Ternyata seperti ini rasanya merelakan. Sakit, perih, namun ada sedikit kelegaan. Ternyata ikhlas tak semudah itu. Elang bernapas panjang. Meluruhkan beban di hatinya. Diiringi derai air mata yang mulai membasahi pipinya. Elang yakin kali ini ia tak mau kehilangan Arumi untuk yang kesekian kalinya, pasti bisa menemukan cintanya kali ini. Yang ia lakukan adalah berani mengutarakan isi hatinya pada Arumi sebelum terlambat. Elang menghela napas sebentar. Untuk kemudian memberanikan diri mengutarakan isi hatinya. "Rum...." "Iya, Mas." "Mas, ingin bertanya?" Arumi menatap aneh oada Elang. "Iya, boleh. Kenapa?" "Maaf jika aku harus mengatakan ini sekarang. Rum, tolong ijinkan aku ingin melamarmu." Glek! Jantung Arum naik turun menahan detak jantungnya yang tak beraturan dan juga malu.

