Menunggu

1409 Kata

Khumaira sedang memeriksa hasil penjualan serta ulasan dari para pemesan yang sudah menerima permata edisi terbatas mereka. Sejak tadi Khalid yang duduk di sofa ikut berkomentar, tetapi mendadak suaminya jadi diam. “Mereka menantikan pameran selanjutnya,” kata Khumaira. “Kuharap di sini akan ada galeri memadai untuk pameran permata. Rasanya aku ingin mengenalkan Indonesia kepada mereka juga.” “Saleha,” Khalid bangkit mendadak. Dia mendekat lalu mencium kening Khumaira. “Aku pergi sebentar.” Mendadak, tegang wajah Khalid. “Ke mana?” “Ini urusan penting, Saleha. Nanti kuberitahu setelah kembali.” Khumaira paham kalimat suaminya dan mengangguk. “Hati-hati di jalan.” Khalid mengusap perut Khumaira lembut, “Jaga Ummi, Nak.” Khumaira tergelak, geli juga senang. “Aku ingin dipanggil Uma,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN