Ending

3812 Kata
Hati-hati typo bertebaran. Happy Reading. ~~~~ "Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi aku akan tetap mengucapkan terima kasih. Walaupun karenamu Junjae melenyapkan orang tuaku dan menyiksa kakakku, tapi karenamu juga Junjae mau mengakui kesalahanya. Sekali lagi terima kasih" Mina tersenyum tipis saat mendengar ucapan Aliya. "Aku ingin minta maaf atas kesalahan kedua orang tuaku. Mereka sangat keterlaluan dan matrealistis. Bahkan mereka melakukan apapun untuk mencapai tujuan busuk mereka. Tapi seburuk-buruknya mereka tetap orang tuaku, maka dari itu aku tetap minta maaf padamu" ujar Mina. "Banyak orang menjadi gelap mata karena harta, bahkan kedua orangtuamu juga. Tapi aku tidak mempermasalahkanya. Hidupku jauh lebih baik sekarang" Mina mengangguk, ia mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. "Ini milikmu! Cha ambillah" Aliya menatap Mina aneh. "Apa ini?" Aliya mengambil kotak itu dan membukanya. Terdapat potongan bandul dengan huruf "KIM". "Itu potongan kalungmu" ujar Mina. "Gumawo!" Mina mengangguk singkat. "Aku ingin pamit" ujar Mina. "Pamit?" "Ya! Aku harus menata ulang hidupku yang hancur. Aku perlu mengasingkan diri dan menenangkan fikiranku" ujar Mina. "Kemana?" Tanya Aliya. "Italia! Aku ingin belajar Balet dan Seni disana" jawab Mina. Aliya tampak memikirkan sesuatu, dan senyum manis terukir dari bibirnya. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci. "Bawa ini!" Ujar Aliya sambil menyerahkan kunci tersebut pada Mina. "Apa ini?" Tanya Mina bingung. "15% itu untukmu" Mina membelalakkan matanya kaget. "Apa maksudmu Aliya? 15% itu milikmu dan kenapa kau menyerahkanya padaku?" Tanya Mina bingung. "Percayalah aku tidak butuh 15% itu. Jimin tidak akan membiarkanku hidup kekurangan. Park Corp tidak akan habis menghidupi keturunan kami selama 7 turunan. Maka dari itu aku memberikan 15% itu padamu. Disana ada Galery Musik dan Studio Balet. Dan bukankah kau kesana ingin belajar Balet? Maka dari itu aku memberikanya padamu. Kwon's Group punya Butik di Italia dan itu juga menjadi milikmu, ada aset Villa di Jepang dan Paris itu milikmu juga. Dan ada sebuah Apartemant disana dan kau bisa menggunakanya selama kau tinggal di Italia" Mina menggeleng, itu terlalu banyak untuknya. "Tidak Aliya! Itu sangat banyak, aku tidak bisa menerima itu semua" Aliya tersenyum. "Dan aku tidak bisa menerimanya kembali. Itu adalah hak-mu. Harabojie tidak adil, dia memberikan 80% dari Kwon's Group pada Eomma-ku dan dia hanya memberikan 5% untuk ibumu. Dan kukira 15% itu memang pantas kau milikki" Jelas Aliya. "Ibuku hanya anak tiri" kekeh Mina. "Walaupun hanya anak tiri tapi tetap saja ibumu adalah anak dari Harabojie. Terimalah itu memang pantas untukmu" "Aliya benar sayang. Ambillah! imo memang ingin memberikan 15% bagian Aliya untukmu. Kau pantas mendapatkanya" tambah Yuri. "Tapi imo aku..." "Ini akan sangat berguna untukmu, jadi terima ya?" Mina terharu, bagaimana mungkin Keluarga Kim masih bersikap baik padanya setelah apa yang dilakukan kedua orang tuanya? "Kenapa kalian begitu baik padaku?" Yuri tersenyum dan memeluk Mina. "Karena kau adalah keluarga kami. Orang tuamu memang salah tapi kau tidak" ujar Yuri sambil menepuk punggung Mina. "Gumawo imo" "Hiduplah dengan baik dan jaga kesehatanmu disana? Jika kau ingin kembali, Rumah imo akan selalu terbuka untukmu" * "Eonni bagaimana bisa kau mau dengan Alien itu" Taehyung mendengus saat mendengar ucapan adiknya. Aliya kembali menjadi orang menyebalkan dan pemaksa. "Entahlah! Aku juga bingung" ujar Lisa sambil terkekeh. "Kau bisa gila jika terus bergaul dengan Taehyung stres dan i***t ini" cetus Jimin. "Yakh Park Jimin bantet, kau juga sama i***t dan stres-nya. Jadi jangan menghinaku" teriak Taehyung kesal karena ejekan Jimin. "Berisik" teriak Aliya kesal. "Kau mulai jadi Aliya yang menyebalkan lagi" Aliya hanya menjulurkan lidahnya pada Jin. Peduli? Sama sekali tidak. "Mina sudah berangkat?" Aliya mengangguk. "Sekitar 3 jam yang lalu" jawab Aliya. "Kau mengantarnya?" Tanya Taehyung. "Ya, aku, Eomma, Appa, dan Jimin" jawab Aliya. "Wihh...Jimin Hyung mengucapkan perpisahan pada mantan tunanganya" Jimin menatap jengkel kearah Taehyung, pria itu baru saja mengolok-oloknya. "Diam saja kau Kim Tae Hyung, mulutmu mau ku robek eoh?" Taehyung mengabaikan peringatan Jimin. "Kendae Magnae, apa kau yakin akan melepaskan Junjae?" Tanya Lisa. "Ya! Aku tidak punya alasan untuk menghukumnya. Lagi pula dia juga menjadi korban pemaksaan disini. Lagipula dia masih berstatus sebagai suami Gyuri Eonni. Tidak mungkinkan aku memenjarakan Kakak iparku?" Jin dan Taehyung sebenarnya tidak setuju dengan pemikiran adiknya tapi mau bagaimana lagi? Jika Aliya sudah mengambil keputusan sudah dipastikan tidak ada yang bisa membantahnya. "Jadi kau akan benar-benar melepaskanya?" Aliya mengangguk saat mendengar pertanyaan Jimin. "Seperti kau, Junjae juga perlu kesempatan kedua" Jimin agak keberatan juga tapi mau bagaimana lagi? "Kapan kau melepaskanya?" Tanya Jin. "Minggu depan, tepat ulang tahun Gyuri Eonni. Aku akan memberikan kado dengan melepaskan suaminya" "Gyuri Noona menyiapkan surat cerai untuk Junjae" cetus Jimin. "Aku tahu! Maka dari itu juga aku melepaskan Junjae, agar bisa mengurus perceraianya dengan Gyuri Eonni" * Aliya mengusap perutnya saat merasakan lapar. Ini masih jam 1 dini hari, dan dia malas turun dari ranjang. Ia tersenyum saat melihat Jimin yang tertidur pulas disampingnya. "Jim..." tidak ada sautan. "Jim..." masih tidak ada sautan. "Yakh Cristian Chim Chim bangun" Aliya langsung mengguncang tubuh Jimin dengan kuat, akibatnya Jimin langsung bangun. "Kenapa kau membangunkanku? Aku masih mengantuk" Aliya menggeleng tidak peduli atas protes Jimin. "Aku lapar, ambilkan aku sesuatu didapur. Aku malas turun kedapur" Ujar Aliya. "Panggil saja Ahjumma Joo" Aliya kembali menggeleng. "Kasihan Ahjumma Joo! Dia sudah kerepotan dari tadi pagi. Masa kau mau membangunkanya? Lagipula anakmu juga lapar! Bukankah kau yang ingin anak? Kenapa saat anakmu lapar kau tidak mau mengambilkan makanan untuknya?" Demi Tuhan Aliya benar-benar pandai bermain drama sekarang? Dan Jimin jadi kerepotan karena itu. "Bukankah kau yang ingin pewaris? Aku sudah akan memberikanya! Kenapa kau malah jadi begini? Aku..." "Stop it! Aku akan mengambilkan makanan untukmu" Jimin langsung turun dari ranjang. Ia tidak mau mendengar rengekan Aliya yang begitu menyebalkan itu. "Yes! Kita berhasil Aegi" seru Aliya senang sambil mengelus perutnya. * Aliya menepuk pundak Gyuri, mereka tengah ada di kantor polisi. Mereka menunggu pembebasan Junjae. "Eonni pasti bisa" Gyuri tersenyum simpul. Berkat terapi yang ia lakukan kondisinya perlahan membaik dan Gyuri sangat bersyukur karena itu. "Ucapkan perpisahan dan berikan ini padanya. Eonni harus memulai kehidupan baru, lembaran baru dan masa depan yang baru" Gyuri bersyukur memiliki Aliya. Bukan hanya baik, Aliya juga sangat mengerti dirinya. "Itu dia Noona" mereka menoleh dan benar jika Junjae sudah keluar dari penjara. "Kajja kita hampiri dia" Aliya langsung menarik Junjae, sementara Jimin mengekori dua wanita itu dari belakang. "Junjae-ya" Junjae menoleh saat mendengar namanya dipanggil. "Gyuri-ya! Kau datang?" Sapa Junjae. "Aku ingin berbicara padamu. Bisakah?" Junjae mengangguk singkat. * Aliya berdiri disamping Jimin dengan santai. Mereka meninggalkan Junjae dan Gyuri berdua. Aliya kira mereka butuh waktu untuk berbicara empat mata. "Junjae pasti senang lepas dari Gyuri Noona" Aliya hanya mengangkat bahunya acuh. "Gyuri Eonni akan pindah ke Belanda untuk meneruskan pengobatanya" ujar Aliya. "Kapan?" "Bulan depan setelah pernikahan kita! Aku sudah mengatur keberangkatnya. Dan dia sudah siap untuk itu" cetus Aliya. "Eomma menyiapkan pesta besar untuk kita" Ujar Jimin. "Dan itulah yang tidak kusuka. Aku ingin pesta sederhana bukan pesta meriah yang akan menghabiskan banyak uang" kata Aliya. "Mau bagaimana lagi! Eomma memang sangat antusias, apalagi jika menyangkut berbesan dengan Eommaniem" cetus Jimin. "Eommaniem sangat berlebihan" tentu saja Taeyeon berlebihan. Kandunganya baru berusia 4 minggu dan Taeyeon sudah membelikan berbagai perlengkapan bayi. Dari mulai baju, sepatu, topi, keranjang, box bayi dan lainnya. "Eomma menganggap itu sebagai hal biasa" cetus Jimin. "Itu belum termasuk pemberian Eomma, Nida Eonni, Lisa Eonni, Jihyo Eonni dan yang lainnya" Jimin hanya tersenyum. "Bukankah itu berarti mereka menyayangi kita?" Aliya mengangguk singkat dan memeluk tubuh Jimin. "Gyuhyun ingin ice cream. Oppa belikan Nde?" Jimin tersenyum dan mengusap kepala Aliya dengan sayang. "Baiklah kita tunggu Gyuri Noona dan segera beli ice cream" * "Eonni baik-baik saja?" Gyuri mengangguk singkat. "Jauh lebih baik dari sebelumnya" Aliya tersenyum tipis. "Kita makan ice cream ya? Aku ingin makan ice cream" Gyuri mengangguk. * Aliya berdiri gelisah dalam kamarnya, sementara Nida yang melihat itu hanya tersenyum simpul. "Ottokheyo Eonni?" Nida tersenyum simpul. Aliya gugup karena hari ini adalah hari pernikahanya. "Semuanya pasti berjalan baik-baik saja" perkataan Nida bukannya membuat Aliya tenang malah semakin membuat Aliya gugup. "Bagaimana jika aku jatuh? Gaunku yang injak sendiri? Cincin yang jatuh? Atau salah ucap saat pemberkatan?" Runtut Aliya frustasi. "Gwenchanayo! Kau pasti tidak akan membuat kesalahan" ujar Nida. "Aliya.." Aliya menoleh saat mendengar suara Jihyo. "Nde Eonni?" Jihyo mendekat kearah mereka berdua. "Ada titipan untukmu" Ujar Jihyo sambil menyerahkan sebuah amplop pada Aliya. "Dari?" "Kau baca saja sendiri!" Aliya langsung membuka amplop pemberian Nida. Ia terbelalak saat melihat tiket bulan madu sebagai isinya. "Maldiv?" Tanya Aliya tidak percaya. "Dari siapa Aliya?" Tanya Nida, dan dengan cepat Aliya membuka note kecil yang ada disana. Senyum manis terukir dari bibirnya saat tahu siapa pengirimnya. "Mina" ujar Aliya. "Dia minta maaf karena tidak bisa datang" Aliya mengangguk mengerti. "Oh ya ini juga ada titipan untukmu lagi" ujar Jihyo sambil menyerahkan kotak kecil pada Aliya. "Siapa lagi ini?" Aliya langsung membukanya, dan mukanya langsung merah padam saat tahu isinya. Nida dan Jihyo yang melihat isi kotak itu langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahah! Siapa yang mengirim ini Eonni?" Jihyo menggeleng, ia tidak tahu sama sekali. "Aku tidak tahu Nida-ya. Ini kuterima dari depan. Seorang Namja memberikan ini padaku" ujar Jihyo. "Dia sangat jenius" Aliya mendecak kesal. Isi kotak itu adalah pengaman dan tespack. Ya kalian tahu lah pengaman apa yang dimaksud. "Sepertinya Namja itu mewanti-wanti agar Jimin menggunakan pengaman itu saat malam pertama kalian" cetus Nida. "Bagaimana bisa menggunakan. Aku saja sudah hamil! Pengaman ini tidak berguna" kesal Aliya. "Haha! Tapi bagaimana pria tadi bisa berfikiran untuk memberikan ini pada Aliya?" Kekeh Jihyo. "Aish! Sudahlah jangan menggodaku" kesal Aliya pada kedua kakak iparnya. "Baik-baik" * Suara tepuk tangan mendominasi ruangan yang dijadikan tempat pemberkatan Jimin dan Aliya. Ya, mereka baru saja mengucap janji suci sehidup semati, dan semua itu berjalan lancar. "Aku mencintaimu" lirih Jimin setelah menyudahi ciumanya. "Nado" * "Hyena" Aliya berlari saat melihat Hyena. "Uh! Cantiknya keponakan imo" ujar Aliya dan mengambil alih Hyena dari gendongan Momo. "Mian kami tidak datang tadi" ujar Momo menyesal. "Gwenchanayo! Lagipula sekarang kalian sudah datang! Dan itu sudah cukup" balas Jimin sambil merangkul istrinya. "Chukae Chim" Jimin mengangguk. "Dia semakin gendut" nilai Aliya saat merasakan Hyena semakin berat. "Dia jadi susah lepas dariku sekarang. Maunya menempel terus" ujar Momo sambil mengusap pipi chubby putrinya. "Dan itu membuatku susah, karena aku tidak kebagian jatah...akhhh" Namjoon memekik saat Momo mencubit keras perutnya. "Sakit" ujar Namjoon sambil mengusap bekas cubitan istrinya. "Siapa suruh kau bicara sial seperti itu?" Jimin dan Aliya tertawa saat melihat pertengkaran kecil Momo dan Namjoon. "Kau juga akan merasakanya jika Aliya sudah melahirkan Chim!" Sumpah Namjoon pada Jimin. "Aku akan memberikan anakku pada Eomma atau Eommaniem. Kevin-kan capek dibuat rebutan jadi aku memberikan cucu agar mereka tidak kesepian" Aliya mendengus saat mendengar ucapan aneh suaminya. "Mulut para Namja memang tidak bisa dipercaya" ketus Aliya sambil melirik sinis Jimin. "Wae? Kebanyakan cucu pertama pasti akan di asuh oleh Halmonie dan Harabojie-nya kan?" cetus Jimin. "Terserah kau saja Park Sialan" umpat Aliya sambil membawa Hyena menjauh dari mereka. "Aliya tunggu" Momo langsung menyusul Aliya. "Wanita memang merepotkan" keluh Namjoon. "Kau baru tahu?" Kekeh Jimin. "Nasib kita sama" mereka tertawa setelahnya. * Aliya terlihat santai saat Jimin terus meliriknya dari tadi, jika biasanya para wanita merasakan hal yang gugup saat malam pertamanya, tapi hal seperti itu tidak berlaku untuk Aliya. Yang mau digugupkan juga apa? Toh Jimin sudah melihat semua yang ada ditubuhnya bahkan dalam perut Aliya sudah ada darah daging Jimin. "Aku lelah, jika kau ingin minta itu, besok saja ya? Aku sudah tidak kuat melayanimu!" Baru saja Aliya hendak berbaring tanganya sudah ditarik lebih dulu oleh Jimin, alhasil ia duduk dipangkuan pria itu. "Besok saja Jim." ujar Aliya saat Jimin mulai meraba tubuhnya yang berbalut piama tipis. "Tidak ada kata besok! Ini adalah malam pertama kita, jadi aku harus mendapatkan hak-ku" tegas Jimin sambil terus meraba tubuh istrinya. "Tapihh..ah!" Percuma jika Aliya menolak, toh Jimin juga tidak akan mengidahkan ucapanya. "Baik! Tapi hanya satu ronde saja ya? Aku benar-benar lelah" pinta Aliya. "Kau bisa tidur jika lelah" tanpa banyak ucap Jimin langsung membaringkan tubuh Aliya dan menindihnya. * "Aku akan melepaskan kalian" Hyeri dan Taejun terkejut saat mendengar ucapan Yuri. "Yuri-ya" lirih Taejun. "Bagaimana pun kalian adalah saudaraku. Dulu ibumu merawat dan menyayangiku sama sepertimu. Dan anggap ini sebagai balasanya. Aku akan mengirim kalian ke Italia bersama Mina, dia ada disana sekarang. Dan kumohon jangan pernah injakkan kaki kalian ke Seoul lagi. Karena jika aku melihat kalian, bayangan putriku yang hilang terus menghantuiku. Dan kalian tetap akan dalam pengawasan Jin dan Taehyung. Mereka akan memasukkan kalian kembali ke sini jika kalian berbuat ulah. Jadi bersikaplah dengan baik" ujar Yuri tanpa menatap keduanya. "Studio Balet, Galeri Musik, Butik, Villa di Jepang dan Paris itu sudah menjadi milik Mina. Dan kalian akan tinggal disana bersamanya" jelas Yuri. "Aku akan sangat berterima kasih jika kalian menuruti ucapanku untuk tidak kembali ke Seoul. Hiduplah dengan baik, besok kalian bebas dan akan segera menyusul Mina. Kami pergi" Jungwon merangkul istrinya menjauh dari mereka berdua. "Mian Yuri-ya" lirih Hyeri. * "Jadi bagaimana kabarmu?" Tanya Junjae pada Gyuri, mereka tidak sengaja bertemu di Jalan tadi. "Baik! Seperti yang kau lihat" jawab Gyuri dengan senyum. "Kabar Aliya?" Tanya Junjae. "Sama sepertiku! Dia baru menyelesaikan pernikahanya pagi tadi dan resepsinya baru saja selesai" ujar Gyuri. "Oh! Aku mendengar jika dia menikah dengan Jimin pagi ini" kata Junjae sambil melirik Gyuri. "Tentu saja dengan Jimin, Aliya sedang hamil anak Jimin jadi Jimin harus menikahinya. Lagipula mereka memang sudah dijodohkan sejak bayi, dan mereka kembali bertemu setelah dipisahkan berkali-kali. Jadi wajarkan jika mereka menikah?" Cetus Gyuri dan itu membuat Junjae gugup. "Mian aku.." "Gwenchanayo semua sudah berlalu. Semua sudah memulai kehidupan barunya sekarang. Termasuk aku" Junjae menatap Gyuri. Mantan istrinya ini terlihat berbeda, lebih santai dan kalem. Bahkan Junjae melihat jika tidak ada ketakutan dimata Gyuri saat berada ditempat umum. "Hah! Sudah malam aku pulang dulu, terima kasih untuk kopinya" baru saja dua langkah Gyuri berjalan tanganya sudah dicekal oleh Junjae. "Semua orang sedang memulai kehidupan barunya. Bolehkah aku memulai kehidupan baruku juga?" Gyuri mengangkat satu alisnya bingung. "Maksudmu?" "Aku ingin memulai kehidupan baruku, dan itu denganmu! Bolehkah?" * "Eomma dan Aliya terlalu baik" cetus Jin. "Itu sudah menjadi sifat mereka Oppa! lagipula Hyeri imo masih saudara Eommaniem, dan Junjae adalah mantan suami dari Gyuri. Jadi jika Eomma dan Aliya ingin melepaskan mereka itu sudah menjadi hak mereka" balas Jihyo pada suaminya. "Tapi mereka berbuat keterlaluan Hyo-ya" Jihyo mengangguk mengerti. "Tapi akan lebih baik jika semua orang saling memaafkan! Agar tidak terjadi hal seperti ini lagi masa mendatang" nasihat Jihyo. "Setiap orang pasti memiliki mimpi dalam hidupnya. Jika mimpi Oppa adalah melihat orang yang ada disekitar Oppa bahagia, maka Oppa harus belajar mengerti apa yang diinginkan mereka. Oppa tidak bisa memaksakan kehendak Oppa pada mereka. Lagipula mereka pasti tahu apa yang benar dan salah. Percayalah semua pasti akan baik-baik saja" kata Jihyo. Jin sontak menatap istrinya dalam. "Kau berbicara soal mimpi kan?" Jihyo mengangguk, ia belum tahu arti tatapan mata suaminya. "Bagimana tentang mimpimu menjadi seorang ibu?" Jihyo terbelalak saat mendengar ucapan Jin. Dia mundur saat Jin mendekat kearahnya. "Oppa aku.." "Bagaimana jika segera kita wujudkan mimpimu itu? Aku sudah tidak sabar mendengar tangisan bayi dirumah ini!" Jin semakin memojokkan tubuh Jihyo dan berakhir Jihyo jatuh keranjang. "Oppa" "Aku menunggu Baby Kim memanggilku Appa!" "Oppa..emphhh" * "Aku bahagia" Lisa tersenyum saat mendengar ucapan Taehyung. "Jinja? Apa karena kembalinya Aliya?" Tanya Lisa. "Bukan hanya karena kembalinya Adikku, tapi juga karena kau mengatakan iya untuk menjadi pendamping hidupku!" Lisa tersenyum manis. Saat pesta Jimin dan Aliya tadi, Taehyung dengan berani melamarnya didepan kedua orang tuanya. Dan hebatnya keduanya setuju saat itu juga, Lisa juga tidak kuasa menolak, karena dia juga sangat mencintai Taehyung. "Gumawo!" Ujar Lisa. "Untuk apa?" "Karena Oppa sudah mengikatku dan aku jadi tidak perlu mengusir para Namja yang mendekatiku lagi" ujar Lisa sambil memeluk Taehyung. "Apakah para serangga itu masih mengganggumu?" Tanya Taehyung sambil mengapit dagu Lisa. "Sebelum ini iya, tapi sepertinya setelah ini tidak lagi. Aku sudah menjadi calon istri dari Kim Taehyung sekarang" Taehyung tersenyum saat mendengar ucapan Lisa. "Kau tahu, dulu aku berharap bisa mengurungmu dikamar mandi, karena kau tidak kau mau diam dan terus saja berlari" cetus Taehyung sambil terkekeh. "Aku juga selalu ingin melakban bibir Oppa" cetus Lisa kesal. "Wae?" "Karena kau selalu memamerkan senyum kotakmu itu pada yeoja lain. Dan aku tidak suka itu" tawa Taehyung meledak saat mendengar ucapan Lisa. "Sekarang senyum kotak ini hanya milikmu jadi jangan kesal lagi Nde?" Lisa menatap manik indah Taehyung. "Aku juga milik Oppa. Saranghae" Taehyung mengulum senyum saat Lisa mencium bibirnya dengan lembut. Dan tak berselang lama Lisa melepaskan pagutanya. "Nado saranghae" Taehyung kembali membungkam bibir plum Lisa dan kali ini lebih dalam dan lembut. * Mina menatap langit malam Italia dengan senyum tipis. Ia baru selesai latihan dan ia masih berada di Studio Baletnya. "Mrs.Jung" Mina menoleh saat mendengar panggilan yang tidak asing ditelinganya. "Kau kesini lagi! Untuk apa? Ini sudah malam bodoh" ketus Mina pada Namja jakung yang berdiri tak jauh darinya. "Aku hanya ingin mengembalikan payungmu yang kupinjam kemarin" balas pria itu. "Seharusnya kau taruh saja didepan dan tidak usah masuk tadi" kesal Mina saat melihat senyum pria itu. "Come on Jung! Aku hanya ingin berkunjung" Mina mendenus dan kembali mengarahkan pandanganya pada langit malam Italia. "Kau suka bintang rupanya" cetus pria itu sambil berdiri disamping Mina. "Kau merusah malam indahku Nam Taehyun" kesal Mina pada Taehyun. "Aku hanya ingin menemanimu" cetus Taehyun sambil merangkul Mina. "Lepaskan!" Taehyun semakin mengeratkan pelukanya. Ia menatap manik indah Mina dengan dalam. "Aku tahu hari ini orang yang kau cintai menikah, dia sudah memulai kehidupan barunya sekarang, dan kau juga harus melakukan hal yang sama" Mina menatap bingung kearah Taehyun. "Apa maksudmu Nam?" "Biarkan aku menggantikan posisi Jimin dihatimu. Mulai sekarang dan untuk selamanya. Ubah margamu, Jung harus menjadi Nam, dan kupastikan mimpiku untuk merubah Jung Mina menjadi Nam Mina akan menjadi kenyataan" cetus Taehyun, setelahnya ia membungkam bibir Mina dengan bibirnya. "Jadilah istriku, ibu dari anak-anakku dan teman hidupku untuk selamanya. Jung Mina Will You Marry Me?" * Momo tersenyum saat melihat Hyena yang tertidur setelah menyusu padanya. "Sudah tidur?" Tanya Namjoon dan dibalas anggukan oleh Momo. "Aku akan tidurkan Hyena dulu" ujar Momo sambil membawa Hyena ke box-nya. "Tidur yang nyeyak Chagi" Momo menyelimuti putrinya dengan selimut pink dan mengecup sayang dahi putrinya. "Kesini" Momo mengangguk dan langsung duduk dipangkuan Namjoon. "Hyena banyak menyita waktumu sekarang" keluh Namjoon sambil mengecupi leher putih istrinya. "Dia butuh waktu yang banyak denganku Namjoon-ah. Lagipula kau juga bekerja ahh!" Cetus Momo sambil mengadahkan wajahnya keatas. Namjoon sangat butuh akses yang luas untuk menciumi lehernya. "Jika itu pagi tidak masalah! Tapi malam dia juga meminta waktumu dan tidak menyisakanya untukku" Namjoon semakin gencar mengecupi leher putih istrinya, dan kali ini disertai dengan hisapan. "Yah! Ah!" Momo tidak bisa membalas ucapan Namjoon, ciuman Namjoon membuatnya kehilangan kesentrasi. "Ah!" Momo kembali mendesah saat Namjoon meremas gundukan kembarnya dengan keras, akibatnya asi-nya juga ikut keluar. "Jang-han..kerhaas..kerhass" instruksi Momo pada Namjoon. "Ini semakin besar" ujar Namjoon sambil menelusupkan tanganya pada bagian d**a Momo. "Hyena selalu menghisap ini! Aku juga mau" Namjoon langsung membaringkan Momo, dan ia melepas semua kain bagian atas tubuh istrinya. "Namjoon-ahhh" "Aku mendengernya sayang" cetus Namjoon dan kembali menghisap kuat sumber makanan putrinya. "Hah! Ah!" * Aliya menyerah, Jimin benar-benar menyerang dirinya tanpa berniat berhenti. Aliya berpesan agar Jimin hanya main satu ronde saja, tapi dari jam 11 malam sampai jam 3 dini hari ini, Jimin tidak berhenti menyerangnya. "Jimhh..." Aliya bergerak seperti cacing kepanasan saat Jimin kembali memasukan jari panjang pria itu kedalam tubuhnya. "Ah!" Aliya tidak tahan lagi, Jimin benar-benar menyiksanya. "Emphh" Jimin kembali membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman panas, dan yang bisa Aliya lakukan adalah membalas ciuman Jimin. "Ah!" Jimin melepaskan pagutan bibir mereka saat Aliya kembali mendapatkan pelesapasanya. "Otte?" Tanya Jimin sambil memanggut Niplle Aliya yang sudah menegang dari tadi. "Ah!" Jimin menyusu seperti bayi yang sedang kepalaran. Bagian yang akan menjadi sumber makanan anak-anaknya kelak ini terlihat sangat menggoda, apalagi ukuranya yang semakin besar membuat Jimin tidak bisa menyiayiakanya begitu saja. Aliya sendiri merasakan ngilu yang sangat luar biasa saat Jimin memagutnya, entah kenapa akhir-akhir ini bagian itu selalu terasa ngilu. Ukuranya juga semakin besar, mungkin ini karena efek dari Janin yang tumbuh didalam tubuhnya. Jimin melepaskan pagutanya dan menuju bagian bawah tubuh istrinya, daerah sensitif Aliya berkedut hebat, ia memijat pelan Juniornya yang sudah tegang dari tadi, dan dengan sengaja Jimin meggesek-gesekkan Juniornya pada pusat tubuh Aliya yang sudah basah. Aliya mengerang saat Jimin kembali menggodanya. "Kauhh...benarhh...inghinn...kuhh..ah!" Ucapan Aliya terputus-putus karena Jimin semakin intest menggodanya. "Park...Jimhinn...brenggshekkk" umpat Aliya saat Jimin tidak segera menyatukan tubuh mereka. Sementara Jimin tersenyum saat mendengar umpatan frustasi Aliya, ia memang sengaja menggoda Aliya, desahan frustasi Aliya membuatnya bersemangat. "Aku tahu jika kau sudah tidak tahan b******k. Jadi cepatlah!" Jimin tersenyum dan dengan sekali hentakan ia menyatukan tubuh mereka. "Kau ingin aku bermain cepat atau lambat hem?" Tanya Jimin seduktif. "Terserah! Tapi cepatlah, aku sudah sangat lelah" Jimin tersenyum dan mulai menggerakkan tubuh mereka. Perlahan-lahan gerakan Jimin semakin cepat. Ia sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi. "Emphh.." "Yahh..." "Ahhh..." "Ouhg..." "Neoh...fuck...fuckk..." "Yeah...push...hah..shit...shit..." Desahan mereka benar-benar menggema memenuhi kamar ini. "Bersama sayang" lirih Jimin. "Akuh...ah!" "Yeah...faster...please" "Arghhhhh" Tubuh Jimin ambruk diatas tubuh Aliya, tapi ia segera bangkit saat mengingat Aliya yang tengah hamil. "Kau maniak" maki Aliya sambil terengah. "Aku hanya menuntaskanya. Kau tahu aku sudah lama menahanya" balas Jimin sambil mengusap perut Aliya yang terlihat sedikit membuncit. "Baru 10 minggu, tapi kenapa sudah terlihat?" Ujar Jimin. "Entahlah! Dokter Han bilang jika kemungkinan kembar" Jimin kaget saat mendengar ucapan Aliya. "Kembar?" Tanya Jimin tidak percaya. "Ya! Aku sudah memeriksanya" jawab Aliya. "Laki-laki atau perempuan?" tanya Jimin antusias. "Kalau jenis kelamin belum bisa dipastikan. Mereka masih sangat muda" Jimin mengangguk dan memeluk tubuh Aliya dengan erat. "Dulu aku selalu bermimpi memelukmu setiap malam, sama seperti ini" cetus Jimin tiba-tiba. "Tapi aku berbeda! Aku bermimpi membalas demdam pada orang yang menyakiti keluargaku. Dan aku ingin menggunkan kau untuk membalas Mina. Itu adalah mimpi sebelum Aliya hamil" cetus Aliya. "Jadi mimpimu itu masih kau lanjutkan eoh?" Tanya Jimin sinis. "Entahlah! Aku masih memikirkanya" "Yakh..." Aliya tertawa saat melihat ekspresi kesal Jimin. "Ania Jim, itu adalah mimpi saat masa kelam dalam hidupku. Dan mimpiku yang sekarang adalah memulai kehidupan baru bersama suamiku dan membesarkan anak-anakku denganya" ujar Aliya sambil mengecup kilat bibir Jimin yang mengerucut. "Jinjayo?" Aliya mengangguk tegas. "Dan aku juga punya mimpi baru" ujar Jimin. "Mwo?" Tanya Aliya penasaran. Jarang-jarang Jimin terbuka dengan keinginannya. "Membangun rumah tangga bahagia dengan Park Ji Byung, membuat banyak anak dan membesarkan mereka bersama-sama" Ujar Jimin sambil tersenyum bangga. "Banyak? Kau mau berapa?" Tanya Aliya penasaran. Seberapa banyak Jimin ingin anak darinya? "Ehm...11 kita akan buat tim sepak bola Kelaurga Park Jimin otte?" Ujar Jimin dengan senyum mengembang lebar. "Yahk kau mau membunuhku?" teriak Aliya kesal. "Heheh! Bolehkan?" Cetus Jimin tetap ingin. "Tidak, hanya akan ada 2 Park dan tidak boleh lebih" tegas Aliya. "Shiroe! Aku mau 11" balas Jimin sengit. "2..11..2..11..2..11" "Park Jimin Pabo" End.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN