“Kenapa diam mematung?” Tanya Mike sambil mengulum senyum. Kepalanya sedikit tertunduk karena Sania sejajar dengan bahunya saja. Dia menunggu jawaban Sania. “Kamu masih mencintaiku, kan? Ayolah, jawab jujur!”
“Tolong tinggalkan aku.” Sahut Sania sambil meninggalkan Mike. Lagi, tangan Mike menahan tangan Sania agar tidak kabur.
Sania sungguh tidak bertenaga, bahkan mengeluarkan suara saja dia kesulitan. Kaki-kakinya mendadak lemas, tidak sanggup menopang tubuhnya yang mungil. Astaga, kenapa harus bertemu Mike sekarang juga.
“San… ayo kembali bersama.” Mike meremas kedua lengan Sania, sambil menggoyangkan tubuhnya perlahan. “Aku meninggalkan Nadia demi kamu.”
Akhirnya, Sania berani mengangkat wajah, menatap Mike penuh kebencian. “Kamu masih bisa menyebut nama ja*ang itu di depanku? Aku sungguh tidak ingin mendengarnya.”
“Baiklah… aku minta maaf!” Mike langsung duduk bersimpuh di depan Sania sambil kedua tangan memohon. "Aku masih mencintaimu. Kenangan kita bersama begitu banyak, membuat aku selalu mengingatkmu.”
“Aku selalu memikirkanmu, San!”
“Aku sudah menikah.” Jawab Sania, kesal. Dia tidak mempercayai ucapan Mike. Toh, kalau semua itu benar dia tidak akan berkhianat.
“Kamu tidak pernah mencintai suamimu.”
Sania terkejut. Darimana Mike tahu akan hal itu.
“Benarkan aku?” Mike membenarkan ucapan. Tapi Sania segera menggelengkan kepala cepat. “Aku masih bisa melihat dari matamu kalau kamu masih mencintaiku.”
Sania menahan air mata agar tidak membuatnya malu. Jujur, Sania masih mencintai Mike, bahkan sangat mencintainya. Tapi entah, rasa sakit yang dia perbuat menguasai seluruh perasaannya. Bagaimana tidak, dulu Sania dan Mike akan segera menikah. Saat itu usia mereka 27 tahun. Begitu mengetahui langsung perselingkuhan itu, Sania ingin bunuh diri.
“Bagaimana kabar anakmu?” Kalimat itu keluar saat Sania berhasil mengontrol emosinya.
“Dia baik-baik saja.” Sahut Mike singkat. “Sepertinya dia bukan anakku. Dia tidak mirip denganku bahkan dengan ibunya.”
Sania tertawa, akhirnya. Lebih tepatnya tawa mengejek. “Kenapa membicarakan hal itu padaku? Aku tidak peduli dia mirip dengan siapa.”
“Baik… lalu, apa kamu sudah hamil? Kamu belum lama menikahkan?”
Sania membuang wajah, sambil menggigit bibir bawah.
“Bagaimana kamu bisa hamil kalau kamu tidak mencintai suamimu sendiri.”
“Aku mencintainya.” Bentak Sania sekuat tenaga. Bola matanya berkedip, menutupi sesuatu. Terlihat jelas ekspresinya. Mike mengulum senyum. Menutup bibir dengan kepalan tangan.
“Teruslah berbohong sampai bumi berhenti berputar.” Mike pergi meninggalkan Sania. “Aku akan terus mengejar dan mendapatkanmu lagi.” Teriak Mike sambil menolehkan wajah ke Sania yang sudah jauh disana.
***
Kalimat yang terucap dari Mike—mantan kekasih Sania yang sudah 15 tahun berpacaran, terus saja mengisi seluruh isi kepala Sania. Bahkan saat dia sedang bersama Adam, suaminya. Andai saja Mike tidak berkhianat dengan sahabat Sania, bahkan mereka sampai menikah namun pada akhirnya bercerai. Mike pasti akan menikahi Sania. Perasaan wanita yang hidup seorang diri itu sangat hancur begitu mengetahui Mike berselingkuh dengan Nadia. Nadia merupakan sahabat Sania sejak duduk di bangku SMA. Entah, setan apa yang merasuki mereka berdua.
Akibat rasa sakit yang Sania derita, dia menutup diri dan hati. Mengabaikan setiap kehadiran orang bahkan pria yang ingin mendekati. Dia juga tidak mau memiliki hubungan dekat dengan seorang wanita. Kecuali, Suri. Teman masa kecilnya.
“Kamu sedang memikirkan aku?” Tanya Adam penasaran. Pria yang memiliki wajah imut itu memperhatikan Sania sejak istrinya duduk di dekatnya. Sania terkejut akan kehadiran Adam. “Aku sudah sembuh, bagaimana kalau kita bulan madu? Mau ke luar negeri atau—!”
Adam mengelus pipi kanan setelah tamparan keras mendarat dengan kasar. “Kamu benar-benar istri durhaka.” Kali ini Adam kesal, beranjak berdiri dengan tatapan kesal.
“Silakan laporkan aku ke polisi.” Sahut Sania pasrah.
“Sungguh aku ingin memelukmu.” Adam sepertinya masih ingin diperlakukan kasar oleh Sania. Benar saja. Sania akan segera mengayunkan tangan ke arah Adam, namun Adam dalam hitungan detik sudah menjauhi Sania sambil menjulurkan lidah.
“Apa sih yang kamu lakukan?” Sania merasa risih terhadap sikap Adam yang kekanak-kanakan. “Aku mau tidur. Cepat pindah ke sofa!” Perintah Sania dengan lantang.
“Siap komandanku.” Adam lari menuju sofa.
***
Sania menjerit ketakutan setelah mengetahui Adam sedang memeluknya dari belakang. Sejak ciuman itu, Adam jadi lebih berani. Cekatan, Sania menendang Adam sekuat tenaga hingga dia jatuh ke lantai.
“Apa yang kamu lakukan?” Teriak Adam sambil beranjak berdiri. Pria itu tampak maskulin walau mengenakan kaus putih dan celana pendek. Sania menelan air liur, melihat Adam marah.
“Seharusnya aku yang marah, bukan kamu!” Balas Sania, kesal. “Kenapa kamu melewati batas, lagi? Apa kamu sudah lupa perjanjian kita?”
“Ya… aku lupa.” Sahut Adam masih kesal. Dia berjalan ke sofa, dan duduk menatap Sania tanpa berkedip. “Aku masih sakit dan butuh pelukan dari istriku. Mungkin saja aku bisa langsung sembuh.”
“Apa sepengaruh itu pelukan istri terhadap sakitmu?” Tanya Sania, pura-pura penasaran.
Adam mengangguk cepat.
“Baiklah… aku akan membawakanmu wanita lain untuk dipeluk.”
“Kamu keterlaluan sekali. Apa aku terlihat pemain? Aku pria normal dan setia.”
“Setia?” Sania mengulang kata terakhir Adam. Kali ini dia tertawa terbaha-bahak. Itu pertama kali Adam melihatnya. Namun, tawa itu terlihat menyedihkan. Tidak ada kebahagiaan sama sekali. “Di dunia itu tidak ada kata setia.” Sania masih tertawa.
Adam memasang muka tegas. Dia tahu apa yang sedang Sania rasakan dan sudah dia lalui. Adam juga merasakan kesakitan Sania.
“Aku akan memberikanmu itu. Aku akan menciptakan itu untukmu. Bahkan jika tidak ada, aku akan mencarinya sampai aku mendapatkannya.” Adam berucap dengan lantang. Membuat Sania membuka mulut, seakan tak percaya Adam bersikap seperti itu. perlahan, Sania sedikit luluh.
“Sania… ayo pergi ke rumah sakit.” Ajak Adam dengan lembut.
“Aku tidak sakit!” Teriak Sania histeris. “Aku tidak kenapa-kenapa!”
“Maafkan aku Sania.” Adam tidak sengaja mengeluarkan kalimat itu, yang membuat Sania mendadak mengamuk. Cekatan, Adam mendekat ke Sania, memeluknya dengan erat.
“Maafkan aku.” Adam mengusap lembut kepala Sania yang mulai sedikit tenang, meski napasnya terdengar cepat. “Walau pernikahan kita baru seumur jagung, aku akan janji membahagiakanmu. Aku akan bertanggung jawab terhadap hidupmu!”
Sania menjauhkan tubuhnya dari Adam, menatap lekat bola mata Adam tanpa berkedip.
“Kamu penipu!” Sahut Sania sambil menampar lembut pipi Adam, lalu menegakkan tubuhnya. Pergi keluar kamar.