Bab 7: Liburan Bersama?

3122 Kata
Satu minggu kemudian "Yey, kak Khaibar bisa! Besok kita ke merapi!" seru Namzah dengan sangat heboh. Gadis itu bahkan melompat di atas ranjang Nazhwa yang ada di Indekos. "Serius Nik?" tanya Nayla. Mata gadis itu yang sedari tadi fokus pada game yang dia mainkan kini menatap Nazhwa tidak kala antusias. Nayla memang memanggil Namzah dengan Unik itu plesetan dari kata Uni dalam bahasa Minangkabau atau artinya sama dengan kakak. Satu minggu di Jogja mereka belum benar-benar pergi liburan Mereka hanya berjalan-jalan dekat sini berdua karena Nazhwa sangat sibuk. "Beneran! Lihat, kak Khaibar balas DM aku!" seru Namzah sembari memperlihatkan room chat instagramnya dengan Khaibar. Namzah berinisiatif untuk memfollow Khaibar duluan, dia tidak berekspektasi bahwa Khaibar akan memfollow balik akun instagramnya kemudian mengirim pesan apa yang akan Namzah lakukan di waktu weekend ini bersama dengan Nazhwa. Namzah langsung saja menjawab mereka tidak punya kegiatan apapun karena Nazhwa sangat sibuk. Namzah dan Nayla sudah sangat terbiasa dengan kesibukan Nazhwa sejak dulu. Mereka tahu apa yang di lakukan oleh kakak perempuan mereka itu adalah untuk kebahagiaan mereka. Itulah sebabnya keduanya sangat penurut pada Nazhwa dan selalu mengharapkan yang terbaik untuk kakak perempuannya itu. Namzah dan Nayla juga tahu apa alasan Nazhwa tidak ingin berkencan dengan siapapun sampai sekarang. Mereka tahu, tapi mereka tidak memiliki hak untuk menceritakan itu pada banyak orang. Walau terlihat sering menggoda Nazhwa, mereka berdua juga selalu bisa diandalkan untuk menjaga bagian-bagian privasi Nazhwa. "Asikk! Aku juga mau follow kak Khaibar kalau gitu. Heran banget kenapa kak Wawa harus segalak dan sesinis itu sama orang ganteng dan baik kayak kak Khaibar!" seru Nayla. Gadis itu memilih keluar dari game dan mulai beranjak ke aplikasi i********:. "Kak Wa, besok kita ke merapi bareng kak Khaibar. Kakak nggak boleh nolak. Kakak harus luangkan waktu buat kita. Senin kita harus pulang ke Padang kak, Mama bisa ngamuk kalau aku dan Nayla terus menunda waktu buat pulang," ucap Namzah. Nazhwa yang baru saja ingin melayangkan penolakannya langsung terdiam. Kalau adiknya sudah memohon seperti ini dan membawa mama sebagai alasan maka Nazhwa sudah tidak akan bisa menolak lagi. "Terserah kamu, udah sana jauh-jauh. Aku masih punya pekerjaan," ucap Nazhwa, gadis itu kembali fokus pada layar laptop-nya. Membenarkan posisi kacamata yang melotot ke hidung. Nazhwa selalu menggunakan kacamata ketika sedang bekerja di indekosnya dan akan memilih lensa kotak ketika dia melakukan kegiatan di luar. "Itu novel yang ditawarkan untuk di cetak sama platform? Memang harus di selesaikan di platform-nya dulu ya, Kak?" tanya Namzah, dia ikut mengamati layar laptop milik Nazhwa. "Hm, dengan dua versi ending. Kalau nggak selesai di platform dulu nanti pembacaku marah dan kabur semua." Namzah mengangguk mengerti. "Kak Wawa, nggak capek?" tanya Namzah, Nazhwa langsung menoleh pada Namzah, tatapan gadis itu berubah menjadi penuh peringatan. "Nam, berapa kali aku bilang, aku baik-baik aja. Kamu sana balik ke Nay, tidur lebih awal kalau bisa. Pak Khaibar bukan orang yang menyukai orang terlambat!" seru Nazhwa. Namzah terlihat mengangguk patuh. Walau sebenarnya dia ingin mendengar Nazhwa berkata dengan jujur namun Namzah memilih tidak melakukan itu. Dia lebih memilih bergabung dengan Nayla yang kembali sibuk bermain game. *** "Pagi." Khaibar menyambut tiga gadis yang baru keluar dari gerbang indekos. Range rover milik pria itu terparkir mencolok di jalan yang cukup sempit indekos Nazhwa. Nazhwa memang bukan orang yang mengerti tentang otomotif tapi dia sangat tahu berapa kisaran harga mobil mewah seri terbaru itu. Harga mobil itu jelas di atas satu miliar. Sebenarnya tidak perlu heran jika Khaibar mengendarai mobil ini karena Nazhwa juga melihat beberapa kali orangtua Khaibar datang ke kantor dengan mobil merek yang sama namun seri yang berbeda. "Pagi kak Khaibar," ucap Namzah dan Nayla dengan sangat riang. Kedua gadis itu membawa kotak bekal yang sedari tadi cukup menarik perhatian Khaibar. "Masakan kak Wawa, kak Khaibar harus nyobain nanti," ucap Nayla, Khaibar langsung tersenyum mendengar itu. Tatapannya langsung tertuju pada Nazhwa yang terlihat membawa tote bag dengan ukuran yang cukup besar. "Kamu bisa masak?" tanya Khaibar ketika dia sudah mempersilahkan Namzah dan Nayla masuk duluan ke dalam mobil. "Menurut bapak?" tanya Nazhwa dengan raut wajah yang terlihat cukup lelah. "Nazh, kamu kurang tidur?" "Pak, kenapa tiba-tiba ngeiyain ajakan Namzah? Bukannya itu sangat merepotkan. Waktu yang bapak miliki akan terbuang sia-sia," ucap Nazhwa, dia memikirkan tentang ini sejak semalam waktu dia lembur menulis novel. Khaibar tersenyum mendengar itu, "Nazh, saya hanya sedang melakukan apa yang ingin saya lakukan, nggak ada waktu yang terbuang sia-sia. Saya sudah memikirkan apa yang akan saya dapatkan setelah pergi jalan-jalan hari ini. Jadi nggak usah terlalu merasa tidak enak. Kalau kamu canggung dengan saya karena saya atasan sekaligus dosen kamu. Kamu bisa menganggap saya teman mulai hari ini," ucap Khaibar, pria itu membukakan pintu mobil untuk Nazhwa membuat Namzah dan Nayla langsung menatap menggoda pada Nazhwa. "Masuk, Nazh," ucap Khaibar. Nazhwa lagi-lagi menatap pria dengan penampilan kasual itu sekali lagi sebelum akhirnya Nahzwa masuk ke dalam mobil itu membuat Khaibar menggelengkan kepalanya. "Kapan terakhir kali kak Khai pergi ke merapi?" tanya Nayla. Gadis itu terlihat sangat antusias hari ini. Entah karena memang bahagia karena akan pergi ke merapi atau justru bahagia kakaknya memiliki seorang atasan, dosen sekaligus teman yang sangat baik. "Empat atau tiga tahun yang lalu kayaknya," jawab Khaibar dengan ragu. Semenjak selesai dengan pendidikan SMA, Khaibar melanjutkan pendidikannya ke Amerika Serikat. Mengambil pendidikan strata pertama sampai MBA-nya di sana, barulah Khaibar kembali benar-benar pulang ke Yogyakarta. "Really? Kenapa bisa?" tanya Namzah, gadis itu juga terlihat kebingungan. "Pak Khaibar baru kembali ke Indonesia, Nam," jawab Nazhwa membuat Khaibar langsung tersenyum bangga pada Nazhwa seolah Nahzwa baru saja melakukan hal besar. Padahal Khaibar baru kembali ke Indonesia itu sudah menjadi rahasia umum di Shantha. "Kenapa senyumnya gitu?" tanya Nazhwa. "Saya nggak percaya kalau kamu tahu saya baru pulang ke Indonesia," jawab Khaibar. Nahzwa menarik napasnya. "Bukannya itu adalah rahasia umum. Waktu pertama kali Bapak datang ke Shantha sebagai manajer marketing, sekretaris ibu Rindu menjelaskan dengan sangat jelas latar belakang pendidikan Bapak, jadi wajar lah saya tahu," jawab Nazhwa dengan sangat logis. "Ya ampun kak Wawa, serius banget dari tadi. Itu cuma lelucon atau becandaan atau godaan kak!" seru Namzah merasa gemas sendiri. Khaibar lagi-lagi terkekeh mendengar itu apalagi ketika Nazhwa menatap dengan sangat galak pada Namzah. "Just kidding, Sis, sowryy! " Nazhwa mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Suasana mobil itu berubah menjadi sangat ramai dengan perdebatan Namzah dan Nayla tentang sejarah gunung merapi. Kapan gunung itu mengalami erupsi terakhir kalinya bahkan mereka memperdebatkan tentang hal lainnya seperti mobil Khaibar akan berbelok atau tidak di jalan berikutnya atau tidak dan hal random lainnya seperti menebak berapa umur pohon-pohon yang mereka lalui, kenapa para petani mengganti tanaman padi menjadi jagung dan hal lainnya yang membuat Nazhwa bertindak menjadi penengah kedua adiknya atau kadang Khaibar yang berusaha menjelaskan pertanyaan random dari keduanya. *** "Serius nih kak Khai yang akan jadi driver kita?" tanya Namzah, setelah memilih spot yang akan mereka kunjungi, Khaibar terlihat berbicara dengan seseorang cukup akrab sampai pada akhirnya datang dengan sebuah kunci jeep di tangannya. "Serius, kalian bebas mau kemana aja, tinggal bilang," jawab Khaibar, pria itu mempersilahkan Namzah dan Nayla naik terlebih dulu untuk mengisi kursi belakang Jeep yang akan mereka kuasai sampai puas. Setelah dua orang gadis itu mendapatkan posisi yang nyaman, barulah Nazhwa dan Khaibar naik, mengisi posisi depan. "Kok bisa orang nya kasih kunci Jeep kek kak Khai?" tanya Nayla sembari memasang helm. "Kebetulan kenal, lagian juga udah janjian dari kemarin," jawab Khaibar seadanya. Pemilik Jeep ini adalah teman lamanya, mereka dulu pernah ada di organisasi yang sama, walau tidak terlalu dekat namun mereka cukup kenal dengan baik. "Ah, aku paham, aku hampir lupa kalau kak Khai adalah orang Jogja." Nayla terkekeh menyadari kebodohannya sendiri. "Nanti kalau mau berdiri, perhatikan tiang ya, bisa benjol kepala kalian kalau sampai kebentur tiang," ucap Khaibar. Dua gadis itu mengangguk dengan sangat patuh. "Nazh pakai helm-nya," ucap Khaibar ketika menyadari Nazhwa belum memakai helm. Nazhwa mengangguk patuh. Untuk hal semacam ini dia tidak akan protes pada Khaibar karena Nazhwa tahu ini akan sangat berpengaruh pada keamanannya. "Sudah siap?" tanya Khaibar. Tiga gadis itu mengangguk dengan sangat kompak. Namzah dan Nayla mulai berteriak sesuka hati mereka. Nazhwa terlihat memilih menikmati semuanya dengan tenang. Gadis itu mengeluarkan kamera dari tasnya. Mulai memotret pemandangan di sekitarnya. Ini semua sangat indah. "Kak Wawa, foto kita juga. Ini harus di abadikan, yaampun aku senang banget, akhirnya aku benar-benar pergi liburan!" seru Nayla dengan sangat semangat. Diantara mereka bertiga, Nayla adalah yang paling aktif di sosial media bahkan gadis itu juga satu-satunya yang memiliki pacar. Apa Nahzwa tidak marah soal itu? Jawabannya tidak, dia tidak pernah membatasi apapun yang ingin adiknya lakukan asalkan keduanya tahu batas wajarnya. Nazhwa langsung mengarahkannya kameranya ke arah dua adiknya itu. Memotret berkali-kali dengan gaya yang berbeda kemudian Nazhwa juga mengarahkan kameranya pada Khaibar, mengambil beberapa foto Khaibar dengan candid. Hasilnya sama sekali tidak mengecewakan, pria itu termasuk orang yang fotogenik ternyata. Mereka pertama mengunjungi bunker kaliaden, batu alien, museum mbak Maridjan kemudian yang terakhir adalah track air kalikuning. Di track kali kuning Nazhwa benar-benar tidak bisa lagi bersikap tenang. Gadis itu meneriakkan nama Khaibar ketika air hampir membasahi tubuhnya, track ini biasanya banyak di sukai orang karena benar-benar cukup menantang dan Nazhwa ternyata salah satu dari orang-orang itu, Khaibar mengajak mereka berputar berkali-kali. Senyum pria itu melebar ketika mendengar teriakan Nahzwa selepas itu bahkan gadis itu menyebut namanya berulang kali membuat perasaan Khaibar benar-benar menghangat. Dia senang Nazhwa menyebut namanya dengan sekeras itu. "Yaampun ini benar-benar seru, ini spot yang paling aku suka walau bajuku basah!" seru Namzah ketika mereka keluar dari track kalikuning. Ini sudah sore. Mereka memang menikmati setiap spot dengan sangat baik tanpa melewati apapun. Kamera Nazhwa mungkin sekarang sudah penuh dengan foto-foto mereka. "Mau liat sunset dulu?" tanya Khaibar. Tiga orang gadis itu langsung mengangguk, Nazhwa bahkan terlihat sangat antusias. Nazhwa selalu menyukai sunset jadi dia jelas tidak akan pernah mau melewatkan itu. Mereka termasuk orang yang sangat beruntung hari ini karena cuacanya sangat baik sehingga mereka dapat menikmati semua spot tanpa halangan. "Kak Wawa sama kak Khai foto berdua dulu, dari tadi kalian nggak punya foto bareng. Serahkan tugas photograper ke aku dan Nayla sekarang," ucap Namzah, gadis itu mengambil alih kamera milik Nazhwa. Menyuruh Khaibar dan Nazhwa untuk berdiri saling berdampingan. Dua orang itu terlihat kebingungan satu sama lain. "Canggung banget yaampun!" seru Nayla, dia menatap Khaibar dan Nazhwa gregetan. Gadis itu mengatur pose untuk Khaibar dan Nazhwa. Untuk duduk saling berdampingan di dalam jeep. Sunset hari ini sangat indah. "Kak Wawa senyum kak! Moment kayak gini tuh belum tentu akan terulang lagi. Jangan sia-siakan sunset kesukaan kakak yang indah banget hari ini!" seru Namzah. Mereka tahu Nazhwa bukan orang yang senang berfoto, kalau kalian lihat galery handphone Nazhwa pasti akan mengejutkan sekali karena kalian tidak akan menemukan foto Nazhwa di sana saking jarangnya gadis itu berfoto. Kamera handphone Nazhwa hanya berfungi untuk memotret dokumen atau justru langit. Kamera yang sering di bawa gadis itu berpergian juga berisi keadaan disekitarnya. Tidak ada wajah Nazhwa di sana yang benar-benar hanya Nazhwa saja. Kalau adapun, sudah di pastikan foto gadis itu bersama dengan teman-temannya. Namzah dan Nayla terus mengatur posisi foto Khaibar dan Nazhwa. Khaibar terlihat sangat menikmati itu bahkan dia tanpa ragu untuk tersenyum dengan lebar atau menatap Nazhwa tanpa menyentuh gadis itu karena menurut Khaibar itu tidak sopan di lakukan untuk sekarang bahkan kalau dikatakan dalam konteks becanda itu juga tidak sopan karena itu akan membuat Nazhwa merasa tidak nyaman dengannya. Khaibar tidak ingin Nazhwa semakin membuat jarak dengannya. "Keren banget yaampun!" seru Namzah, menatap dengan kagum hasil potret yang baru saja dia ambil. Khaibar dan Nazhwa terlihat sangat sempurna dalam foto ini. Nazhwa dan Nayla bahkan tidak berhenti untuk berdecak kagum. "Kak Wa, aku nggak tahu akan seheboh apa i********: kakak kalau sampai ada yang lihat foto ini. Mereka nggak perlu lagi membayangkan visual buat setiap tokoh novel kakak aktor atau aktris lagi karena visul kakak dan kak Khai terlihat sempurna di sini, mewakili semua tokoh-tokoh khalayan itu!" seru Namzah semangat. Gadis itu mendekat ke arah Khaibar dan Nazhwa. Memberikan kamera milik Nazhwa pada Khaibar yang memang posisinya lebih dekat dengannya. "Novel? Kamu seorang novelis, Nazh?" tanya Khaibar. Nazhwa menggeleng cepat-cepat. Matanya langsung menatap Namzah penuh peringatan. "Bukan, sekarang ayo pulang. Ini udah terlalu sore." Nazhwa buru-buru mengalihkan topik pembicaraan dan mengambil kamera miliknya dari tangan Khaibar. Nazhwa tidak ingin seorangpun tahu bahwa dia adalah seorang penulis novel apalagi orang itu adalah salah satu dari penghuni Shantha. Nazhwa tidak ingin pandangan orang padanya langsung berubah ketika mengetahui sisinya yang lain. Tidak semua orang bisa menerima seorang penulis apalagi penulis romance sepertinya. *** "Gimana kak rasanya?" tanya Nayla ketika Khaibar memakan kalio ayam yang di masak Nazhwa setelah shalat tubuh tadi. Nazhwa sebenarnya ingin masak rendang ayam tapi waktu yang dia miliki terlalu singkat. Nazhwa ikut memperhatikan ekspresi wajah Khaibar, dia takut rasa kalio ayam itu akan berubah mengingat ini sudah sore. "Saya harap rasanya nggak berubah," ucap Nazhwa, gadis itu terlihat cukup khawatir ketika Khaibar belum juga mengatakan apapun. "Ini enak, saya bahkan belum pernah makan ayam yang kayak gini. Saya pikir cuma ada gulai ayam ternyata ada juga yang namanya—apa tadi?" "Kalio ayam—" Nayla menjawab cepat, "nah itu maksudnya. Ini enak banget, saya suka—" tiga gadis yang duduk bersama dengan Khaibar itu dengan kompak menghembuskan napas mereka lega. Mereka pada akhirnya juga ikut makan bersama dengan Khaibar. Masih dengan menikmati suasana merapi dari kejauhan karena mereka tadi memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan mencari tempat yang lebih santai untuk bisa makan. "Saya baru tahu kamu jago masak," ucap Khaibar memecah keheningan di antaranya dan Nazhwa yang ada di meja sedangkan Namzah dan Nayla terlihat jalan-jalan sambil menikmati sisa sore. "Nggak jago, Pak, cuma bisa aja." Nazhwa dengan cepat mengoreksi karena Nahzwa sebenarnya bukan orang yang terlalu suka masak tapi Nahzwa hanya berpikir bahwa dia harus bisa masak. Memasak adalah salah satu skill yang harus di miliki oleh setiap orang menurut Nahzwa baik perempuan atau laki-laki karena tidak ada orang yang bisa hidup tanpa makan. Iya, sekarang makanan bisa di pesan tapi olahan rumahan kadang jauh lebih enak di bandingkan apapun. "Untuk orang yang bisa, kamu udah level jago, Nazh. Kalio ayam kamu enak banget. Saya suka." Nahzwa tersenyum tipis sembari mengangguk menanggapi ucapan Khaibar. "Terimakasih, Pak." Entahlah, Nahzwa berpikir kalau dia memang harus mengatakan itu pada seseorang yang menghargai apa yang dia lakukan. "Ngomong-ngomong, Namzah bilang kamu semalam tidur hampir jam dua pagi dan bangun subuh kemudian harus masak kalio ini yang saya yakin nggak cuma butuh waktu sebentar. Nazh, jangan memaksakan diri dengan keras, kamu berhak untuk istirahat,," ucap Khaibar. Dia menatap gadis yang duduk di sampingnya dengan lekat. Jika di perhatikan sedekat ini. Khaibar dapat melihat kantong mata Nazhwa dengan jelas. Gadis ini pasti bekerja sampai larut malam. Nazhwa terlihat cukup terkejut dengan ucapan Khaibar. Nazh, kamu berhak untuk istirahat. Nazhwa sudah jarang mendengar orang-orang terdekatnya mengatakan itu padanya. "Jadwal saya terlalu padat di setiap weekend, nggak ada waktu untuk bersantai, Pak. Kalau saya lengah maka jadwal saya akan jadi berantakan. Semua nggak akan bisa saya selesaikan dengan baik," jawab Nazhwa dengan jujur. Entah kenapa dia mengatakan itu pada Khaibar padahal selama ini Nazhwa tidak pernah ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. "Yang di bilang Namzah benar? Kamu seorang penulis?" tanya Khaibar. Nahzwa menatap ragu pada Khaibar. Bibir gadis itu terkunci dengan sangat rapat. "Sebagian besar penulis menyembunyikan identitas diri mereka tapi setiap kata yang mereka torehkan dapat menyentuh hati banyak orang. Penulis selalu menjadi orang yang hebat di mata saya. Tidak peduli dia seorang penulis fiksi atau non fiksi. Mereka selalu hebat di bidang mereka. Jadi jangan menyembunyikan hal hebat seperti itu Nazh." Khaibar menatap Nahzwa dengan senyum tulus, lagi-lagi hal itu membuat Nazhwa terdiam. Ini untuk pertama kalinya Nazhwa mendengar cara seseorang memandang penulis seberharga itu. "Tapi nggak semua orang punya pemikiran seperti bapak. Penulis fiksi macam saya yang bahkan diksinya saja masih berantakan, kosa kata yang dimiliki sangat kurang, tidak akan pernah terlihat di mata orang banyak, Pak. Mereka hanya akan berakhir menyepelekan dengan kata-kata ah modal hayalan doang, siapapun bisa menghayal!" "Tapi nggak semua orang bisa menjadikan hayalannya sebagai karya yang menarik dan di nikmati oleh banyak orang——" Khaibar melirik sebentar ke arah Namzah dan Nayla, memastikan dua gadis itu tetap aman, "Kamu bilang kamu tidak terlihat di mata banyak orang, itu salah. Semua orang akan terlihat di mata orang yang menyukainya. Maksud saya, kamu akan terlihat di mata para pembaca setia kamu selama ini. Kenapa kamu terlihat di mata mereka bahkan menunggu setiap karya kamu? Ya, karena mereka menyukai semua cerita kamu. Kamu nggak bisa memaksakan orang yang suka nonton film untuk menyukai sebuah novel. Film dan novel memiliki media yang berbeda Nazh. Jadi pada akhirnya, semua yang kita lakukan akan terlihat di mata orang yang memang mengerti apa yang kita lakukan." Nazhwa mengangguk berkali-kali. Mendengar apa yang di katakan oleh Khaibar membuat Nazhwa mengerti bahwa dia tidak memiliki kewajiban untuk membuat orang lain menyukai apa yang dia lakukan. "Jadi kamu benar-benar seorang penulis?" tanya Khaibar, pada akhirnya Nazhwa mengangguk, bukan tanpa alasan, mendengar cara pandang Khaibar pada seorang Penulis membuat Nazhwa merasa cukup aman. Pria itu tidak akan menghakiminya. "Bisa di katakan begitu," jawab Nazhwa seadanya. Dia tidak pernah terlalu percaya diri ketika seseorang menanyakan hal seperti itu padanya. "Kamu tahu, saya lagi-lagi di buat terkejut dengan kamu. Saya pikir kuliah sembari kerja itu sudah luar biasa keren karena saya tahu sendiri sulitnya membagi waktu untuk belajar maksimal dan bekerja dengan baik. Kemudian ternyata kamu juga seorang penulis dan bisa masak seenak ini. Kamu luar biasa, Nazh!" seru Khaibar, pria itu tidak terlihat ragu untuk memperlihatkan rasa kagumnya. Nazhwa hanya tersenyum tipis mendengar itu walau dalam hati Nazhwa merasa sangat senang, dia senang mendengar kalimat Khaibar. Nazhwa merasa begitu dihargai. "Terimakasih Pak, kalimat bapak menyelamatkan saya hari ini. Saya akan berusaha jauh lebih keras." "Dan kamu juga harus istirahat lebih banyak. Kerja keras itu boleh Nazh tapi ingat kamu juga harus membahagiakan diri kamu sendiri. Waktu tidak akan bisa di ulang kembali. Kamu tidak boleh menyesal dimasa depan karena tidak memiliki kenangan menyenangkan untuk di ingat," ucap Khaibar, tangan pria itu terlihat bergerak ke atas ingin mengusap puncak kepala Nazhwa namun pada akhirnya memilih mengurungkan niat itu karena lagi-lagi Khaibar merasa, dia tidak pantas untuk melakukan itu sekarang. Nazhwa merapatkan bibirnya dan mengangguk. "Saya akan mencoba walaupun nggak terlalu yakin," jawab Nazhwa sembari meringis membuat Khaibar langsung terkekeh pelan. Khaibar pada akhirnya mengajak tiga gadis yang sedang bersama dengannya untuk meninggalkan tempat mereka makan untuk mencari mesjid karena adzan maghrib terdengar. Bermain sekeras apapun, sesibuk apapun, shalat adalah hal yang selalu berusaha Khaibar jaga dengan baik. Kedua orangtuanya mengajarkan seperti itu dan Khaibar tahu betul akan kewajibannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN