“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Khayra memastikan wajah cemas milik Delia bukan karena kehilangan barang. Calon ibu muda yang satu itu hanya menggelengkan kepala. Senyum lemahnya muncul namun tak mampu membohongi kalau ada sesuatu yang tak beres terjadi. “Kenapa?” “Ak-aku—” belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, ia sudah berlari kecil menuju toilet terdekat. Khayra yang ikut cemas turut menyusul dan wajah pucat Delia yang ia jumpa pertama kali. Mual-mual. Tanda-tanda kehamilan. Itu yang diketahui Khayra. Ia memijit tengkuk wanita itu dengan pelan. Hingga mual-mual itu agak berkurang baru lah Khayra bisa bernafas lega. “Aku gak apa-apa. Udah biasa kok.” Wanita itu tersenyum lalu membasuh mulutnya. “Duuh! Kalo bau begini malu aku ketemu bang Ilham!” ia menyeru lalu membasuh m

