Arthur membuka knop pintu dengan pelan, jantungnya berdegub dua kali lebih kencang. Ia gugup saat berada tepat di hadapan putra kecilnya. Arthur melihat bayi mungil itu, bayi yang terlihat tenang tertidur dengan ekpresi yang sangat menggemaskan. Arthur tak tahan untuk menggendongnya. “Hi, Son." "Maaf baru menengokmu." “Aku tau kau pasti kesal karena aku mengacuhkanmu dua minggu ini." "Mommy mu sakit dan aku tak bisa hidup tanpanya, jadi aku melupakanmu tapi aku tak bermaksud begitu." Tak lama pintu ruangan terbuka dan ternyata itu adalah Dokter Ryan. "Arthur." Pria yang dipanggil namanya pun menolehkan sedikit kepalanya menatap Ryan di belakangnya. "Untunglah Brian berhasil menyadarkanmu." "Aku terlalu fokus pada Tabitha." "Ya, tapi jangan pikirkan. Karena sekarang kau sudah disin

