Gugup Beralasan

1459 Kata
Khalid bangkit tiba-tiba saat suara para wanita di sebelahnya mengucapkan doa penutup majelis sebagai tanda berakhirnya kegiatan mereka. Ia segera kembali ke mobilnya, berdiri di sana menunggu gadis pemilik sapu tangan itu. Saat pintu masjid dibuka, menyeruak banyak wanita berpakaian sama. Bergamis hitam, berjilbab hitam dan sebagiannya mengenakan cadar mereka. Ada beberapa yang memakai gamis biru gelap, cokelat dan warna pekat dengan berbagai jenis modelnya. Khalid sulit menemukan yang mana Khumaira. Rasanya mereka semua sama saja. Mereka juga semuanya memandangi Khalid sambil berjalan menjauh. Kemudian, Khalid tak paham bagaimana bisa semua di sekitarnya melamban. Satu langkah terdengar di telinga Khalid. Gerakan salah satu gadis itu terdengar beradu dengan degup jantungnya. Ajaib, sesaat matanya seolah mengenali Khalid. Khalid yakin itu dia, maka ia pun mengangkat tangan, memamerkan sapu tangan. Saat sosoknya mendekat, Khalid pikir ia akan pingsan karena gugup sekali. Makin dekat Khumaira, makin lemas terasa lututnya. Namun, Khalid tak bisa menjeda waktu barang sebentar untuk memperbaiki keadaannya. Saat akhirnya tiba Khumaira di depannya, gadis itu mengulurkan tangan. Telapak tangan putih yang bersemburat kemerahan, meminta barangnya dikembalikan. Khalid pun memberikannya. “Terima kasih.” Khumaira kemudian berlalu menuju sebuah mobil. Satu kalimat singkat saja. Khalid yang menempuh perjalanan setengah jam, menunggu setengah jam juga dan satu kata itu yang hanya Khumaira berikan untuknya. Khalid terpaku di tempat, hanya melihat gadis itu makin menjauh tanpa sedikit pun berbalik. “Mai!” panggil Khalid akhirnya. “Khumaira!” tegas gadis itu berbalik, “Ada apa?!” Dalam hati Khalid yakin mata hitam pekat Khumaira pasti menampilkan semangat menyala atas panggilan sesuka hati yang Khalid sematkan. Namun, Khalid tetap mendekatinya, meski degup jantung seolah akan meledak karena begitu cepatnya memacu darah. Ia lalu berhenti sekitar lima langkah jarak mereka. Menghargai nama baik Khumaira dan menghindari rasa dalam dadanya yang tak karuan dibuatnya. “Aku akan melamar, terima aku sebagai suamimu.” Khumaira punya kesibukan, banyak sekali dan sudah terjadwal rapi. Hari ini khususnya agenda talaqqi. Seperti biasa sebotol air mineral, sebotol lainnya jus buah ia bawa sebagai bekal. Khumaira tak punya pemikiran pagi ini akan berbeda dari biasanya, tetapi saat selesai ia menemukan Khalid Wandawarma melambaikan sapu tangan kepadanya. Khumaira tak yakin apakah pria itu tahu yang mana Khumaira, tetapi pandangan Khalid terkunci padanya begitu yakin saat Khumaira mendekat. Khumaira berusaha mengabaikan senyuman pria itu, fokusnya mengambil sapu tangan, berterima kasih lalu pergi. Namun, tak semulus rencana semula, Khalid malah menghampirinya. “Aku akan melamar. Terima aku sebagai suamimu,” katanya tegas, terngiang kedua kalinya di kepala Khumaira. Khumaira jadi memandang matanya, untuk menemukan kesan bercanda yang ternyata tak ada, tak bisa Khumaira temukan apa-apa selain kesungguhan. Kaki Khumaira terpaku meskipun ia ingin mundur atau masuk ke dalam mobil saja daripada mendengar kalimat itu. Setelah satu kalimat lengkap, padat yang begitu jelas maksudnya, Khalid berbalik ke mobilnya sendiri lalu berderu pergi. Sekian detik kemudian Khumaira masih tergugu di tempatnya sampai sopir Khumaira turun dan menyapa. Kepala Khumaira penuh dengan Khalid Wandawarma. Sulit dicerna akal sehatnya mengapa pria itu bersikap membingungkan. Padahal kesan pertemuan mereka tak pernah baik-baik saja. Ada juga peringatan bahwa ayah Khalid meminta putranya itu untuk tidak tertarik pada Khumaira. Namun, yang terjadi bertentangan sekali. Sebenarnya Khumaira tak memikirkan pria itu sama sekali. Ia sibuk dengan menjelekkan Rahman dalam kepala jika sedang senggang kegiatannya. Khumaira turun lagi saat mobil berhenti di lapangan parkir perusahaan Abinaya. Sambil berjalan ia menggenggam sapu tangannya yang berisi sulaman tangan Latifa Bakrie. Ia hampir lupa benda itu, lagi pula Khumaira punya lebih dari satu yang serupa. Khumaira masuk ruangan rapat, terlambat dari yang lainnya. Tak ada kursi kosong yang tersisa, yang disediakan untuknya oleh mereka. Memang, seringnya Khumaira tak dianggap ada oleh mereka. Jadi, jika terlambat sedikit saja, maka terpaksa Khumaira tak ikut atau seringnya mengikutsertakan diri dengan keras kepalanya. Tak lewat dari lima belas detik, Bintang Abimayu yang posisinya di kepala meja bangkit, “Kemari, Saleha!” Khumaira menurut lalu didudukkan di kursinya. Kursi pimpinan perusahaan perhiasan Abinaya. Bintang berdiri di sisinya, tersenyum. “Aku akan menjadikannya pemimpin setelah dia resmi menikah,” ujar Bintang lantang kepada anggota keluarga Abinaya. “Keputusan serampangan tidak baik,” sahut satu suara mewakili bisik-bisik yang kecil terdengar. “Kami menolak.” Bintang tenang membalas, “Aku punya kuasa untuk meneruskan niatku. Sebaiknya kalian mendukung keputusan ini.” “Pemimpin harus pria!” “Bagaimana kita bisa dipimpin seorang gadis?!” “Tidak masuk akal!” Bintang mengangkat tangannya, “Aku bilang setelah dia menikah,” ulang Bintang. “Jadi, gelarnya setelah menikah bukan gadis lagi. Kalian berminat menjadi besanku?” Khumaira yang semula hanya penyimak situasi panas ruangan rapat jadi menaikkan sebelah alisnya kepada sang ayah. Jika Latifa Bakrie dan Khairan begitu dekat, maka Khumaira dan ayahnya juga. Kadang tanpa perlu kata, saling memahami di antara mereka. Bintang Abimayu terkekeh pada saat semua orang bingung dan protes akan pengumumannya. “Siapa suami Khumaira akan mempengaruhi keputusanku selanjutnya. Kita sepakat pendampingnya harus pria sempurna juga. Kalian boleh mengajukan siapa saja, tetapi keputusan akhir tetap di tangan Khumaira.” “Abati, kau melelangku?” bisik Khumaira tak suka. “Kau perlu dipertemukan dengan pria terbaik. Seseorang perlu menunjukkan arah kepada pria buta arah yang jadi jodohmu.” Khumaira berhasil tersenyum atas gurauan sang ayah. Tantangan Bintang ia terima. Secepatnya Rahman harus merasakan pembalasan Khumaira. Pria itu perlu tahu Khumaira tidak memikirkannya lagi. Rahman Kalukalima harus yakin kalau menikah itu tak harus pakai cinta, tetapi hidup harus pakai logika juga. Khumaira tak akan menangisnya ataupun cinta. Khumaira akan menikahi seorang pria sempurna yang bisa membuat nyali Rahman ciut saat di dekatnya! *** Khalid berputar-putar seputar kota dengan mobilnya. Ia dipenuhi keresahan akan diri sendiri. Sudah tahu kalau terlarang baginya tertarik pada Khumaira, tetapi yang Khalid lakukan malah melamar gadis itu tepat di depan matanya. Khalid mencengkeram erat setir, lalu menghentikan laju kendaraan sembarangan di tepi jalan. Napasnya menderu sendirian. Khalid memejamkan mata sesaat, kembali telinganya dipenuhi suara lembut Khumaira saat membacakan ayat-ayat itu. Khalid menundukkan kepalanya. Tindakannya dikendalikan hati bukan akal. Hatinya ingin dekat Khumaira. Hatinya mau memiliki gadis itu. Apa yang telah dikatakannya kepada Khumaira tulus, terlontar dari lubuk hatinya terdalam. Namun, Khalid ragu akan kelanjutannya. Khalid hanya anak yang tak terikat darah dengan Bagas Wandawarma. Khalid hanya orang asing yang diperlakukan seperti putra sendiri oleh Bagas. Belasan tahun kepalanya penuh dengan berbagai peraturan untuk tidak mengecewakan pria baik itu. Khalid bahkan belum pernah berani melirik seorang gadis untuk dicintainya hanya karena tak ingin pilihannya bertentangan dengan Bagas. Pernah Khalid berpikir kalau akan ada hari Bagas menunjuk seorang gadis untuk dinikahinya, maka Khalid akan menikahi gadis itu sekalipun dia gadis lumpuh tak bisa bicara, cacat fisik dan apa pun kekurangannya, Khalid dengan ikhlas akan menikahinya asal dia pilihan Bagas, tapi kini ... Ya Tuhan! Khalid melamar Khumaira, gadis yang tidak boleh Khalid tertarik kepadanya. Mencintai Khumaira berarti menentang Bagas, sekaligus merusak wasiat ibunya. Khalid benar-benar kesal atas dirinya sendiri. Khalid menjalankan kendaraan, lalu berhenti lagi saat melihat gerobak penjual minuman. Awalnya ia ingin membeli sesuatu berkomposisi cokelat, mint atau apa saja yang bisa menenangkan sarafnya sebelum bertemu Bagas Wandawarma. Namun, saat menu teh terbaca matanya, ia terkenang segelas plastik yang Khumaira bawa untuk Bintang Abimayu hari itu. Khalid pun merenung kepada gelas tehnya sendiri. Ia benar-benar menginginkan Khumaira. Perasaan menggebunya yang datang menyerbu membawa Khalid kembali ke rumah. Ditemukannya Bagas Wandawarma sedang duduk membaca dari tabletnya. Pria itu begitu saja mengangkat kepala, melepas kacamata saat Khalid tiba. “Abi ...” panggil Khalid memulai. Tak biasanya ia gugup hanya untuk menyampaikan sesuatu. Namun, gugupnya saat ini tak sebesar tadi, saat di depan Khumaira. “Katakanlah.” Khalid ingin setidaknya ada satu hal dalam hidupnya yang sesuai keinginan sendiri, tanpa memikirkan balas budi atau perasaan ayah sambungnya. “Aku ingin melamar Khumaira.” Bagas menarik napas panjang lalu pelan-pelan menghempaskannya. Kacamata yang semula dipegang kini terlipat di atas meja. “Kau mengembalikan sapu tangannya?” “Ya.” “Bukan,” Bagas bangkit dari duduk dengan tenang. “Kau bukan mengembalikan sapu tangannya, tetapi menyerahkan hatimu.” Khalid menggulung bibir. Ia sadari telah jatuh cinta. Tak ada hal lain yang bisa ia jadikan tersangka selain cinta. Suara Khumaira, lentik bulu mata dan binar indah maniknya. Belum lagi langkah anggun dan kepercayaan diri gadis itu yang memesona. Khalid tak bisa melepaskan dia untuk pria mana pun. “Bagaimana kalau alasan ibumu melarang adalah hal yang besar?” Otak Khalid mulai mencarikan alasan. “Abi, Ibu sudah pergi. Khumaira di depan mata. Pernikahan. Kalau bukan dengannya, aku tidak ingin dengan siapa pun juga.” Bagas menelisik sosok pria muda di depannya. Ekspresi dan kesungguhannya menampilkan tekad. “Kau benar-benar jatuh cinta, Khalid.” “Wajar sekali mencintai Khumaira. Dia tak kurang satu hal pun,” balas Khalid yakin. Bagas menatap putranya, lebih lembut dengan mata sayu penuh sayang. “Dia kelebihan ambisi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN