Ihsan sudah bisa menguasai dirinya saat berayun pelan meskipun dia yang sebenarnya agak kesulitan, karena milik istrinya yang sempit menjepit yang seolah menghisap seluruh tubuhnya, tapi dia sangat menikmati setiap kali berayun, dan ini yang memang dia impikan. Kelegaan, kedamaian, dan kehangatan bercampur menjadi satu diiringi desahan lembut manja suara Mia, membuat malam pengantinnya menjadi begitu sempurna. Pun Mia, dia tidak berhenti mendesah dan terkadang mengerang, kenikmatan kali ini sangat berbeda dan dia yang terus memegang pinggang Ihsan seolah harus melekat dan tidak ingin lepas dari tubuhnya. Keduanya saling menatap dengan tatapan hangat, Ihsan yang berayun pelan dan hikmat dan Mia yang begitu pasrah membiarkan tubuhnya diselimuti kenikmatan. Ihsan mulai mempercepat ayunan

