Dia Kekasih Adik Iparku

1636 Kata
Secepat kilat Sania keluar dari mobil, menghampiri Adam dengan penuh rasa bersalah. Berbeda dengan Mike, dia memasang raut bangga seakan memenangkan sebuah pertandingan olahraga di hadapan Adam. Adam diam menatap Sania dengan memasukkan sebelah tangan ke saku celana. Dia masih melemparkan tatapan kecewa. Tidak ada lontaran kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut Adam. “Aku akan mengantarkan dia ke rumah sakit.” Jelas Sania, tanpa sadar dia mengambil tangan Adam untuk dia genggam. Adam terkejut, dan membiarkan istri meraih tangan kanannya. Dalam hati, dia tersenyum lebar meski ada sedikit rasa kecewa. “Tapi kamu tidak akan pulang malam ini, ternyata kamu sudah bersama sang mantan kekasih. Apakah akan berlanjut sampai nanti malam bahkan besok pagi?” Tanya Adam dengan nada hati-hati. Suaranya terdengar akan tenggelam karena tangis. Sania mendelik kaget. Ucapan Adam benar. Mungkin saja Mike sengaja melakukan ini di depan kantor agar Adam melihat semuanya. Tapi kenapa waktunya sangat tepat untuk pertengkaran. Wajah Sania menggeleng cepat, menyangkal kalimat Adam. Tangan kanannya bergantian meraih tangan Mike yang sedang berdiri di dekatnya. Adam mengerutkan kening saat Sania melepas tangannya. “Lihat, tangannya terluka! Dia baru saja terserempet mobil.” Jelas Sania sambil menghembuskan napas pelan. “Ah, kamu lebih peduli dengan Mike daripada aku yang kemarin sakit parah.” Ucap Adam memelas, kepalanya terangguk-angguk paham. “Aku memang tidak akan pernah menjadi hal terpenting dalam hidupmu.” “Baiklah… bawalah dia ke rumah sakit. Kamu tidak pulang ke rumah malam ini tidak apa-apa. Aku tidak akan menunggumu.” Lanjut Adam pasrah. Lalu, dia pergi begitu saja membiarkan Sania dan Mike di tepi jalan. Sania menutup wajah dengan kedua tangan. Dia mulai merasa bersalah pada Adam. Meskipun dia tidak mencintainya sama sekali, tapi dia tidak seharusnya melakukan hal ini. Dia tahu bagaimana rasanya dikecewakan oleh orang yang dia cintai. “Apa kamu sering tidak pulang ke rumah? Apa rumah tanggamu tidak baik-baik saja? Jangan-jangan kamu masih mencintaiku?” Mike tanpa bersalah menanyakan hal itu pada Sania. Cekatan, Sania menampar pipi Mike sekuat tenaga. Membuat Mike yang bertubuh kekar sedikit goyah. “Jangan pernah mengganggu hidupku lagi. Bukankah kamu sebuah sampah yang seharusnya di buang ke tempat sampah? Kenapa kembali lagi?” “Aku sampah yang sudah dipungut dan didaur ulang.” Mike tertawa terbahak-bahak. “Aku tidak peduli!” Bentak Sania. Dia terus masuk ke dalam mobil. *** Pukul sepuluh malam. Sania selesai memarkirkan mobil di halaman rumah yang cukup luas. Rumah itu menjadi rumah utama untuk keluarga Adam. Lebih tepatnya, ditinggali Adam, Sania, dan Khaira. Adam hanya memiliki seorang Ayah yang tinggal di luar negeri. Sedangkan Khaira tidak berani tinggal sendirian di luar sana. Dia tetap ingin bersama Adam sampai dia menikahpun harus tetap bersama Adam. Sania cukup resah akan hal itu. “Kenapa kamu pulang? Apa kamu merasa bersalah denganku?” Adam muncul dari balik pintu saat Sania membukanya. Sontak, Sania berteriak. “Kenapa?” “Kenapa kamu disini?” Tanya Sania ketus. “Tentu saja aku bahagia mendengar suara mobil istriku kembali.” “Kamu ingin meminjam mobilku?” Ucap Sania sengaja polos, dia mengulurkan kunci mobil pada Adam. “Silakan bawa saja sesuka hatimu.” “Bagaimana kalau kita pergi berdua?” Adam menawarkan untuk mengajak Sania jalan-jalan. “Wah… ide buruk sekali.” Dengan kesal Sania melewati Adam begitu saja. “Masalah kita belum selesai.” Ucap Adam, membuat langkah Sania terhenti dan memulai jantung Sania berpacu lebih cepat. Adam sudah berada di hadapan Sania saat wanita itu mengedipkan mata seperkian detik. “Aku akan membiarkanmu melakukan apa saja, tapi tolong jangan berkhianat denganku.” Adam meletakkan kedua tangan di bahu Sania. “Aku janji akan membuatmu jatuh cinta padaku.” “Aku tidak bisa jatuh cinta lagi pada seseorang.” “Ya, karena kamu sudah meletakkan nama Mike di hatimu yang paling dalam. Kamu tidak memberiku kesempatan sedikitpun.” Suara Adam memelas. Dia memasukkan tangan ke saku celana sambil menunduk lesu. “Itu salah sekali.” Sahut Sania kesal. “Lalu?” Tanya Adam dengan singkat. “Kenapa diam saja?” Adam menunggu Sania yang masih diam saja. “Hatiku sudah tertutup rapat untuk siapapun.” Jelas Sania. “Bagaimana kalau aku berhasil memasuki hatimu?” Adam tersenyum licik. “Aku akan membalas perasaanmu padaku.” Adam melebarkan kelopak mata dan tersenyum lebar. Bahkan, dia memeluk Sania tanpa disadari. “Kamu tidak berusaha melepas pelukanku?” Tanya Adam kegirangan. Tiba-tiba tendangan maut mendarat di antara kaki Adam. Adam mengerang kesakitan sambil menahannya. “Aku menjaga ini untukmu, tapi kenapa kamu merusaknya?” “Aku lelah!” Sania tidak peduli dengan kesakitan yang Adam alami. Dia hendak masuk ke kamar tapi dihadang oleh Khaira yang muncul begitu saja. “Kamu tidak jadi bermalam dengan Mike?” Khaira menyunggingkan senyum licik sambil melipat kedua tangan di d**a. “Bukahkah kamu tidak pulang malam ini? Apa karena kamu ketahuan berduaan di mobil dengan Mike tadi siang jadi membatalkan rencanamu malam ini?” “Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu betina ini.” Bisik Sania namun terdengar jelas oleh Khaira. “Betina? Kamu mengataiku betina?” Khaira tidak terima, memajukan tubuhnya ke arah Sania. “Aku lelah. Biarkan aku beristirahat.” “Aku tidak peduli. Urusan kita belum selesai tadi pagi dan sekarang kamu memulai lagi.” Khaira tidak terima. “Kamu yang memancing duluan.” Sania memutar bola mata dengan nada mencela. “Aku harus segera merayu Adam untuk membeli rumah baru.” Ucap Sania pelan dan malas. Khaira mendelik tajam. Mulai takut jika itu benar terjadi. Sania mengulum senyum melihat Khaira diam seribu bahasa, akhirnya dia masuk ke dalam kamar. *** Dari jarak 100 meter terdengar suara tawa lega dari seorang pria yang begitu Sania kenal. Sayang, tawa itu belum pernah Sania dapatkan karena dia memang tidak peduli dengan suasana hati dari pria tersebut. Langkah Sania semakin mendekati pemilik suara tersebut, dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata pria itu sedang bersama wanita lain. Saling becanda lepas. Bola mata Sania membulat sempurna melihat Adam sedang berduaan dengan wanita lain di sudut ruangan, lantai paling atas, kantor. Seharusnya Sania tidak perlu merokok siang ini. Hampir mendekati mereka, Sania tercengang melihat tangan manja wanita itu menyentuh lengan Adam yang lumayan kekar. Dengan malas, Sania membuang wajah. Di sisi lain, Adam menangkis halus sentuhan wanita yang bernama Jenni. Sania tersenyum licik. Sudut bibir tertarik ke atas saat dia berjalan di depan Adam dan Jenni. Adam terkejut setengah mati bertemu Sania disini. Sebenarnya dia tidak sengaja mengobrol dengan Jenni di tempat ini. Ya, awalnya mereka saling menyapa dan berlanjut mengobrol panjang lebar. “Sania?” Panggil Adam lembut. “Dia istrimu, kan?” Jenni terlihat tertarik dengan kehadiran Sania. Sedangkan Sania, menunjukkan wajah acuh dengan raut datar. “Perkenalkan dia teman aku, teman dekat.” Saat bersamaan, Jenni mengulurkan tangan kepada Sania. Sania membalas dengan cepat, lalu melipat kedua tangan di d**a. “Jenni.” “Kau sudah tahu namaku, tidak perlu berkenalan.” Sahut Sania ketus. “Oh My God!” Jenni tertawa melihat tingkah Sania yang begitu dingin. “Kamu serius menikahi wanita seperti dia?” “Dia wanita baik.” Balas Adam dengan senyum simpul, menatap Sania. “Aku sangat menyukainya.” “Ah, omong kosong. Kamu sebelumnya tidak pernah bertemu. Kalian hanya dijodohkan dengan Khaira.” Jenni menggelengkan kepala, tidak percaya dengan ucapan Adam. “Aku serius, Jenn!” Adam sedikit meninggikan nada suara, berusaha meyakinkan Jenni. “Apa aku harus mendengarkan kalian berbicara? Aku pamit pergi!” Ketus Sania, lagi. “Tunggu, San! Aku ikut denganmu.” Adam berniat menggandeng tangan Sania namun dengan cepat Sania menangkisnya. “Bukankah kalan sedang asyik mengobrol sebelum aku datang?” Tanya Sania, kesal. “Aku ingin sendiri.” “Aku kira kamu dingin dengan wanita lain, ternyata sama saja. Aku tidak akan percaya denganmu!” Ucap Sania dengan tegas. Sorot matanya begitu tajam membuat Adam berhenti bernapas sesaat. “Aku tidak mungkin dingin dengan teman dekatku” Jelas Adam, terdengar merasa bersalah. “Tapi kalian terlihat mesra.” Sahut Sania. “Kamu cemburu?” Tanya Jenni, menutup mulutnya sendiri sambil menahan tawa. “Rupanya kamu mulai menyukai Adam.” “Untuk apa?” Sania melototi Jenni dengan penuh angkuh. “Aku hanya ingin membuktikan ucapan Adam, ternyata sama saja dengan pria lain.” Sebuah bungkus rokok Sania buka dan mengambil satu batang. Dengan santai, Sania menggigit ujung rokok dan menyelipkan di sudut bibir kanan. “Aku sungguh tidak peduli padamu Adam. Cukup tahu saja kalau kamu pembohong.” Lanjut Sania dengan senyum lebar. “Sania, tunggu.” Adam berusaha mengejar Sania tapi tertahan oleh Jenni. “Biarkan saja dia menyendiri.” Jenni mencengkram lengan Adam, tanpa Adam lawan sama sekali. Di ujung pintu keluar, Sania menoleh ke arah Adam. Ternyata dia tidak mengejarnya. Omong kosong. *** Sebuah pesta akhir bulan di sebuah perusahaan milik Ayah Adam. Kegiatan ini biasa diadakan kalau penjualan meningkat dan mendapatkan untung yang banyak. Tema pesta malam ini formal. Namun, Sania sengaja dengan sadar diri mengenakan kemeja motif kotak-kotak panjang selutut tanpa ia kancingkan. Celana pendek jeans hitam membuatnya seperti akan menghadiri sebuah konser. Atau mungkin lebih cocok untuk masuk ke klab malam. Semua orang menatap Sania dengan pandangan mencela. Menurut Sania hal itu tidak penting bagi hidupnya, dia terus berjalan mencari makanan atau minuman yang pas untuknya. Saat menemukan jus apel, Sania mengintip sebentar di ujung sana, terlihat Khaira bersama seorang pria yang tidak asing baginya. Saat Sania melihat jelas wajah pria yang bernama Anton, wanita itu menjerit pelan. Hampir saja dia menjatuhkan gelas di tangan. Tidak, kenapa Khaira bersama Anton. Pria breng*ek itu pernah memperko*a Sania di kantor sebelumnya. Tiba-tiba kaki Sania merasa lemas mengingat kejadian menyakitkan, dan tidak kuat menahan beban tubuh. Akhirnya, dia terjatuh dalam keadaan sadar. Mendengar bunyi gelas pecah, beberapa orang di sekitar Sania menoleh sebentar tapi tidak peduli untuk menolongnya. Mereka fokus pada dentuman musik yang sudah disiapkan untuk memeriahkan acara. “Kamu baik-baik saja?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN