“Paduka.” Panggil Nazhwa. Dia tidak melepaskan tatapannya dari Khaibar yang sibuk menatap uap kopi hitam yang baru saja pria itu pesan ditengan obrolan mereka di warung bambu. Keadaan warung bambu yang memang tidak ramai membuat keduanya lebih leluasa dan memilih duduk lebih lama di sana. Nazhwa bahkan kembali memesan sepiring mendoan untuk dia makan bersama dengan Khaibar di tengah obrolan-obrolan mereka. Khaibar mengalihkan tatapannya dari uap kopi itu dan menatap Nazhwa yang ternyata sejak tadi menatapnya dengan begitu lekat, “kamu menunjukkan banyak senyum di hadapan orang-orang yang mengucapkan selamat di hari kamu bertambah usia tapi kamu nggak benar-benar senang dengan umur kamu sekarang, kan? Apa yang kamu takutkan?” tanya Nazhwa. Sebenarnya Nazhwa sudah ingin menanyakan ini sejak

