"Arggg..." Teriak Anisa ketika mendengar suara tembakan yang begitu kencang. Damar yang tidak bisa berlari karena menggendong Anisa tertunduk dengan lutut yang sangat lemes. Damar menekuk kedua lututnya pelan, karena dia sedang menggendong Anisa, dia takut Anisa kenapa-napa. "Lari Sa, jangan perdulikan aku disini." Suruh Damar kepada Anisa. Anisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin meninggalkan Damar ketika Damar dalam keadaan sekarat seperti ini. Damar sudah menolongnya, bahkan lelaki itu rela di tembak demi menolong dirinya. Lalu apa dia tega meninggalkan laki-laki seperti Damar disini sendiri? Anisa menangis sambil melihat punggung Damar yang mengeluarkan banyak Darah. "Gak mau, aku gak mungkin ninggalin Mas Damar sendiri ketika Mas Damar dalam keadaan seperti ini." Anisa menat

