sura yang ditekan.
"Lahh lo kan yang pertama tanya masalah keperjakaan gue, emang dasar kampret sukanya cari kambing hitam."
"Udahlah dari pada ngurisin lo mending gue ketemu ama my wife."
"Ehhh dasar lo." umpat Andre melihat temanya yang sudah meninggalkannya.
Andre terdiam, matanya kini menatap lurus kopi di depannya yang sudah mendingin. ia teringat kembali tentang pertanyaan sang teman mengenai keperjakaan. Ia memang masih perjaka bahkan bisa dibilang seluruh tubuhnya masih suci, kecuali tanganya yang sudah pernah di pegang oleh wanita-wanita itu.
Andre kadang merasa bingung dengan tujuannya yang mengoleksi banyak wanita. Jika teman temanya dulu mengoleksi wanita untuk melakukan ONS tapi beda dengan dirinya. Bahkan dia ke hotel dengan wanita wanita itupun tidak melakukan apapun, meskipun mereka menggoda bahkan menyerahkan seluruh tubuhnya ia tidak tertarik. Karena ia melakukan semua ini dengan tujuan lain.
Bruk
"Maaf saya tidak sengaja." Suara lembut terdengar di belakangnya dengan cepat ia alihkan pandangan yang semula fokus ke cangkir kini beralih ke sosok wanita yang tadi ia puji kecantikanya.
Bumi seakan berhenti mata biru itu terkunci pada sosok yang mencoba membantu pelayan yang tak sengaja ia tabrak. Hingga wanita itu pergi tatapanya tetap tak teralihkan darinya.
drt drt drt
Getaran itu menyadarkannya, segera ia raih gawai itu dan berjalan meninggalkan cafe itu dengan beberapa lembar uang berwarna merah.