Chapter 6 :
The World We're Living In (1)
******
SEPULANG dari rumah sakit, Hea dibawa oleh Yohan ke lapangan yang sering mereka kunjungi. Hea opname sekitar dua hari dan selama itu pula, Yohan selalu berada di dekatnya. Yohanlah yang membayar semua biaya rumah sakit beserta obat-obatan Hea; dia bersikeras agar Hea diopname di rumah sakit untuk menyembuhkan semua luka di tubuh gadis itu.
Tentu saja, itu bukan pertama kalinya Hea melukai tubuhnya sendiri. Tubuhnya dipenuhi dengan memar dan goresan benda tajam. Penyebab memar-memar itu adalah karena ‘dianiaya’ oleh ayah dan kakaknya, sementara penyebab goresan-goresan benda tajam itu adalah karena Hea sering melukai dirinya sendiri. Dia sering melakukan itu untuk merasakan sesuatu. Setidaknya…dia tidak merasa kosong atau mati rasa.
Namun, yang ia lakukan dua hari yang lalu…bukanlah untuk ‘merasakan sesuatu’, melainkan untuk mencicipi kematian. Untuk menyusul ibunya.
Dia hanya ingin beristirahat…
Well, sepertinya, Tuhan belum mengizinkannya untuk beristirahat. Tuhan masih mengirimkan Jung Yohan untuk menyelamatkannya di waktu yang tepat. Selama ini, Hea cukup bersyukur Yohan datang ke dalam hidupnya, tetapi…dua hari yang lalu…
…Hea tidak mensyukuri kedatangan Yohan.
Hea justru frustrasi karena Yohan menyelamatkannya. Seharusnya Yohan tidak usah datang. Seharusnya Yohan tidak usah ada di sana.
Agar Hea bisa berpulang.
Namun, Hea tak bisa…marah kepada Yohan. Ia tahu bahwa Yohan benar-benar hanya ingin menyelamatkannya. Pemuda itu menemaninya, merawatnya, bersedih untuknya, dan merasa takut akan kepergiannya.
…padahal ia tahu bahwa pemuda itu juga sakit, sama sepertinya.
Apakah akan tiba saatnya di mana Yohan akan berhenti peduli padanya?
Selain itu…
…apakah akan tiba saatnya di mana mereka benar-benar tak bisa lagi bertemu?
Kalau benar begitu…siapa yang nantinya akan lebih dahulu pergi?
Hea menatap jauh ke depan. Ke tanaman alang-alang yang memenuhi lapangan luas itu. Ia berdiri bersandar di kap mobil hitam milik Yohan, berdampingan dengan pemuda itu.
Sinar mentari sore ini begitu indah. Sinar itu berwarna oranye dan menyinari seisi lapangan itu. Langit yang berwarna oranye, beberapa burung yang terbang di langit, dan Jung Yohan dengan t-shirt abu-abunya…
…semuanya elok.
Rambut Yohan berwarna hitam. Embusan angin sore yang sepoi-sepoi itu menerbangkan helaian rambutnya, memperlihatkan wajahnya yang tampan dan bersih. Senyumnya juga…tampak jauh lebih indah di bawah langit sore.
Di suasana yang tenang, indah, dan sepi itu,
…meski sesaat, rasanya Hea…
…bisa bernapas dengan baik…
Untuk sesaat, rasanya…
Hea bisa beristirahat.
Ini bagaikan mencicipi surga untuk pertama kalinya. Sesuatu yang tak pernah Hea nikmati sebelum bertemu dengan Yohan.
Seraya tersenyum tipis, dengan bibirnya yang tampak masih sedikit pucat, Hea tiba-tiba memikirkan sebuah hal. Sebuah pertanyaan, sebuah keinginan…yang sebenarnya sudah sering ia pikirkan.
Tuhan, apakah surga…lebih dari ini?
Ini saja sudah cukup, Tuhan…
Ini sudah terlihat seperti surga…di mataku.
Apakah ada…sesuatu…yang lebih dari ini?
Surga itu seperti apa, Tuhan…?
Aku tak tahu.
Apakah aku boleh…masuk ke sana?
Apakah aku…takkan bisa mencicipinya setelah aku mati nanti?
Ada sebuah denyutan yang menyakitkan di jantung Hea tatkala memikirkan itu. Hea tanpa sadar menunduk dan mencengkeram dadanya sendiri.
Di titik ini, bahkan keindahan pun terasa menyakitkan. Seperti halnya bunga yang mekar, hujan yang menghantam jendela, lagu yang enak didengar…semua itu jadi terasa menyakitkan karena akan mengingatkan mereka pada apa yang pernah mereka rasakan. Rasa sakit akibat mengingat bagaimana rasanya hidup, tetapi tak mampu mencapainya lagi.
“Hea?”
Mendengar panggilan yang lembut itu, Hea langsung menoleh ke sebelahnya. Ke arah Yohan. Tatapan mata Hea terlihat kosong; ada lingkaran hitam di area matanya.
Yohan tengah memperhatikannya seraya memiringkan kepala.
Hea hanya diam. Akan tetapi, gadis itu melepas cengkeraman di dadanya.
Ia melihat perubahan tatapan mata Yohan saat itu. Sinar matahari sore tampak memantul di kedua mata cokelat gelap milik Yohan, membuat mata pemuda itu jadi terlihat semakin indah, tetapi ia tahu bahwa tatapan pemuda itu tiba-tiba berubah.
Seolah-olah tahu bahwa Hea bisa merasakan perubahan tatapannya, tiba-tiba saja Yohan tersenyum manis.
Entah bagaimana, Hea pun tahu bahwa mungkin Yohan langsung tersenyum karena tak mau membuat Hea merasa tak nyaman, apalagi Hea baru saja pulang dari rumah sakit.
“Tidak apa-apa,” ucap Yohan seraya menatap ke depan lagi. Pemuda itu masih tersenyum manis; helaian rambut yang menutupi dahinya kembali tertiup angin.
Hea bernapas samar, lalu melihat ke arah yang sama.
Untuk sepuluh detik lamanya, mereka sama-sama diam. Sama-sama menikmati angin dan langit sore itu…serta suasana di sana yang begitu damai. Tanaman alang-alang yang bergoyang ke kanan dan ke kiri, pucuk berwarna putihnya yang seakan-akan memantulkan sinar oranye…
Itu semua sungguh menenangkan jiwa.
Andai saja…hati Hea juga setenang itu.
Andai saja…Hea bisa berada di sini selamanya hingga ia percaya bahwa ia bisa merasakan ketenangan yang sama.
Apakah Yohan juga berharap demikian?
Soalnya, sama seperti Hea, Yohan juga bukan manusia normal.
Ketika para manusia dengan jiwa yang hancur melihat dunia, mereka tidak melihat harapan. Mereka melihat beban. Tiap kali matahari terbit, itu terasa seperti ‘sesuatu’ yang harus mereka lalui lagi. Setiap napas adalah negosiasi: tinggal atau pergi.
Bukan karena mereka tak ingin hidup. Akan tetapi, bagi mereka, menjalani hidup terasa seperti menyeret tubuh sendiri di dalam air yang semakin lama semakin dalam, sementara orang-orang di sekitar mereka sepertinya bernapas dengan baik-baik saja.
“Kuharap…” Yohan tiba-tiba berbicara. Hea langsung menoleh kepada pemuda itu.
Dua detik lamanya Yohan diam…hingga akhirnya, pemuda itu pun melanjutkan.
“Kuharap kau tak menyesali kenyataan bahwa aku menyelamatkanmu, Hea.”
Mata Hea melebar.
Apakah Yohan…merasakan itu?
Ternyata, mereka memang sama.
Sama, sampai-sampai bisa menebak apa yang ada di pikiran satu sama lain.
Hea menunduk. Gadis itu meneguk ludahnya.
Tak lama kemudian, Hea menatap ke depan lagi.
“Kau mampu menebak apa yang kupikirkan, tahu jalan pikiranku…” ucap Hea. “tetapi masih berharap bahwa aku tidak memikirkannya.”
Yohan menunduk. Tatkala angin masih menerbangkan helaian rambutnya, pelan-pelan matanya mengerjap. Memandangi rumput dan tanaman alang-alang yang ada di bawahnya, tetapi sebetulnya dia tak benar-benar memandang ke sana.
“Kau…mau meninggalkanku, ya?”
Mendengar pertanyaan itu, Hea pun menunduk. Gadis itu menghela napasnya.
“Apakah aku akan menambah lukamu?” tanya Hea.
Yohan diam sejenak.
Beberapa detik kemudian, pemuda itu mulai mendongak. Menatap langit sore yang berwarna oranye di atas sana.
“Hm.”
Hea menoleh. Tatapannya pada Yohan jadi begitu nelangsa, nyaris berkaca-kaca.
“Aku tak mengerti denganmu,” ujar Hea kemudian. “Kau tidak baik-baik saja. Seharusnya kau tak punya waktu untuk memedulikanku.”
Yohan tersenyum tipis.
“You know what, Hea?” ujar Yohan. “Seharusnya kau tak perlu muncul di depan mataku, datang ke duniaku, waktu itu. Di restoran itu. Agar aku juga bisa pergi dari dunia ini.”
Hea mendengarkan Yohan dengan saksama.
“Akan tetapi, aku tak pernah menyesali pertemuan kita,” lanjut Yohan.
Mata Hea melebar.
“Jadi, jika kau tahu bahwa aku tidak baik-baik saja…” Yohan tersenyum tipis, semanis dan seringan gulali, lalu membalas tatapan Hea. “kuharap kau takkan menambah lukaku dengan pergi dari dunia ini.”
Tatapan mata mereka pun terkunci. Di antara keindahan dunia yang ada di sekitar mereka; di antara tiupan angin yang lembut itu…Hea bisa melihat kedua mata jernih milik Yohan yang memantulkan sosok Hea, tetapi dipenuhi oleh luka.
Di pantulan mata pemuda itu, Hea terlihat menyedihkan. Gadis itu pucat, tetapi masih sedikit lebih baik daripada dua hari yang lalu. Ia memakai jaket berwarna krim (milik Yohan) yang kebesaran di tubuhnya.
Di sisi lain, Yohan juga melihat dirinya sendiri di kedua mata Hea.
Meski keduanya sama-sama tak tahu apa sebabnya, meski keduanya sama-sama ingin membicarakan banyak hal, mereka tetap berada di posisi itu selama beberapa detik. Memandangi satu sama lain seakan-akan ingin saling menarik, saling mengirimkan getaran berupa keinginan, saling menikmati kenyamanan dan keindahan momen itu, serta saling mengungkapkan pikiran masing-masing.
Hal magnetis itulah yang tak pernah bisa mereka mengerti sejak pertama kali mereka bertemu.
Mereka tak bisa berpaling.
Hea belum mengalihkan pandangannya dari Yohan. Ia hanya mulai menjawab dengan pelan.
“Kau akan lelah.”
Yohan menghela napas.
“Apakah aku pernah terlihat lelah karenamu?” tanya pemuda itu.
Hea menggeleng, lalu kembali menatap ke depan.
“Akan. Suatu hari nanti, kau akan lelah,” ujar Hea. Wajah pucatnya itu sama sekali tak berekspresi. “Kau tidak cukup sehat untuk selalu memedulikan orang lain, terutama manusia yang sudah tak bisa diselamatkan sepertiku.”
Yohan ikut menatap ke depan. Tatapannya sangat jauh.
Setelah itu, ia mulai tertawa pelan. Hambar.
“Hea,” katanya. “Dunia yang kita tinggali ini…tidak hanya abu-abu. Ini redup. Rasanya kita seperti bernapas melawannya, bukan bersamanya. Segala sesuatu rasanya tidak selaras, seolah-olah detak jantung yang ada di realitas sudah tak sesuai lagi dengan detak jantung kita.”
Napas Hea tertahan di tenggorokan. Ada sebuah lembing yang seakan-akan menohok jantungnya tatkala mendengar itu.
“Akan tetapi…” Yohan bernapas samar. “sejak awal, aku sudah tahu bahwa yang tidak bisa diselamatkan bukanlah kita, melainkan dunia ini.”
Hea tersenyum pahit.
“Tapi orang lain baik-baik saja, Yohan,” jawabnya. “Mereka hidup di dunia yang sama…tetapi mereka hidup dengan tenang.”
“Bagian itulah yang selalu membuatmu ingin lari, bukan?” ujar Yohan. “Karena kau merasa seperti dibuang…atau seperti orang luar yang tidak seharusnya ada di sini. Kau ingin beristirahat, ingin tenang…dan kau merasa mungkin saja tempatmu bukan di sini.”
Hea menunduk. Semua yang Yohan katakan itu benar. Yohan pasti juga…merasakan itu…
Yohan kembali tersenyum tipis.
“Percayalah, Hea,” ujar Yohan. “Aku juga merasakan hal yang sama. Kita tak pernah punya alasan untuk bertahan. Aku tahu bahwa bertahan demi seseorang itu konyol dan terkesan seperti meremehkan rasa sakit itu sendiri, tetapi…tidakkah alasan itu cukup untuk kita berdua yang tak pernah mendapatkannya?” []