MENANTU DANUARDARA

2410 Kata

Setelah makan malam tadi, entah bagaimana caranya kami berakhir di kamar pribadi milik Nashby di kantor ini. Dia memelukku dari belakang dan aku masih setia memunggunginya dengan menatap kosong ke arah kerlap-kerlip pemandangan Kota Jakarta. Tidak lama setelahnya aku merasakan ciumannya di ceruk leherku yang membuatku menggeliat kegelian. “Berhenti Mas,” ucapku dengan tawa tertahan karena geli. “Kamu ngelamun terus daritadi. Kamu mikirin apa sih?” tanya Nashby dengan bibir yang masih saja usil mencium tengkuk leherku. “Kamu sebenarnya ngapain sih, Nashby!” Omelku yang kini mulai tidak bisa menahan perasaan geli itu. “Kamu kalau sebel, lucu. Mana panggilan Masnya? Aku gak mau berhenti sebelum kamu panggil aku dengan benar!” ancam Nash dengan mulut yang kini mulai mencium tidak beraturan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN