Aku menyusuri tiap inci wajahnya dengan jari-jariku. Sampai hari ini pikiranku masih saja tidak mempercayai laki-laki ini menjadi milikku. Sampai hari ini aku masih mempercayai bahwa dia mungkin bukan untukku. Itu yang membuatku sering kali merasa tidak tenang. "Ca? Sudah bangun, Sayang?" Laki-laki itu mengeratkan pelukannya di pinggangku dengan mata yang masih terpejam. "Aku mau bikin sarapan. Kamu mau makan apa?" tanyaku sambil memandangi wajahnya lekat. "Apa aja. Aku mau yang ringan aja." Aku hanya mengangguk walaupun dia memejamkan mata. Aku segera bangkit dengan menyingkirkan tangan Nashby terlebih dahulu. Aku melangkahkan kaki dengan malas-malas menuju ke dapur. Sesampainya disana aku membuat teh untukku sebelum mulai membuatkan sarapan. Rencananya aku hanya akan membuat omelet s

