Rumah atau kerajaan

1557 Kata
Dalam perjalanan menuju Jakarta , suasana yang tercipta hanya diam sepanjang jalan,sesekali Adel menanyakan sesuatu tapi hanya dijawab seperlunya sama Raka, Raka memilih diam mengikuti jalur jalan diiringi musik slow yang diputar Raka kali ini. Rasanya berat bagi Raka dalam perjalanan kali ini , wanita yang ada di sampingnya kini bukan wanita yang seharusnya dia boyong ke rumahnya di Jakarta, dulu dia membayangkan perjalanannya penuh dengan tawa canda bersama Ana , wanita yang sangat dia cintai tapi karena kesalahannyalah dia harus menerima konsekuensinya, Sampai saat ini Raka belumlah bisa membayangkan bagaimana biduk rumah tangganya nanti bersama Adel , Tampa adanya cinta diantara mereka, ya mungkin Adel Sangat suka padanya sedari masih sekolah dulu, pernah dulu Adel mengungkap rasa sukanya tapi Raka menolaknya karna sudah ada rasa pada Ana sewaktu itu walaupun belum menjadi kekasih tapi Raka yakin jika Ana juga suka sama dia, sampai ahirnya Ana sudah menjadi kekasihnya pun Adel berulang kali berusaha mendapatkannya. Sempat sekelibat bayangan Ana duduk diposisi Adel sekarang , dia tersenyum manis begitu ayu ,hingga menciptakan senyum dibibir Raka. Senyum yang membuat Adel bahagia , Adel kira senyuman itu memang Raka suguhkan untuknya, Adel salah tingkah dengan tatapan lembut dan senyum Raka yang mempesona. Cukup lama memang Raka membayangkan Adel sebagai Ana , hingga Adel benar2 terbuai oleh senyuman Raka hanyut dengan pesonanya, dari dulu Adel sangat mengidolakan Senyuman Raka, saat Raka masih menjadi ketua OSIS di sekolah , memimpin berbagai rapat-rapat koordinasi disekolah, menjadi perwakilan pelajar berprestasi yang dikirim ke Jogja saat itu, pesonanya membuat banyak siswi yang mengikuti ajang itu menaruh hati pada Raka, Adel yang juga mengikuti ajang itu mewakili bidang seni merasa sangat risih dengan sikap para wanita-wanita itu. Sampai Adel mengaku sebagai pacar Raka kala itu, dan kini Adel bukan hanya mengaku sebagai pacar namun istri sahnya Raka, ngak yangka bukan , nggak kebayang betapa bahagianya Adel saat ini “ jangan mandangin aku kayak gitu dong sayang ,aku jadi malu” kata kata Adel membuyarkan lamunan Raka yang sedang menikmati, wajahnya kembali datar seperti awalnya . Perjalanan ahirnya usai , mobil Raka perlahan memasuki gerbang besar berwarna putih, para satpam menunduk setelah membukakan pintu gerbang untuk mobil Raka, Adel sangat penasaran dimana sekarang dia berada, Adel semakin takjub setelah terlihat bangunan super besar di depan matanya. Rumah bak istana terpampang nyata didepan mata , lingkungan yang sangat asri, tiada yang menduga jika ditengah kota metropolitan ini ada rumah bersuasana seperti ditengah tengah bukit yang sangat indah pohon-pohon Cemara dan sejenisnya mengelilingi , banyak petak – petak kebun bunga di sana sini, perjalanan dari gerbang kerumah saja memakan waktu sekitar 10 menit dengan kecepatan sedang, nggak kebayang betapa luasnya area rumah ini, bahkan terdapat air mancur di tengah perjalanan menuju rumah, benar- benar berasa memasuki istana . Adel menutup mulutnya saat Raka menyuruhnya turun dan berkata “ turunlah kita sudah sampai, ini rumahku” bagaikan melayang diudara dengan nasib baik yang dia terima saat ini, ada beberapa Art yang menyambut kedatangan Mereka, Adel masih sock dengan apa yang dia lihat sampai – sampai tak memperdulikan sapaan dari para Art, sibuk melihat lihat sekeliling, ' waw , menakjubkan apaini nyata ? Apa aku lagi mimpi lagi, ya ampun aku ngak nyangka Raka sesukses ini, Neruntungnya aku' Pintu rumah terbuka perlahan terlihat isi rumah yang sangat indah , dari interior dll yang sangat sempurna, terlihat banyak pajangan yang terlihat mahal terpajang disana sini . Semakin Adel melangkah semakin indah , tangga yang membentuk setengah lingkaran menuju ke lantai dua berwarna emas , menambah rasa kagum Adel dengan rumah ini ' astaga ini rumah atau kerajaan sih , indah sekali , aku kayak berada di crita kerajaan jaman dulu, ,, aku nyonya dirumah sebesar ini ? Mimpi apa aku’ Para Art dibelakangnya mulai mengunjingkan nyoyamnya yang baru datang ini dengan tatapan aneh, “ eh kamu sadar ngak,kayaknya wanita ini beda dengan foto wanita yang selalu terpajang di ruang kerja den Raka ya? Ini nyonya kita bukan sih? Tanya Nani seorang Art yang bertugas sebagai asisten koki di rumah ini, “ Iya juga ya, tapi tadi den Raka bilang kan kalau ini istrinya, nasib buruk banget den Raka dapat Istri kayak gitu,, aduuh kenapa aku jadi sedih gini ya” timpa Siti Art yang bertugas beres – beres dirumah ini “ suuuut sudah – sudah siapapun dia ,sekarang dialah nyonya dirumah ini, kita haru menghormati dan menuruti perintahnya “ mbok Diah mengahiri bisik- bisik Atar Art ini dia selaku Art senior dirumah ini telah dianggap keluarga oleh Raka ,dia telah bekerja disini sangat lama , bahkan sebelum Raka masuk rumah ini, dia yang selama ini menjadi menjadi ketua Art dirumah ini, dia menjadi sosok ibu untuk semua bawahanya. Dia selalu memikirkan bewahanya , berlaku adil, dan tak mau menang sendiri walaupun dia dipercaya namun dia tak mengunakan jabatanya untuk menindas bawahanya, dia selalu berusaha mengayomi semua dengan sikap lembut namun tegas pada kesalahan bawahanya, agar adil dan nyaman bekerja dirumah ini, tak gampang memang mengatur banyak orang yang bekerja dalam satu jalur , tapi dengan sikap penyayang , lembut dan baik hatinya mampu menyentuh hati para pegawai hingga tercipta suasana yang nyaman saat bekerjal. Adel yang masih menikmati keindahan rumah ini sampai tak sadar Raka telah meninggalkannya , Raka telah duluan naik ke lantai atas menuju kamarnya , setelah memasrahkan semua barang bawaannya pada para Art untuk di bawa kekamar dan di bereskan, Raka kini berdiri di balkon memandang kedepan Tampa tujuan , bersedekap d**a dan tampak lesu, “ lihat deh mbok den Raka kok ngak ada bahagia -bahagianya ya , malah wajahnya sangat lesu, aku jadi pengen nanggis” Siti ikut bersedih melihat majikan kesayangannya terlihat sedih, padahal seharusnya pengantar baru itu kan berbinar bahagia “ iya sih sit, simbok juga merasakan itu , kita ngak tau sebenarnya tapi kita merasakan apa yang dirasakan den Raka, semoga fikiran kita ini salah ya sit” mbok Diah juga merasakan kehangatan itu “ Den Raka ngak biasanya kayak gini, murung menekuk mukanya kayak gitu mbok, den Raka selalu Ramah sama pelayan – pelayanannya, tapi tadi den Raka terlihat diam saja ngak banyak bicara, kenapa aku jadi gundah ya mbok” “ bahasamu itu lho sit,, sudah ayo selesaikan tugas kita , lalu kita turun takut nyonya keburu masuk kamar” Adel meminta satu pelayan menemaninya berkeliling rumah dan menjelaskannya “ ayo siapa yang akan menemaniku? Jelaskan padaku seisi rumah ini, agar aku tau tata letaknya” sikapnya menunjukan kesombongannya , para Art saling pandang “ kok malah saling pandang gimana sih , ayo siapa!,, “ ahirnya setelah mbok Diah turun dari lantai atas beliau lah yang mengantarkan sang nyonya berkeliling “ maafkan mereka nyonya , biar saya yang mengantar nyonya berkeliling, mari” mbok Diah mempersilahkan sang nyonya untuk berjalan duluan , “ Ya udah ayuk, gimana sih orang diminta majikan kok malah plonga plongo, oh ya nama kamu siapa bik?” tanya Adel sambil jalan di depan mereka mulai dari lantai bawah, mbok Diah menjelaskan semua isi dari lantai bawah,mulai dari dapur sampai tempat kusus para karyawan disini, banyak komentar yang dikatakan Adel, dari tempat karyawan yang terlalu istimewa dan masih banyak lagi, ngak suka warna ruangannya dll, baru datang saja si nyonya ini banyak sekali maunya , tak terbayang oleh mbok Diah kedepanya . Selesai lantai dasar, mbok Diah melanjutkan ke lantai atas. Diawali dari ruang gim yang terletak diujung lantai atas, disini tempat Raka biasanya menghabiskan waktu luangnya dengan olah raga, terdapat beberapa alat fitness disini terbilang cukup lengkap untuk olah raga mandiri. Adel tak menyangka rumah ini sangat lengkap , dari rumah paviliun, perpustakaan, kolam renang dalam dan luar ruangan ada, garasi yang lebarnya selebar rumahnya di kampung , mungkin malah lebih luas garasi rumah ini dll pokoknya serba lengkap. Kini berlanjut keruang kerja Raka, Adel berkeliling ruangan ini ,begitu rapi file file yang tertata rapi , walaupun Adel juga nggak ngerti dokumen dan file apa itu semua, nampak mengunung tapi tetep rapi, Langkanya tertuju pada meja kerja Raka, terdapat satu bingkai foto yang terpajang dimeja, dia mengangkat dan melihat foto tersebut, ‘ Adikku sayang maafya , tapi ini adalah yang aku mau, memiliki Raka adalah impian ku. Walau dengan cara yang salah, tapi aku puas ha ha ha, lihatlah rumah ini, kamu nggak pastas menjadi nyonya disini , dan aku akan buat Raka mencintaiku apapun caranya ' Adel tersenyum remeh , Dia optimis bisa mencuri hati Raka secepatnya , ngak ada lelaki yang tahan jika selalu dalam rayuan , apalagi setelah melihat rumah ini , rasanya Adel lebih bersemangat mengapai cinta Raka, yang kini telah sah menjadi suaminya, tinggal trik - trik jitu untuk mengiringnya menuju Hangatnya cinta. “ tolong buang foto ini , dan jika ada yang lain buang semua, aku nggak mau ada foto wanita ini dirumahku, buang jauh – jauh” Baru saja datang Adel sudah merasa penguasa rumah ini, mendengarnya mbok Diah, “ baik nyonya saya akan membuangnya. Nyonya di lantai atas ini sebagian besar adalah kamar – kamar saja, dan kamar utama ada di sebelah ruang kerja ini nona, maaf apa ada lagi yang ingin nona ketahui?” tanya mbok Diah sopan “ok untuk sementara cukup, tapi ingat aku nggak ingin lihat foto wanita itu ada di rumah ini, mengerti” sambil menunjuk foto yang ada di tangan mbok Diah , mbok Diah hanya mengangguk dan meninggalkan sang nyonya sendiri ‘ aku harus bisa secepatnya meraih cintanya Raka, apapun dan bagaimanapun caranya’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN