Khumaira terkesiap bangun. Tak ada cahaya apa pun di dekatnya. Gulita gelap menyelubungi Khumaira. Ketakutan. Tangan hitam banyak terjulur mendekat. Khumaira lekas mengerut, memejamkan mata karena takut. “Abati!” panggilnya. “Abati!” “Abati! Gelap! Khumaira takut, Abati!” seru Khumaira berceceran hingga takutnya menjadi tangis. Sekalipun Khumaira sudah menutup mata, ada banyak Rizal Seroseja di sekitar Khumaira. Pria gila itu kembali menampilkan senyum aneh dan gerakan tanpa moralnya, tanpa celana, sambil memanggil, mendesahkan nama Khumaira. “A---abati!” panggil Khumaira ketakutan saat para Rizal itu makin dekat ke tubuhnya. Nyeri Khumaira berpusat pada titik tengah tubuhnya. Mendadak Khumaira teringat satu hal. Apa yang terjadi sebelum gelap menyelimuti ini. “M---mai!” Khumaira

