Khalid menggeleng lalu menghela napas panjang. Kepalanya bisa saja pecah karena lelah menduga tingkah laku istrinya. “Sebelum makan siang Abati akan siapkan dokumennya,” kata Bintang menampilkan senyuman. Khumaira melompat kegirangan. Tak peduli apa, ia ingin menghambur dan terbang singkat di udara. “Khalid! Aku berhasil.” Khalid mendekati mereka dengan perasaan bangga, “Selamat untukmu.” Khumaira lalu memeluk ayahnya, “Terima kasih, Abati!” Khumaira juga mencium pipi ibunya. “Terima kasih, Ummi.” Khalid benar-benar melihat kegembiraan Khumaira meluap. Sampai wanita itu berbalik dan berlari melewatinya sekali lagi. “Mau ke mana? Apa lagi yang akan kau lakukan, Mai?” “Berkemas!” seru Khumaira tanpa berbalik. Khalid mengerjap. Sedetik kemudian ia paham arah yang dibicarakan san

