Jakarta

1997 Kata
○06 (DBT) Riko Aditya. Itulah namanya. Pria yang menjadi mantan kekasihnya, tentu saja Dira sudah sangat membenci pria itu. Pria yang berdarah blasteran Indonesia-Belanda itu memang memiliki sikap yang sangat kasar. Sang psikopat. Itulah panggilan khusus yang Dira berikan kepada mantan kekasihnya itu. Setidaknya, sudah sekitar 5 bulan lamanya mereka menjalin hubungan. Selama 5 bulan itu juga, Dira benar-benar merasa sangat tersiksa dengan berada di samping Riko. Pria itu memang sangat gila yang membuat hubungan mereka menjadi toxic, saling menyakiti satu sama lain. Masih teringat jelas di dalam otak Dura bagaimana sikap Riko yang dulu begitu posesif kepadanya. Bahkan untuk keluar dari rumah saja, dia harus izin dulu kepada pria itu, meski hanya ke resepsionis saja. Bahkan, tak sekali atau dua kali Dira mendapatkan kekerasan fisik dari pria berdarah Indonesia-Belanda tersebut. Tamparan atau jambakan sering didapatkan olehnya jika saja Dira tak menurut dengan apa yang diucapkannya. Tentu saja, dengan hubungan toxic itu Dira merasa sangat tersiksa sekali. Sudah berusaha beberapa kali pun untuk bebas dalam hubungan itu, tentu saja terasa sangat sulit bagi Dira. Pernah sekali Dira meminta putusnya hubungan mereka, lalu apa yang hamour dirinya dapatkan? Ya, dia hampir diperkosa oleh pria b******k tersebut. Untung saja, saat itu, Dira berhasil menenangkan Riko yang sedang dalam amarahnya, sehingga kejadian mengerikan itu tak sampai terjadi padanya. Namun, tentu saja Dira tak berhenti sampai situ saja. Dia berusaha sebisa mungkin melakukan apapun agar bisa putus. Jika dengan cara mereka bertemu dirinya akan mendapatkan konsekuensi, maka Dira memilih untuk mengirimkan pesan berupa kalimat putusnya, lalu setelah itu tak lupa Dira memblokir nomor Riko, agar pria itu tak lagi menghubungi dirinya setelah itu. Dirinya pulang ke kampung nya adalah salah satu cara agar dia bisa selamat. Pria itu tak akan berani menyusulnya sampai kampung dan memaksanya lagi, oleh karena itu Dira merasa sangat aman sekali jika dia berada di kampungnya itu. Dan seperti apa yang diduga olehnya, pria itu tak berani datang ke kampung nya. Dia hanya berani untuk menghubunginya. Ya, seseorang yang selama ini mengganggu dia saat di kampung dulu adalah Riko. Berulangkali pria itu mengubah kartu nya agar bisa menghubungi Dira. Tak tinggal diam, setiap kali Riko menghubunginya, tentu saja Dira akan menghapus nomor pria itu agar tak mengganggunya lagi. Satu hal yang tak disangka oleh Dira, pria itu tahu bahwa dirinya sudah kembali ke kota. Jika sudah seperti ini, maka Dira harus memiliki banyak ide agar dia bisa kabur dari pria yang menyeramkan baginya itu. Hidupnya tak akan tenang di sini. Riko akan terus menghantuinya sampai membuat dia nanti ketakutan Dira menghembuskan napasnya dengan lega, kini hatinya benar-benar merasa takut. Bahkan untuk keluar dari kamarnya ini saja, dia tak berani, takut jika ada Riko di luar sana. Saat pagi menjelang datang, Dira masih merasa ngantuk. Semalaman itu da tak bisa tertidur dengan nyenyak, takut jika Riko diam-diam datang dan menyakitinya. Bahkan, untuk antisipasi saja, Dira sampai harus mendorong meja kerjanya untuk menahan pintu. Oke, dirinya benar-benar gila. Wanita itu beranjak, dia mengambil ponsel yang ada di atas meja nakas dan menghubungi seseorang. Pihak keamanan apartemen. "Halo, bisakah kau datang ke apartemenku untuk sementara? Ada yang ingin aku bicarakan." 'Baiklah dengan Dira yang tunggal di apartemen 27, bukan?' "Ya." Sambungan telepon itu tiba-tiba terputus. Dira menghembuskan napasnya dengan lega. Dia pun mengambil laptopnya dan memeriksa keadaan di luar sana dengan menggunakan laptop itu. Untungnya di apartemennya itu sudah ada beberapa kamera cctv yang terpasang pada beberapa bagian, sehingga Dira bisa mengawasi apa yang terjadi di luar sana dengan rekaman ini. Hatinya merasa sedikit lebih lega karena tak sekalipun dia melihat keberadaan Riko di apartemen ini. Dengan begitu, dia bisa bebas keluar. Lantas wanita itu beranjak, dia menggeser lagi meja kerja yang menghalangi pintu kamarnya. Setelah selesai, dibukanya pintu tersebut dan pandangannya pun mengedar, melihat suasana hening yang ada di tempat ini. Didengarnya suara bel, dia berjalan dengan cepatnya menuju ke pintu tersebut. Sebagai bentuk keamanannya, dia sempat mengintip seseorang yang ada di luar sana dengan pubangan kecil di pintu. Setelah memastikan bahwa yang datang benar-benar adalah staf keamanan di apartemen ini. Langsung saja dia membuka pintu itu dengan lebarnya dan membiarkan staf keamanan itu masuk ke dalam apartemennya ini. Pria itu duduk di atas sofa di ruang tamu, sementara Dira lebih dulu mau menyajikan minuman kepada tamunya tersebut. "Jadi, ada yang bisa saya bantu?" Dira menganggukkan kepalanya. Dikeluarkan sebuah foto yang memang sengaja dia simpan, itu adalah foto Riko. Foto tersebut sengaja langsung diberikan kepada pria yang ada di depannya itu. "Bukankah ini kekasih Anda?" Dira menganggukkan kepalanya. "Ya, tapi kita sudah putus dan dia gak terima. Beberapa kali, dia datang ke sini untuk meneror ku. Bisakah kau melarang dia untuk masuk ke dalam gedung ini?" Pria itu menganggukkan kepalanya. "Kami akan meningkatkan keamanan dan untuk sosok ini, akan dilarang masuk ke dalam gedung. Anda tenang saja." Dira tersenyum kecil. Dengan begini, dia merasa mulai aman saat berada di tempat ini. "Terimakasih atas bantuannya, Pak." Dira membangunkan tubuhnya, berjabatan tangan sejenak dengan setelah itu staf keamanan tersebut langsung pergi meninggalkan apartemennya. Sendiri di dalam apartemennya, Dira langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa tersebut. Untuk beberapa saat, dia hanya melamun, sampai suara dering ponsel yang berbunyi dengan sangat kuat, membuat lamunannya langsung buyar saat itu juga. Wanita itu bergegas mencari keberadaan ponselnya yang ada di dalam kamar tersebut. "Halo, Mel. Kenapa?" tanya Dira. 'Lo sudah balik ke Jakarta, kan?' "Ya, aku sudah di apartemen." 'Gue ke sana sekarang sama yang lain. Lo tunggu kami.' Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sambungan telepon langsung terputus. Dira hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan sahabatnya itu. Dia memiliki tiga teman yang cukup dekat. Mereka bekerja di tempat yang sama, sehingga kedekatan itu mulai terjalin. Ketiga temannya anak asli kota, sehingga pergaulan mereka cukup bebas dibanding Dira yang masih terjaga. Teringat lagi dengan tata krama yang diajarkan oleh ibunya kepada dia dulu, tentu saja akan selalu diingat oleh Dira. Meski terkadang dia akan tergiur untuk ikut dalam pergaulan bebas, setidaknya selama ini Dira bisa menahannya. Seorang yang menghubunginya bernama Melly, wanita berkacamata keturunan chindo. Memiliki kulit yang sangat putih dan juga wajah cantik. Berbeda dengan dua sahabat lainnya yang memiliki darah Indonesia asli tanpa campuran apapun. Mika memiliki kulit eksotis yang cukup menarik perhatiannya dengan senyum yang sangat manis. Lalu ada Dewi, wanita ini memiliki mata yang tajam dan bentuk wajahnya pun terkesan jutek, sehingga orang-orang akan mengiranya adalah sosok yang jahat. Untuk menyambut teman-teman nya yang akan datang ke apartemennya ini, Dira memilih untuk membuat Frozen food yang masih tersisa di dalam kulkas nya itu. Dimsum dan juga nugget, keduanya di taruh ke atas meja masak. Lalu diambilnya sebuah piring putih yang cukup besar. Dira mulai memasak makanan Frozen food itu, Sangat simpel selalu memasaknya juga tak memakan waktu yang begitu banyak, hingga beberapa menit setelahnya, Dira telah menyelesaikan pekerjaan tersebut. Wanita itu menyajikan makanan nya ke atas piring putih yang tadi telah disediakannya. Trring!! Bel berbunyi kembali, Dira yakin sekali kalau seseorang yang datang adalah teman-teman nya. Langsung saja dia melepaskan celemek yang tadi terpasang di tubuhnya itu, berlari pelan menuju ke pintu utama dan membukanya. Senyum di wajah Dira terbit melihat Mely yang langsung memeluknya, begitu juga dengan sahabat dia yang lain. "Astaga, aku sangat merindukan sahabat gue yang cerewet ini." Melly mencubit dengan cukup kuat hidung Dira yang berhasil membuat wanita itu meringis pelan. "Ayo semua, kita masuk!" Tidak, bukan Dira lah yang mengatakan kalimat tersebut, melainkan Mika. Dengan tak tahu dirinya mereka masuk ke dalam apartemennya itu padahal Dira sendiri belum mempersilahkannya. Dira menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sangat biasa sekali pada sahabatnya itu memiliki sikap yang sangat menyebalkan. Ketika dia membalikkan tubuhnya, mereka telah duduk di atas sofa dan memakan sajian yang tadi dihidangkannya. "Kalian sangat sopan sekali," ujar Dira dengan sarkas nya yang langsung dibalas dengan tawa kuat oleh mereka. Sangat menyebalkan sekali. Dira mengambil tempat duduk di samping Dewi. "Bagaimana sukses bukan kau memutuskan hubungan dengan pria sialan itu?" tanya Dewi. Dira menganggukkan kepala nya. "Ya, sukses. Tapi dia masih mengejar aku, bahkan kemarin saat aku mau masuk ke dalam apartemen, dia mengancamku. Untung saja aku berhasil lolos dari pria itu." "Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya, kalau dia adalah pria yang gak baik. Kau saja yang tak percaya," ujar Melly dengan tatapannya yang sangat sinis. Ya, memang benar kalau sahabatnya itulah yang menentang hubungannya dengan Riko dulu. "Dia sangat tergila-gila dengan kau, terlihat dari kelakuannya saat awal berjumpa denganmu. Apakah kau tak aneh ketika dia marah-marah gak jelas saat kau gak ngabarinnya, padahal saat itu kalian saja belum memiliki hubungan." Dira menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia memang sangat bodoh sekali dulu, karena tak mempercayai apa yang dikatakan oleh Melly dulu. Dia terlalu bodoh untuk tak memperhatikan hal sekecil itu saja. Mungkin karena sikap tak pedulinya terhadap Riko, membuatnya santai-santai saja jika sesuatu yang buruk terjadi. "Gue yakin sih, dia gak akan berhenti mengejar lo. Jadi, kau harus hati-hati banget, karena dia adalah orang yang berbahaya." "Aku hampir gila dibuatnya." Dira mengusap dengan kasar wajahnya. "Aku yakin, di tempat kerja nanti pasti dia akan tetap meneror aku dan itu adalah mimpi buruk." "Ya, kau benar. Dia akan terus meneror kau sampai kapanpun." Mendengar ucapan Dewi tadi, berhasil membuat Dira semakin stress saja. "Tenang saja lah, nanti kita akan terus bersama mu, agar pria b******k itu gak akan meneror lo lagi, oke!" Mika yang seperti mengerti dengan keadaannya saat ini, berusaha untuk membuat Dira merasa lebih tenang. Dira menganggukkan kepalanya. "Terimakasih." Yah, setidaknya Dira merasa sangat beruntung sekali karena sahabat-sahabat nya membantu dia disaat situasi seperti ini. *** "Kamu yakin mau ngurus kerjaannya langsung ke Jakarta?" tanya seorang wanita paruh baya. Wanita itu menatap tak rela ke arah anaknya yang kini tengah sibuk memasukkan baju-baju nya ke dalam koper. Azka menengok, dia menatap ibunya itu dengan sebuah senyum kecil. "Iya, Bu. Ibu gak perlu khawatir, karena secepatnya Azka akan kembali. Lagian juga, Azka hanya menginap 6 malam saja di sana," ujar Azka yang berusaha menenangkan ibunya itu. Sepertinya, ibunya itu merasa khawatir pada Azka kali ini. Padahal, sebelum itu, dia sudah sangat sering atau bahkan tinggal di kota karena harus mengurus pekerjaan di tempat itu. Dan yah, ibunya memang selalu seperti ini. Setiap dia akan pergi, dia akan berusaha mencegah Azka untuk ke kota. "Ibu takut kamu nanti aneh-aneh di sana. Kamu tahukan gimana bebasnya kota itu?" Azka menganggukkan kepalanya. Lalu, dia menaruh koper miliknya itu ke bawah lantai, karena dia sendiri telah selesai mengemasi baju-baju nya itu. "Azka tahu, tapi kan di sana Azka gak main-main, Azka cuman mau bekerja saja." Hembusan nafas lolos dari bibir wanita tua itu. Tak ingin menyanggah lagi atau bahkan mencegah anaknya untuk pergi. "Ya sudah, jaga dirimu baik-baik di sana, oke!" "Oke, Bu." Setidaknya, saat ini Azka baru bisa bernapas dengan lega karena pada akhirnya ibunya bisa membiarkan dia pergi dari tempat ini. Ponsel pria itu berdering kencang. Lantas Azka mengalihkan kan pandangannya, dia melihat ke arah meja nakas di samping ranjangnya itu, di mana letak ponselnya berada. Diambilnya ponsel tersebut, lalu dia langsung menjawab panggilan yang di peruntukannya. "Assalamualaikum," ucap salam Azka. 'Waalaikumsalam, Tuan. Saat ini mobil telah, apakah Anda ingin berangkat sekarang?' "Ya, secepatnya saya akan turun." Azka memutuskan sambungan telepon tersebut dan menyimpan benda pipihnya ke dalam kantong celana nya. "Sudah mau berangkat?" tanya ibunya. Azka mengangguk. "Ya, mobilnya juga sudah siap." Pria itu mengambil koper yang masih berada di atas lantai tersebut, lalu mendorongnya pelan. Mereka keluar dari kamar yang Azka tempati tersebut. Menuruni anak tangga untuk menuju ke lantai satu, Azka bisa melihat sebuah mobil yang kini terparkir tepat di depan rumahnya. "Ingat, di sana kau harus jaga diri. Ibu akan menghubungimu tiap hari." Ibunya memberikan nasihat yang langsung di-iyakan oleh Arka. "Aku berangkat dulu ya, Bu." Sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut, Azka lebih dulu bersalaman dengan ibunya tersebut. Setelah itu, barulah kakinya melangkah menuju ke tempat mobilnya berada. Dia memasuki mobil tersebut. Punggungnya bersandar, menatap kosong lurus ke depan sana. Tak berselang lama dari itu, terdengar helaan nafas yang lolos dari bibirnya itu. "Aku gak bisa menunggu ternyata, maafkan aku yang juga ikut datang ke sana."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN