Tabitha membuka matanya perlahan dan pemandangan yang dia lihat adalah wajah Arthur yang berjarak hanya beberapa senti bahkan napas Arthur pun bisa dirasakanya. "Pagi!" “Kau mau apa?" tanya Tabitha. "Aku hanya ingin menjadi yang pertama saat kau membuka matamu." “Bodoh!" "Terserah." "Menyingkir dari hadapanku!" "Kau bisakah berkata lembut seperti semalam?" "Tidak," jawab Tabitha ketus lalu wanita itu memasuki kamar mandi dan berusaha menormalkan degub jantungnya. "Kau ingin makan apa?" "Terserah!" "Tidak ada makanan yang namanya terserah honey." "Dasar bodoh!" Setelah beberapa menit ia membersihkan diri, Tabitha pun keluar dan ia menemukan Arthur tengah menyajikan berbagai makanan di atas meja mini dalam kamar hotelnya. "Kau sudah selesai?" "Hm." "Baiklah ayo kita makan."

