Maju Mundur Cantik

1065 Kata
"Kamu apa tadi sempat kepentok kepalamu, Sen? Kok jadi membagongkan begini sih omonganmu!" tegur Cantika sambil tertawa kering memalingkan wajahnya ke jendela mobilnya. Karena merasa tawarannya ditampik oleh bosnya, Arsenio pun tahu diri dan memilih menjalankan mobil Porsche silver yang dikemudikannya menuju ke rumah sakit tempat papanya dirawat. "Emang kamu belum punya pacar apa gebetan sih, Sen?" selidik Cantika sambil melirik takut-takut jaim ke arah Arsenio. Pemuda 25 tahun itu terkekeh sembari fokus menyetir. "Kenapa kok mendadak kepo? Kamu toh udah nolak ajakan buat asek-asek dariku tadi 'kan?" sindirnya lalu menoleh sekilas memeriksa ekspresi wajah wanita di sebelahnya. "Ckk ... malah bengong sih! Kamu tuh terlalu serius jalanin hidupmu, Cantik. Okay ... let's say kamu keren banget kalo di kerjaan kantor, tapi kehidupan pribadi kamu justru gersang. Ngadepin lawan jenis apa lagi ... cupu!" celoteh Arsenio yang membuat Cantika terdiam merenungkan perkataan putera sekretaris kepercayaannya itu. Arsenio pun menghela napas karena Cantika enggan menanggapi kata-katanya yang terlalu frontal barusan. "Sorry, mungkin aku terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadimu!" ujarnya lalu tak bicara lagi hingga mereka sampai di rumah sakit. Lorong menuju ke kamar perawatan Pak Sandiaga Gunadharma sepi karena memang sudah larut malam. Pemuda itu berjalan di belakang Cantika untuk menjaganya sekalipun dia yakin wanita itu mungkin kesal kepadanya karena omongannya tadi. "Malam, Om Sandi. Gimana kabarnya hari ini? Apa cuci darah tadi siang lancar?" sapa Cantika ramah, dia mengecup pipi kanan kiri pria berumur itu sebagai wujud kedekatan mereka. Sandiaga pun tersenyum lebar lalu menjawab, "Met malam, Tika. Sudah lebih segeran badanku habis tadi cuci darah. Gimana kerjaan Arsen, dia bisa handle tugas-tugas dari kamu 'kan?" "Tenang, Om. Semua aman terkendali kok. Tika ikut seneng kalau kondisi Om Sandi sudah membaik. Istirahat yang cukup ya, jangan pikirin kerjaan dulu. Rencana pulang dari RS kapan, Om?" balas Cantika mengobrol akrab dengan papanya Arsenio sementara pemuda itu hanya berdiri terdiam di sisinya. "Minggu depan baru boleh pulang, Tika. Dokter bilang harus distabilkan kadar ureum dan phospat dalam darah terlebih dahulu biar nggak bahaya ke depannya," terang Sandiaga yang mendapat anggukan mengerti dari Cantika. Setelah puas mengobrol, Cantika pun bertanya ke Arsenio apa ingin berbincang dengan papanya. Namun, pemuda itu berkata besok dia akan menjenguk papanya lagi. Mereka bisa bercengkrama di lain waktu. Maka Cantika pun berpamitan kepada Sandiaga lalu meninggalkan kamar perawatan pasien VIP tersebut diikuti oleh Arsenio. Anehnya pemuda itu mendadak irit bicara, dia seolah mengambek karena Cantika bersikap dingin kepadanya. Namun, seperti biasa Arsenio membukakan pintu mobil terlebih dahulu untuk bosnya sebelum dirinya naik ke bangku pengemudi. Jalan raya ibu kota semakin lengang saja karena sudah hampir pukul 23.00 WIB, hanya beberapa kendaraan yang masih berpapasan dengan mereka. Unit apartment mewah yang dihuni sendirian oleh Cantika berada di Shangri La Residence yang berlantai 31, sedangkan unit miliknya terletak di lantai 22. "Nggak usah dianterin sampai atas, Sen. Aku bisa sendiri kok, kamu pulang aja!" tutur Cantika ketika Arsenio selesai memarkir mobil milik wanita tersebut lalu mematikan mesinnya. "Aku boleh mampir sebentar nggak? Ada yang pengin aku obrolin sama kamu, Cantika!" balas Arsenio menolak untuk meninggalkan bosnya di parkiran basement apartment mewah itu. Cantika pun mengangguk saja, dia tak tahu hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh Arsenio. Maka mereka berdua pun naik lift ke atas dalam situasi canggung. Unit tersebut menggunakan kombinasi angka untuk membuka pintunya dan Cantika menekan 6 tombol angka. "Yuk masuk deh, Sen. Mau minum apa?" Cantika menepi untuk memberikan jalan kepada pemuda tersebut masuk ke unitnya yang tertata rapi dan luxurious. Sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan berpencahayaan lembut itu, Arsenio menjawab, "Ada bir?" "Ada, aku suka minum bir Guiness dingin sih. Duduk dulu, Sen!" balas Cantika sambil melepas high heelsnya lalu menaruhnya di rak sepatu dekat pintu keluar. Dia melenggang ke arah open kitchen di pojok timur ruangan luas tersebut. Cantika membuka tutup botol 2 buah bir Guiness Smooth simpanannya di kulkas. Setelah itu dia membawanya ke sofa dan mengulurkan sebotol kepada Arsenio. "Wow, ini sisi unik dirimu, Cantika. Penyuka minuman bercita rasa yang kuat rupanya. Di Inggris dulu aku sering minum Guiness juga, ini bir asal Irlandia. Apa kamu tahu?" ujar Arsenio sembari menikmati bir dingin di tangannya. "Tahu sih sekilas karena ada di labelnya, terutama yang seri Irish Dry Stout. Enak aja sih, aku suka. Buktinya kamu juga suka kok," sahut Cantika ringan. Dia pun teringat tujuan Arsenio mampir ke unitnya. "So ... mau ngobrol apa kamu?" Dia mengambil botol bir dari tangan Cantika dan meletakkannya ke meja sofa bersebelahan bersama miliknya. Mereka memang duduk bersebelahan di karpet bawah sofa. Kemudian pemuda itu merengkuh punggung Cantika hingga bulatan d**a yang menyembul dari tepi atas bustier gaunnya menempel ke d**a bidang Arsenio. "Aku mau nanya lagi tentang sandiwara di restoran tadi, kamu sepertinya yakin banget pas jawab pertanyaan Om Vano. Berarti kamu nggak keberatan 'kan menjalin hubungan sama berondong manis macam aku?" Pertanyaan Arsenio yang terlontar dengan posisi yang ambigu itu membuat Cantika mendadak pusing. Kedua telapak tangan wanita itu menekan d**a Arsenio, maksudnya sih ingin memberi jarak. Akan tetapi, justru menekan puncak d**a pemuda tersebut hingga membangkitkan hasrat yang menggelora bak gelombang Tsunami. "Emmhh ... i–itu ... aku nggak paham deh!" sahut Cantika terbata-bata melengos dari tatapan tajam Arsenio yang mengintimidasi. Namun, justru leher jenjang putih mulus wanita itu tertiup napas Arsenio yang wajahnya begitu dekat jaraknya. Dia pun bergidik geli. "Sen, udahan dong—jaga jarak, oke?" tegur Cantika tak nyaman sekaligus bimbang. "Tapi, aku mau lanjut. Kamu tuh gemesin. Maju mundur cantik kesannya!" protes Arsenio lalu nekad menyusuri leher jenjang nan menggoda iman tersebut dengan bibirnya. Desahan lembut disertai tekanan telapak tangannya di d**a bidang Arsenio justru memberi efek berkebalikan dari yang diharapkan oleh Cantika. Layaknya menyiram bensin ke kobaran api yang menyala, kecupan-kecupan basah bibir pemuda itu turun dari wajah ke belahan d**a yang dalam di hadapannya. 'Astagaa ... nih berondong kenapa ganas amat!' keluh Cantika terkejut-kejut menanggapi keagresifan Arsenio di permukaan tubuhnya yang penuh dengan cupang. "Sen ... udah dong. Aku nggak mau. Kita baru kenalan hitungan hari aja lho!" tolak Cantika dengan wajah merona menatap sepasang mata cokelat yang bersorot mata lembut itu. Arsenio memang menghentikan ciuman-ciuman panasnya di tubuh molek Cantika. Namun, dia urung untuk berpaling dari tujuannya kali ini. "Okay, fine. Kamu butuh berapa lama buat dipedekatein? Cantika, aku mau kamu pokoknya!" tegas pemuda tersebut tanpa melepaskan pandangannya dari sepasang mata jernih yang menyiratkan kepolosan milik Cantika. Dia tahu sedang berurusan dengan perawan sekalipun usianya tak muda lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN