Satu Rahasia Terbuka

1407 Kata
Tidak ada yang sia-sia jika kita terus berusaha Tidak ada yang tidak mungkin jika kita terus berdoa Manusia hanya mencoba, sisanya biarkan Tuhan yang mengaturnya * “Bang, bisa angkat barang-barang itu?” Seseorang mendatangi Nusa, ia langsung saja mengangkat kepala dari lamunan panjang, lamunan yang meratapi nasib yang tak kunjung berpihak pada dirinya. “Bisa, Bang. Barang yang mana?” Nusa langsung menjawab dengan semangat. Ia segera bangkit dengan wajah berseri-seri, terbayang Laras yang akan menyambutnya dengan senyuman yang hangat saat ia membawa sedikit uang saat pulang. “Disana.” Nusa berjalan mengikuti orang yang memanggilnya. Apapun itu, ia akan membawa barang tersebut, ia masih punya banyak tenaga. “Bawa ini!” Dia menunjuk sisa barang bangunan yang sudah tidak terpakai lagi. “Mau di buang ke pembuangan,” lanjutnya. Nusa memandangi barang yang siap untuk ia angkut, kemudian beralih pada rumah besar yang ada di depannya. Barang bangunan tersebut sebenarnya masih ada yang layak di pakai, mungkin si pemilik rumah ingin mengganti model rumahnya hingga membuang model yang lama. “Kenapa masih di lihat?” “Nggg... Bang! Ini mau di buang semuanya?” tanya Nusa. “Iya! Bos suruh buang.” “Atap ini boleh aku minta?” tanya Nusa ragu. “Boleh, ambil saja yang mau di ambil, Bos sudah suruh buang kok.” Nusa segera memilih barang yang menurutnya masih bagus dan layak pakai, sisanya yang sudah tidak layak lagi ia angkut ke tempat pembuangan akhir. Mengangkat semua barang tersebut cukup menguras tenaganya karena mesti bolak balik ia membuang semua sampah bekas bangunan tersebut ke pembuangan akhir. Meskipun matahari hampir masuk ke peraduan, sinarnya sudah tidak menyengat dan tidak membakar kulit lagi namun pekerjaan Nusa yang cukup berat di senja ini mampu membuat keringat bercucuran di dahinya. Nusa memandang puas saat pekerjaan telah ia selesaikan, kemudian ia duduk untuk melepas lelah sejenak sebelum membawa pulang beberapa barang yang sudah ia sisihkan. “Loh, ini kenapa tidak di buang?” Seseorang datang menghampiri Nusa, seorang pria yang berpakaian necis dengan perawakan yang gagah mendekat sambil memegang sebuah amplop putih di tangan kanannya. Nusa memperbaiki posisi duduknya, melihat penampilan pria yang sedang berdiri di depannya ini bisa Nusa simpulkan kalau dia lah pemilik rumah mewah tersebut. “Oh, tadi saya meminta barang-barang ini pada abang yang tadi karena ini masih bisa di pakai,” jawab Nusa kikuk. Pria itu mengangguk pelan sembari mengusap dagu dengan tangan kiri, lalu tangan kanannya terulur. “Ini bayarannya.” Nusa memandangi amplop putih tersebut, rasa penatnya sirna sudah saat melihat bayaran yang di berikan oleh si pemilik rumah. “Terima kasih, Pak,” ucap Nusa dengan senyum terkembang. Wajah Laras yang tersenyum senang sudah melintas di pelupuk matanya tatkala amplop putih ini nanti ia berikan pada wanita itu. “Sama-sama.” Pria itu tersenyum, ia lalu membalikkan badan kembali masuk ke dalam istana miliknya. Nusa pun bangkit, mengambil beberapa barang yang tadi ia sisihkan untuk di bawa pulang. Baru saja beberapa langkah Nusa meninggalkan tempat itu, terdengar suara yang memintanya untuk berhenti. “Tunggu!” Nusa berbalik, itu suara pria yang memberikannya amplop putih. “Siapa namamu?” “Nusa.” “Pekerjaanmu?” “Saya tidak punya pekerjaan tetap.” “Saya punya pekerjaan, barangkali kamu mau. Pekerjaannya adalah....” “Saya mau.” Nusa langsung memotong ucapan pria tersebut. Apapun itu, ia tidak akan menolak pekerjaan yang di berikan oleh pria tersebut. Terdengar kekehan keluar dari mulut pria tersebut, kedua matanya menatap wajah Nusa yang terlihat lucu menurutnya. “Pekerjaan nya tidak banyak, hanya membersihkan halaman rumah ini dan menanam beberapa pohon untuk pelindung serta sedikit bunga supaya terlihat lebih indah.” Nusa memindai halaman rumah yang sangat luas tersebut, ia pun tersenyum mengiyakan. “Baiklah, besok pagi sudah bisa mulai bekerja.” *  Nusa berdiri tidak jauh dari ruangan tempat dimana tubuhnya berbaring, ia sama sekali tidak patah semangat dan terus berjuang untuk mengembalikan jiwanya yang terperangkap ke dalam tubuh kucing, bagaimanapun jiwanya harus segera kembali supaya ia bisa menemui Laras dan kedua anak mereka untuk meminta maaf. Kemudian kedua matanya yang besar menangkap bayangan seseorang yang sangat ia kenal. Seorang wanita dan seorang berpakaian serba putih datang dan masuk ke ruangan tersebut. Sekar? Untuk apa ia datang ke sini? Ada rasa benci yang menyelimuti hati Nusa saat melihat wajah wanita yang sudah membuangnya seperti sampah. Wanita yang sama sekali tidak pernah menghargai usaha dan kerja kerasnya selama ini, wanita yang tidak mau memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada dirinya. Wanita yanag telah denagn sangat mempermalukan dan menginjak harga dirinya sebagai laki-laki. Hal yang tidak pernah Laras lakukan pada diri Nusa justru dilakukan oleh wanita yang bernama Sekar ini. Sekarang wanita itu berada di sini, berada di rumah sakit ini untuk melihat dirinya yang tengah terbaring tidak berdaya. Apa maksudnya? Nusa berjalan mendekat, mencari tahu apa yang tengah terjadi. ia mengendap masuk ke ruangan tersebut dan mengintip apa yang dua orang itu lakukan pada tubuhnya. “Dia belum beraksi dengan obat yang sudah kami beri. Detak jantungnya sangat lemah, lebih lemah dari detak jantung pasien koma pada umumnya.” “Dokter obati saja sebaik mungkin, terima kasih sudah menghubungi saya.” Sekar berkata serambi memperbaiki letak kacamata yang terpasang di puncak kepalanya. Lalu kedua orang itu keluar dari ruangan tersebut. Nusa mengikuti mereka dengan sembunyi-sembunyi, ia harus tau alasan Sekar yang datang mengunjunginya. Tidak mungkin ia datang begitu saja, melihat tubuhnya yang terbaring lemah dan meminta dokter untuk mengobatinya dengan sebaik mungkin. Tidak! Sekar bukan wanita sebaik itu, ia wanita yang culas dan tidak mau merugi. Sekar dan dokter yang telah memeriksa Nusa tadi terlihat bersalaman, kemudian mereka berpisah. Sang dokter kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit, dan Sekar berjalan ke arah parkiran. Nusa berlari mengejar wanita itu, setelah jaraknya dengan jarak Sekar cukup dekat, Nusa melompat dan mencakar lengan Sekar. “Aduuuuh.” Sekar berteriak kaget. Ia terlonjak karena shock melihat seekor kucing kotor melompat ke tubuhnya dan mencakar lengannya hingga terluka. “Dasar kucing kurang ajar.” Dengan cepat Sekar melempar tas yang sedang ia pegang ke tubuh Nusa. “Meooong.” Tubuh Nusa terseok karena tas tersebut tepat mengenai tubuhnya yang sedang berlari menjauh. Sekar melihat tangannya yang tergores, cakaran Nusa membuat luka di kulitnya dan itu terasa sangat perih. Sekar mengambil kembali tas yang sudah jatuh ke jalanan, lalu ia masuk ke dalam gedung rumah sakit untuk mengobati luka cakaran kucing yang tiba-tiba melompatinya. Nusa diam-diam mengikutinya dari belakang. Sekar masuk ke sebuah ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dari caranya masuk terlihat Sekar tidak merasa canggung dan malu sama sekali. “Kenapa?” tanya seorang dokter yang berada di dalam ruangan tersebut. “Ada kucing liar mencakar tanganku,” jawab Sekar meringis. “Kucing liar? Dalam rumah sakit ada kucing liar?” Dokter tersebut mengernyit. “Di parkiran, aduuuh... sakit sekali Mas,” rintih Sekar manja. Nusa mengernyit, menatap Sekar dari tempatnya berdiri. “Sini, Mas obati.” Si Dokter mengambil beberapa peralatan dan terlihat sedang mengobati tangan Sekar yang terluka. “Pelan-pelan dong, Mas. Sakit tau....” “Heheh... iya Sayang. Ini mas sudah pelan.” Nusa melihat interaksi dua orang tersebut dengan heran. Bukan seperti interaksi antara dokter dan pasien. Yang ini serasa lebih akrab dan lebih menjijikkan. “Mas, aku serahkan dia padamu, ya. Aku malas harus ke sini lagi. Malas juga harus berpura-pura sedih di depan Dokter Faisal.” Dia? Dia siapa maksud Sekar? Apa itu tubuhku? Lalu siapa Dokter Faisal? “Jangan khawatir, dia biar mas yang urus. Ada untungnya dia koma jadi kita bisa menikah secepatnya.” Mata Nusa terbelalak mendengar ucapan dokter tersebut. Jadi dokter ini alasan Sekar meminta cerai dan mengusirnya dari rumah, supaya mereka bisa menikah? Mendengar hal tersebut Nusa semakin membenci mantan istrinya tersebut. Sekar dan dokter tersebut berjalan ke luar ruangan. Nusa mundur beberapa langkah dan mencari tempat persembunyian. “Terima kasih, Mas. Nanti aku tunggu di rumah untuk makan malam.” Keduanya saling menatap mesra, membuat Nusa semakin muak melihatnya. Lalu tatapan mesra tersebut berubah menjadi tatapan biasa tatkala seseorang berjalan mendekati mereka. Nusa kenal orang tersebut, dia adalah dokter yang masuk bersama Sekar ke ruangan nya tadi. “Kalau begitu saya permisi, Dok,” ucap Sekar sambil mengangguk sopan pada dua dokter tersebut kemudian berlalu dari tempat tersebut. “Dokter Rahman, ada pasien baru masuk UGD,” orang tersebut memberi tahu. “Baik Dokter Faisal, saya segera kesana.” Dokter yang bernama Rahman tersebut berjalan mengikuti Dokter Faisal yang memanggilnya. Hmmm... jadi namanya Rahman. Nusa mengeluarkan seringainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN