Saputra tengah berada di kantor kepolisian, tengah terduduk di kursi panjang menunggu kedatangan Zeline yang sedang di panggilkan oleh petugas kepolisian. Setelah mereka sampai di kantor Polisi, seorang petugas Polisi menghubungi Saputra, jika putri satu-satunya itu berada di kantor polisi atas kasus penculikan. "Papa!" Panggil Zeline melirih ketika dirinya melihat sosok sang Papa. Saputra pun berdiri dari duduknya, dan menatap sendu pada wajah putrinya Zeline, Zeline sedikit berlari dan berhambur memeluk tubuh ringkih Saputra. "Pa, maafin aku Pa. Aku gak mau di penjara, Pa!" Lirihnya dengan air mata yang terus mengalir. Saputra pun tidak bisa menahan air matanya agar tidak menetes, pria paruh baya itu meneteskan air matanya yang berhasil meluncur di atas pipinya. "Apa yang sudah kamu

