Hidupku hancur, harusnya hari ini adalah hari pernikahanku dengan Elanor, akan tetapi ruang aula hotel yang telah tertata rapi dan cantik menjadi sia-sia tanpa si setan dengan balutan gaun putih indah itu, ratusan tamu undangan yang datang justru memberiku ucapan bela sungkawa. Ayah, paman dan bibi langsung pergi lagi begitu melihat pesta pernikahanku berubah menjadi pesta penghiburan, sedangkan Vian sedang sibuk mencari keberadaan Elanor yang seolah-olah ditelan bumi. Ellaku menghilang begitu saja tanpa kabar, dia mencampakanku. "Marv.. berhentilah menangis seperti perempuan." Hibur Dean. Ya, saat ini aku tengah teler sambil menangis menyedihkan dipelukan Dean. Memalukan sekali bukan? Pangeran pesta yang selalu dikelilingi oleh canda tawa dan puluhan uke manis yang mengantri untuk di t

