Khumaira menatap danau dari pintu belakang rumah. Airnya tenang, semilir anginnya sejuk dan indah pemandangan sore ini. Ada perahu di tepi dermaga, tempat ketakutan dan semua trauma pertama yang dialaminya. Khumaira termenung mengenang kilas balik apa yang terjadi sebelum mereka sampai di sini. Perpisahan di Kastil Abinaya tak dramatis, terutama dari sisi Khumaira yang menganggap hal itu biasa saja. Dulu ia ketika berusia tujuh tahun sudah dibiasakan terpisah dari orang tuanya, tinggal di asrama dan pulang hanya kadang-kadang. Namun, Latifa Bakrie menangis banyak hingga tersedu kali ini, beliau seolah punya kekhawatiran tersendiri. Air mata ibunya tak menyurutkan tekad Khumaira, ia makin harus segera memutuskan. Akan tetap bertahan bersama Khalid atau melepas segala beban dan tanggung jaw

