"Ma?" Panggil Keenan, anak laki-laki itu sudah terbaring di atas tempat tidurnya dengan Keysa yang juga ikut terbaring di samping sang anak sembari mengelus-elus kepala Keenan agar putranya segera terlelap.
Keysa menatap wajah sang putra, "Kok belum tidur Kee?" Tanya bingung Keysa
"Aku nggak bisa tiduy Ma" ucapnya sendu, membuat sang ibu mengkerutkan keningnya dan mengubah sedikit posisi nya menjadi memiring menghadap sang putra.
"Kenapa, hm? Keenan laper atau ada yang Kee rasain sayang?" Tanya Keysa Keenan pun menggelengkan kepalanya dengan bibir yang cemberut, sungguh menggemaskan.
"Lalu, Kee kenapa?" Tanya Keysa kembali
"Kee, mau nungguin Papa, Ma. Papa biyang puyang cepet, tapi sampai sekayang beyum puyang-puyang" rajuk Keenan membuat Keysa harus bisa tenang untuk menjawabnya, pasalnya wanita cantik itu pun merasakan kegelisahan sedari tadi karena tidak ada kabar dari sang suami, beberapa chat yang dia kirimkan kepada sang suami pun tak kunjung mendapatkan balasan.
"Kee sayang, mungkin Papa kena macet di jalan dan bisa jadi Papa ada urusan lagi juga, jadi Papa pulang nya telat. Sekarang Kee bobo ya, nanti kalau Papa sudah sampai rumah Mama bangunin Kee, ok sayang?" Ujar Keysa menenangkan hati sang putra padahal hatinya sendiri pun merasakan kegelisahan.
Keenan pun menganggukan kepalanya, menuruti ucapan sang Mama, anak laki-laki itu pun memejamkan matanya dengan kepala yang terus di usap lembut oleh sang Mama, hingga dirinya terlelap.
Setelah di pastikan anak laki-laki nya ini sudah terlelap, Keysa pun mengecup kening sang putra, bangkit dari tempat tidur Keenan, lalu membenarkan selimut anaknya, setelah itu dia pun keluar dari kamar Keenan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya. Betapa terkejut nya Keysa kala mendapati ada beberapa kali panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dia kenali, tak berapa lama benda pipih yang dirinya pegang pun kembali menyala menampilkan panggilan masuk, dengan segera Keysa mengangkatnya. "
Selamat malam, dengan Ibu Keysa?" Tanya seseorang di seberang telpon di sana.
"Malam, iya saya Keysa. Ini dengan siapa ya?" Tanya balik Keysa, hatinya semakin gusar karena sedari tadi dirinya menunggu kabar dari sang suami yang tak kunjung ada.
"Saya dengan Dini, kami ingin memberitahukan bahwa suami anda Bpk Reinaldo mengalami kecelakaan dan sekarang berada di Rumah Sakit Harapan" ucap Dini salah satu perawat di RS tersebut.
Seketika tubuh Keysa membeku ketika mendengar bahwa suaminya mengalami kecelakaan, kedua matanya mengeluarkan cairan bening yang sudah tidak bisa dia bendung lagi.
Tangannya melemah, begitu pun dengan kedua kakinya sehingga membuat tubuhnya terjatuh ke atas lantai ponsel yang berada dalam genggaman nya pun terjatuh di atas lantai.
"Mas Rei!" Lirihnya.
"Halo, Ibu Keysa?" Panggil Dini kembali dari sebrang sana namun tak kunjung ada jawaban, hingga akhirnya panggilan pun berakhir.
Keysa sungguh terpaku, hatinya merasakan sakit, benarkah berita ini. Keysa pun segera meraih kembali benda pipih yang tergeletak di atas lantai lalu menghubungi sahabatnya Sifabella.
Keysa meminta tolong kepada Bela agar bisa ke rumahnya untuk menjaga putranya, Keysa pun memberitahu Bela apa yang terjadi dengan suaminya. Keysa sudah tidak tenang, dia ingin segera berangkat ke Rumah Sakit.
Tetapi diriya tidak bisa begitu saja meninggalkan Keenan sendirian di rumah, sampai akhirnya sebuah mobil tiba di depan halaman rumahnya dengan segera Keysa berjalan ke depan.
"Bela, gue titip Keenan!" Ucap nya panik
"Key, Key, lo tenang dulu jangan panik kaya gitu. Lo gak bisa bawa mobil sendiri dengan kondisi lo yang kaya gitu, gue udah pesenin taxi online bentar lagi sampai" ujar Bela
"Tapi Bel, gue har.." ucapan Keysa terpotong karena Bela menyela nya
"Sebentar lagi sampai Keysa! Gue gak mau ya lo bawa mobil sendiri. Tunggu seben, nah itu mobilnya datang!" Ucap Bela kala melihat taxi online pesanan nya telah tiba Setelah di pastikan itu adalah pesanan Bela, dengan segera Keysa pun memasuki mobil tersebut.
"Hati-hati Key!" Pesan Bela lalu menutup pintu mobil untuk Keysa.
Bela menatap kepergian mobil yang membawa sahabatnya itu hingga tak terlihat oleh matanya, setelah itu Bela pun masuk ke dalam rumah Keysa menghampiri Keenan di kamarnya apakah putra sahabatnya itu terbangun atau tidak. Setelah memastikan keadaan Keenan baik-baik saja Bela berjalan menuju dapur untuk membuat teh hangat untuk dirinya.
Mobil yang membawa Keysa sudah sampai di depan Rumah Sakit Harapan, dengan segera Keysa turun dan segera berlari menuju meja Recepcionist untuk menanyakan di mana ruangan suaminya berada.
Perawat yang bertugas pun memberitahukan di mana Rei berada, Keysa segera berlari menuju UGD (Unit Gawat Darurat) di mana suaminya berada, Keysa berjalan dengan cepat begitu sampai di UGD dan melihat ada beberapa Polisi juga Dokter di sana, perasaan semakin tidak karuan dad-a nya naik turun tidak beraturan, Keysa mempercepat langkahnya dan menghampiri mereka di sana.
"Dokter, di mana pasien korban kecelakaan?" Tanya Keysa panik
"Ibu keluarga dari?" Tanya Dokter tersebut
"Saya istri dari Reinaldo" Setelah mendengar bahwa Keysa adalah istri dari Reinaldo, Dokter pun menundukan kepalanya lalu meminta Keysa mengikuti langkahnya memasuki ruangan yang tertutup tirai di belakang tubuh Dokter tersebut.
Keysa pun mengikuti langkah sang Dokter dan betapa terkejutnya Keysa kala mendapati tubuh seseorang yang sudah tertutup oleh kain putih di sana, terbaring di atas brankar, air mata Keysa keluar begitu saja di antara dua sudut matanya.
Wanita itu tak bergeming di tempatnya ketika menatap seseorang di atas sana yang masih tertutup kain putih, dengan langkah perlahan Keysa menghampiri lebih dekat pada brankar.
Begitu dirinya sampai di sisi brankar, dad-a nya merasakan sesak kedua tangan Keysa terkepal di samping tubuhnya, lalu dengan perlahan mengangkat kedua tangannya dan membuka kain putih yang menutupi wajah dari sesorang di atas brankar tersebut, dengan perlahan Keysa membukanya, dan saat menampilkan wajah di balik kain putih tersebut tubuh Keysa pun langsung membeku dan air mata di kedua sudut matanya semakin deras keluar dan membasahi kedua pipinya dengan susah payah Keysa menalan salivanya yang seperti tersangkut di tenggorokan nya.
"Maaf, Bu, kami sudah berusaha semampu kami tetapi pendarahan yang terjadi di kepalanya mengakibatkan Pak Reinaldo kehilangan banyak darah dan beliau tidak bisa di selamatkan, sepertinya terjadi benturan cukup keras di kepala Pak Reinaldo saat kecelakaan terjadi" ujar sang Dokter menjelaskan kepada Keysa.
"Saya permisi dulu Bu" pamit sang Dokter dengan kepala yang di tundukan lalu berjalan meninggalkan Keysa dan kembali menutup tirai.
"Sayang, kamu bisa dengar aku" ucap Keysa dengan air mata yang tidak bisa berhenti keluar dari matanya. Menahan rasa sesak di dad-a dan mencoba menguatkan diri agar tetap bisa berdiri.
"Kamu bilang, kamu akan pulang lebih cepat" lirih Keysa "Keenan, nungguin kamu pulang sayang. Dia tidak bisa tertidur karena nungguin kamu" ucapnya dengan isakan
"Maksud kamu dengan pulang lebih cepat itu pulang ke rumah kita kan sayang" lanjutnya masih dengan isakan yang menyesakan dad-a bagi siapapun yang melihat dan mendengarnya.
"Sayang, bulan depan Keenan masuk sekolah kamu sudah janji kan akan menemani Keenan di sekolah, sayaaang!" Pertahanan Keysa runtuh dia terjatuh di atas lantai dingin rumah sakit hingga tangan seorang wanita paruh baya merangkul kedua bahunya dan memeluknya.
"Nak!" Panggil lembut wanita tersebut, Keysa pun mendongak begitu rungunya mendengar suara yang tidak asing dan selalu dia rindukan.
"Ibu!" Panggilnya lirih dan terasa menyesakan di hati sang Ibu Keysa jatuh di d**a sang Ibu, dengan lembut dan penuh kasih sayang Rosalind Ibunda Keysa mengelus punggung putrinya yang sedang rapuh.
Saat, Keysa menghubungi Bela, wanita itu pun menghubungi ibu dari sahabatnya tersebut, karena khawatir Keysa sendirian dan tidak ada yang menenangkan nya, dengan segra Rosalind pun berangkat dengan memesan taxi online dari Bogor ke Jakarta, untung saja jalanan sedang tidak macet jadi wanita paruh baya itu bisa sampai lebih cepat, dan itu salah satu alasan kenapa Keysa tidak memberitahu sang Ibu tadi karena Ibunya yang berada di Kota Hujan, dia tidak mau membuat sang Ibu khawatir. Keysa terisak di dalam dekapan sang Ibu, meluapkan kesedihan nya di balik dad-a sang Ibu.
"Bu, Mas Rei bu!" Lirihnya kembali sambil dengan isakan yang membuat hati sang Ibu terasa sakit.
"Nak, dengarkan ibu. Ini semua sudah menjadi garis takdir yang Allah berikan, kamu harus bisa ikhlas menerimanya agar Rei bisa tenang di sana dan juga demi Keenan, putra kamu dan Rei!" Ucap sang ibu dengan air mata yang turun di kedua matanya.
Tidak bisa dia pungkiri kesedihan di dalam hatinya karena kehilangan sosok menantu bagi dirinya juga sosok suami yang di cintai oleh putrinya, dan sosok ayah yang sangat di sayangi oleh cucunya.
"Kamu harus kuat untuk Keenan, jangan sampai dia merasa kehilangan kedua orang tuanya." Ucap Rosa, dia pun menuntun Keysa untuk berdiri.
Keysa kembali menatap brankar di mana suaminya terbaring, mendekatkan dirinya di dekat wajah sang suami lalu mengelus lembut pipi dingin sang suami, dengan tatapan yang berembun terhalang oleh air mata ynag memenuhi pelupuk matanya.
"Sayang!" Lirihnya lalu mengecup kening sang suami cukup lama dan dalam.