Ihsan baru saja menyelesaikan sesi latihannya pagi ini, dia mengambil ponsel dan tersenyum puas, Robi telah mendapat semua data dan laporan untuk mencekal Marcell, dan keberadaan Marcell yang masih terlacak, yakni di kediaman Dwi. Ihsan yakin permasalahan ini akan segera selesai tanpa pihaknya terlibat. Dia juga mengingatkan Robi untuk mengawasi surat menyurat rumah Dwi yang bisa saja sudah berada di tangan Marcell. “Om Ihsaaan!” Ihsan terkesiap, cepat-cepat meletakkan ponsel dan berlari menuju kamarnya. “Mia? Sakit?” cemasnya. “Nggak, Om. Cuma mules terus, tapi agak lama.” Mia memegang bawah perutnya yang bergejolak. Ihsan langsung mengambil semua tas yang sudah dia persiapkan bersama Mia seminggu yang lalu. “Om, mandi aja dulu.” “Nggak bisa, Sayang. Kita harus segera ke rumah sak

