Ketuk palu

1814 Kata

"Mas, aku rindu, malam ini menginap disini ya?" tanya Hani bergelayut manja dalam pelukan lelaki bertubuh kekar itu. "Maaf, Hani ... aku capek. Lain kali saja," tolak Damar perlahan, merenggangkan pelukan Hani di tubuhnya. Wajah tampan Damar sedikit ditarik saat Hani berusaha mengecup bibirnya. "Terus kapan, Mas ... aku rindu, sudah lama kita tak pernah bertemu." Hani bangkit dari tempat tidur dan menggigit bibir dengan rasa kecewa yang dalam. "Jangan, hari ini." Hani megusap rambut yang menutupi kening dan separuh matanya. Lalu ia menguncirnya dengan tali, saat ia sadar ada butiran halus menetes dipipinya. Hani menangis. Betulkah? Serapuh inikah? Dirinya perlahan bangkit dengan langkah gontai menuju cermin. Menatap wajahnya yang kini berurai air mata. "Kau anggap apa aku ini mas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN