Khumaira itu wanita yang banyak drama. Sedang baik-baik saja sudah banyak dramanya, apalagi dengan kondisi hamil begini. Khalid jelas sudah mempersiapkan diri. Begitulah yang perlu ia ingat setiap langkahnya kembali ke Kastil Abinaya atau sebelum dirinya bertemu lagi dengan Khumaira. “Assalamu’alaikum,” ucap Khalid membuka pintu kamar. “Khalid!’ seru Khumaira, matanya menunjukkan semangat hidup yang menyala. “Wa’alaikumussalam.” Khalid mendekat, mencium pipinya. “Hai, Saleha. Sedang apa?” “Bermain denganku!” paksanya menarik Khalid duduk. “Ini ... kau. Ini, aku.” Khalid menerima mainan kecil berbentuk orang dari bahan plastik kemudian ikut alur keinginan istrinya. Belum Khalid berganti pakaian. Belum juga punggungnya diistirahatkan. Tetapi Khalid tak keberatan dengan pinta Khumaira.

