"Tidak! Kenapa kalian melukai Bern?!"
"Hanya seekor anjing, mati pun tidak akan masuk surga atau neraka!" teriak kakak tiri laki-laki Bora.
Pesta yang tadinya meriah dan tenang menjadi ribut karena kelakuan kakak tiri laki-laki Bora yang mengambil anjing golden kesayangannya, Bern. Diikat di taman lalu dibakar hidup-hidup.
Bern menggonggong kesakitan sambil menangis, menatap Bora.
Bora yang ditahan teman-teman kakak tirinya menangis. "BERN!"
"Bora, kamu harus bisa belajar. Papa berencana menjadi presiden, kita sekeluarga harus bisa menjadi contoh masyarakat Indonesia, memelihara anjing untuk agama kita sangat, sangat dilarang," ucap kakak tiri perempuan Bora dengan senyum meremehkan. "Dosanya setinggi gunung. Kamu belum menikah saja sudah membuat dosa sebanyak itu, apakah kamu tidak kasihan dengan Papa?"
"TAPI JANGAN SAKITI BERN!" jerit Bora yang berusaha memberontak. "DIA TIDAK BERSALAH!"
"Bora, berhentilah bersikap manja!" tegur ibu tiri Bora.
Bora baru menyadari kedua temannya hanya menonton dan kebanyakan tamu dari teman-teman kedua kakak tiri serta ibu tiri.
Bora mendengar raungan kesakitan Bern bersamaan dengan isakannya. Semakin ingin memberontak, semakin kencang pegangan mereka.
Hari ini adalah hari ulang tahun terburuk baginya, seolah masa depan yang baik tidak diizinkan untuk Bora.
"AAAAAAAAA!!!!"
Bora menjerit frustasi, memeluk tubuh gosong Bern setelah dipastikan tidak bernyawa oleh kakak tiri laki-laki.
Tidak ada simpati dari para tamu undangan, hanya cemoohan dan tatapan jijik.