Berbeda Bak Langit Dan Bumi

1308 Kata
"Selamat pagi, Miss Cantika. Apa ada tugas untuk saya hari ini?" sapa Arsenio berdiri di seberang meja kerja atasannya. Penampilan wanita matang yang elegan itu nampak apik di indera penglihatannya. Lekat-lekat dia memandangi Cantika dalam diam sembari menunggu serentetan petunjuk untuk pekerjaannya. Cantika mempersilakannya duduk di kursi seberangnya. "Pagi, Sen. Pertama, kamu tulis email balasan untuk Mr. William Chan ya, beliau meminta perincian biaya ekspedisi barangnya sekaligus pemrosesan muat kontainer kapal kargo ke Santa Monica, Los Angeles. Sudah kutulis coret-coretan isinya, oke?" tutur Cantika dengan profesional. "Siap, Miss. Next apa ada lagi?" sahut Arsenio. "Hmm ... kedua, kamu kirim lampiran berisi price list tarif jasa perusahaan ke beberapa calon customer. Sudah aku tulis juga di catatan kertas ini nama klien plus alamat surel mereka, total ada 8 deh. Paham 'kan ya?" lanjut Cantika dengan sangat jelas setiap patah katanya sembari sesekali melihat ke wajah Arsenio yang tersenyum simpul kepadanya. Pemuda itu mengonfirmasi ucapan Cantika, "Iya, paham. Apa ada lagi, Miss?" "Yang terakhir, kamu telepon Pak Singgih Wibowo untuk menanyakan apa staffing kontainer milik PT. Bintang Timur Nusantara sudah selesai dikerjakan? Segera lapor via telepon kalau sudah dapat jawaban beliau, oke?" ujar Cantika tak mengurangi ketegasan dalam setiap perintahnya. "Baiklah, saya mengerti, Miss." Arsenio bangkit berdiri lalu berjalan memutari meja kerja lebar itu hingga sampai di samping kursi Cantika. Wanita itu mendongak kebingungan menatap sosok yang tinggi menjulang tersebut hingga wajah Arsenio turun semakin dekat dan sejajar dengan wajahnya yang nampak tercengang. Sebuah ciuman yang dalam di bibirnya membuat otak Cantika nyaris konslet karena efek listrik statis bertegangan luar biasa menjalari tubuhnya. Kedua lengan Arsenio melingkari punggung Cantika hingga posisi mereka begitu dekat. Sedangkan, telapak tangan Cantika mendorong bahu pemuda itu berharap Arsenio menghentikan tindakan sembrono di jam kantor tersebut. Dengan napas agak tersengal-sengal, Arsenio berkata, "Ciuman barusan untuk memberiku semangat mengerjakan setumpuk tugas darimu, Sayang. Thank you, Cantik!" "Ckk ... lain kali nggak boleh!" Lirik Cantika dengan galak. Namun, Arsenio malah terkekeh lalu membalas, "Bolehlah. Kamu 'kan calon istriku, apa perlu kutanyakan ke Pak Julianto Wiryawan?" "Ehh ... mulai berani ngancam pake nama papaku pula!" tukas Cantika menuding hidung Arsenio dengan telunjuk tangan kanannya yang segera diraih lalu dikulum oleh mulut pemuda itu. Efeknya seperti tersetrum sekali lagi bagi Cantika. Dia memekik kecil panik. "Kamu kok nakal sih, Sen!" omelnya gemas. "Nggakpapalah, cuma sama kamu aja! Ya udah, sampai nanti jam makan siang ya." Secepat kilat bibir Arsenio menyerempet pipi mulus Cantika yang merona seketika. Pemuda itu mengambil berkas yang dibutuhkannya di meja Cantika lalu terkekeh berjalan ke arah pintu keluar. Sementara itu bosnya menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak tidak setuju dengan tindakan mesra Arsenio. Sejam setelahnya pintu kantornya terbuka dengan suara berisik hingga kepala Cantika yang tadinya tertunduk ke meja kerjanya karena sedang membaca berkas laporan kantornya tersentak ke arah pintu. "Mbak Cantika, aku butuh tagihan kartu kreditku dibayar dong! Masa aku mau belanja di butik sampai declined sih!" lengking Baby Alexandra Wiryawan dari kejauhan sembari melangkah dengan high heels 15 cm yang mengetuk-ngetuk lantai marmer ruangan presdir. Setelah menguasai keterkejutannya Cantika pun menyahut, "Kalau declined berarti penggunaannya sudah melebihi limit. Memang berapa limit kartu kredit kamu, Baby?" "Limit 1 M dan 500 juta, semua sudah kepake, Mbak!" jawab Baby ringan saja. Cantika melongo mendengar hal tersebut. Kemudian dia pun bertanya lagi, "Penggunaannya untuk beli apa saja? Itu nominal yang besar, Baby!" Adik tirinya duduk di kursi seberang Cantika seraya memeriksa manikur kukunya yang dihiasi nail art mahal. Berbanding terbalik dengan Cantika yang kukunya terpotong pendek rapi tanpa hiasan apa pun. "Buat shopping pastinya, Mbak. Lagian aku 'kan sering travelling ke luar negeri, semuanya mahal jadi limit kartu kreditku kepake lah!" jawab Baby tanpa sungkan. Dia menatap Cantika dengan pandangan mengejek. Puteri sulung hasil pernikahan pertama papanya itu banting tulang di kantor perusahaan keluarga Wiryawan hingga jadi perawan tua. Sungguh mengenaskan! Baby merasa sangat beruntung karena jadi puteri bungsu nomor 3 yang dimanja oleh kedua orang tuanya. Kakak laki-lakinya sudah menikah dan menetap di Malaysia ikut keluarga mertuanya. "Cari duit itu nggak gampang, Baby. Kamu jangan buang-buang uang percuma dong. Hargai Mbak yang capek urus perusahaan dari pagi sampai malam!" nasihat Cantika dengan stok kesabaran yang mulai menipis. "Ckk ... Mbak Cantika tuh terlalu serius orangnya! Makanya sekali-sekali nikmatin hidup dong, travelling kek apa hangout ke mall, shopping gitu. Gimana mau nikah, kalau mode Mbak serius melulu? Usia sudah 36 masih pilih-pilih jodoh pula—" "Stop! Ini hidupku, kamu nggak perlu repot-repot ngurusin. Aku akan bayar 100juta aja tagihan kartu kredit kamu, Baby. Sisanya minta ke papa, biar dia paham kayak apa kelakuan puteri kesayangannya yang boros itu!" tegas Cantika mulai terbakar emosinya karena ucapan pedas adik tirinya. "Dasar perawan tua pelit! Masa cuma 100 juta sih? Aku tuh butuh buat bayar biaya spa di salon kecantikan siang ini, Mbak. Nanti mau ditaruh ke mana mukaku hangout bareng temen-temen deketku," protes Baby seraya memaki Cantika. Cantika mendengkus kesal lalu menyeletuk pedas, "Taruh aja di b****g besar kamu tuh kalo bisa!" "BRAK!" Tangan Baby menggebrak meja kerja kakak sulung tirinya tersebut. Dia lalu mengacungkan telunjuknya ke wajah Cantika. "Awas ya, kulaporin ke papa kejadian hari ini biar kamu diomelin sama papa!" ancamnya. "Siapa takut? Sono pulang kamu, aduin aja. Memangnya aku takut? Biar kujawab nanti sesuai situasinya kalo puteri kesayangannya super boros. Pikirnya duit tuh kayak hujan turun dari langit atau tinggal metik kayak daun di pohon beringin aja!" tantang Cantika tak mau diancam oleh adik tirinya yang tak bisa bekerja dan hanya bisa memboroskan harta keluarganya. Baby pun bangkit berdiri dengan tatapan penuh dengki kepada Cantika. "Oke, setidaknya papa tuh sayang sama aku karena kemarin nyelamatin mukanya dari Om Vano akibat kamu nolak pertunangan sama Kak Hans!" tutur gadis itu membela diri. Saat peristiwa kemarin malam disinggung oleh adik tirinya itu, Cantika pun tergelak. "HA-HA-HA. Selamat ya buat pertunanganmu sekali lagi. Tajir sih memang si Hans itu, tapi awas aja kalau nanti setelah menikah nggak sesuai ekspektasi kamu tentang sosok suami ideal!" ujar Cantika dengan maksud terselubung di balik permainan kata-katanya. Pria yang konon kabarnya gay itu bisa jadi tidak napsu pada istrinya yang wanita tulen. Kalau memang terbukti rumor miring tentang Hans tersebut, barulah Baby akan tersadar bahwa uang serta harta kekayaan itu bukanlah penentu kebahagiaan. Gadis belia itu terlalu naif! "Alaa ... bilang aja kamu sirik sama aku 'kan, Mbak? Nyesel ya setelah Hans setuju bertunangan sama aku? Cincin berliannya ada gede banget nih di jari manis aku ... tuh lihat!" Baby mengangkat telapak tangan kirinya tinggi-tinggi di hadapan Cantika dengan wajah angkuhnya. Namun, Cantika hanya tersenyum tanpa merasa iri. "Lho aku 'kan sudah kasih ucapan selamat tadi. So, kapan rencana pernikahan kalian? Aku pasti datang dan ikut jadi pager ayu nanti ikut menyambut tamu undangan!" balas wanita itu dengan nada santai. Bibir Baby dimonyongkan, dia kesal karena Cantika nampaknya malah senang dia akan menikah dengan Hans. Aneh sekali! Gagal sudah rencananya membully kakak tirinya itu. "Bulan depan kami merid, datang aja, Mbak Cantika! Ya udah jangan lupa transfer 100 juta buat bayar tagihan kartu kreditku. Oya, ada uang tunai 5 juta nggak buat uang sakuku, Mbak?" ujar Baby mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Cantika. Sembari menghela napas dalam-dalam Cantika mengambil dompetnya dari dalam tas tangannya. Dia menghitung senilai 5 juta lembaran uang pecahan 100 ribu rupiah lalu menyerahkan ke tangan Baby. "Jangan dibiasain borosnya, Baby! Om Vano tuh orangnya cermat dalam pemakaian uang karena dia pengusaha sedari muda. Dia calon mertua kamu nanti!" nasihat Cantika dengan tujuan baik, tapi efeknya justru berkebalikan tanggapannya. Adik tirinya justru menolak nasihatnya. "Haish ... dahlah, banyak cingcong kamu, Mbak! Sok ngatur, pantas sih ... kan udah tuwir—" "Byebye, Baby. Jangan lupa ditutup pintunya ya kalau keluar nanti!" potong Cantika lalu dia kembali fokus ke berkas laporan di meja kerjanya. Gadis belia itu menghentak-hentakkan kakinya meninggalkan ruangan presdir dengan wajah tertekuk dongkol. Sedari dulu tinggal seatap mereka memang selalu bagai anjing dan kucing yang saling tak akur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN