Cakrawala 1

1600 Kata
Perjuangan tidak akan pernah ada akhir Saat matahari terbit, maka terbit jualah rasa untuk berjuang Saat matahari terbenam, maka keinginan untuk berjuang tidak akan pernah terbenam ** Nusa mengangkat satu karung beras berukuran sedang dari sebuah mobil pickup ke sebuah toko sembako yang terletak di kampung sebelah. Juragan Pochi pemilik toko sembako di kampung Nusa membuka sebuah toko baru di kampung tersebut dan ia membawa Nusa untuk membantunya mengangkat barang-barang dari tokonya yang lama ke toko yang baru. Sudah beberapa kali Nusa bekerja dengan juragan Pochi. Beberapa teman Nusa ada yang menolak saat si juragan menawarkan pekerjaan, pasalnya juragan Pochi, yang punya toko sembako itu terkenal pelit saat memberi upah pada pekerja yang bekerja dengan nya. Upah yang ia beri jauh lebih sedikit dari upah biasa yang Nusa dan kawan buruh lainnya terima. Tapi tidak bagi Nusa, ia sama sekali tidak mempermasalahkan jumlah upah asalkan ia bisa mendapatkan uang. Berapapun upah yang di beri kepadanya Nusa syukuri jika memang itulah rezekinya. Daripada Nusa duduk diam menunggu pekerjaan yang upahnya tinggi lebih baik Nusa mengerjakan apa yang ada di depan matanya. Begitu menurut pemikiran Nusa. “Nus, masih ada satu kali angkut lagi,” ucap Soleh, sopir pickup yang membantu juragan Pochi. “Kau masih bisa, ‘kan?” tanya Soleh lagi. Mengingat hari sudah senja dan matahari sudah tenggelam. “Bisa,” jawab Nusa sambil mengelap keringat di keningnya. Meskipun hari sudah senja, tidak ada istilah bagi Nusa untuk menolak rezeki yang ada di depan mata. Ia butuh uang untuk biaya melahirkan Laras, istri cantiknya itu sudah menunggu waktu untuk melahirkan dan Nusa harus memiliki tabungan untuk biaya melahirkan nanti. “Mau istirahat sebentar atau langsung berangkat?” Soleh meminta pendapat Nusa. “Langsung saja ya, aku gak mau pulang terlalu malam.” “Baiklah kalau begitu, ayo naik.” Soleh membuka pintu mobil untuknya dan meminta Nusa untuk segera naik. Nusa mengikuti pergerakan Soleh, ia juga naik dan duduk di samping pria tersebut. “Kau tidak lelah?” Soleh bertanya saat mobil yang ia kendarai mulai menjauh dari tempat itu. “Tidak, aku tidak mau lelah.” Nusa menjawab sambil tersenyum kecil. Apa ceritanya kalau Nusa berkata lelah? Tidak mungkin ia melewatkan rezeki yang sedang menunggu di depan mata. Terdengar suara tawa dari mulut Soleh. Bagaimanapun ia salut dengan semangat Nusa. Nusa tidak mau menyerah dengan hidupnya, ia selalu berusaha mengerjakan apapun untuk mendapatkan rezeki. Dia benar-benar lelaki yang bertanggung jawab. Untuk mengambil barang dari toko sebelumnya dan memindahkan ke toko yang baru menghabiskan waktu hampir dua jam. Setelah Nusa menyelesaikan semua pekerjaannya ia pulang dengan wajah yang berseri. Hasil yang dia dapat hari ini, lebih banyak dari kemaren. Dan seperti biasa Nusa akan menyerahkan semuanya itu kepada Laras. Biarlah Laras yang mengatur keuangan keluarga meskipun yang ia berikan tidaklah banyak seperti suami lainnya. Rumah sederhana Nusa terlihat lengang, lampu rumah juga belum menyala. “Kemana Laras?” tanya Nusa heran, kedua alisnya bertaut memikirkan keberadaan Laras. “Laras....” Nusa memanggil istrinya. Pintu kayu rumah Nusa ternyata tidak di kunci, pria itu melangkahkan kaki ke dalam ruang yang gelap. Kemudian tangannya menyentuh saklar untuk menyalakan lampu. “Laras,” panggil Nusa. Karena tidak menemukan Laras di sana, ia masuk ke dalam kamar. “Laras.” Panggil Nusa kembali saat ia melihat kamar mereka juga kosong. Dengan cepat Nusa melangkahkan kakinya ke luar rumah, hari sudah gelap harusnya Laras ada di rumah menunggunya. “Bang Nusa, mencari Laras ya?” tanya Suri yang kebetulan lewat di depan rumah Nusa. “Iya, kamu lihat, Ri?” tanya Nusa dengan wajah khawatir. “Tadi siang di jemput Ibunya ke sini, katanya perutnya sakit. Mungkin mau melahirkan.” “Melahirkan? Kamu serius, Ri?” Nusa terlihat kaget mendengar berita yang di sampaikan Suri. “Iya, Bang. Masa aku becanda.” “Ya udah, makasih ya, Ri.” Nusa berlari menuju rumah mertuanya, rumah orang tua Laras tidak begitu jauh dari rumah yang mereka tempati sekarang. Dalam sepuluh menit, ia sudah sampai di sana. Kondisi rumah Pak Rustam hampir saja dengan rumahnya, sepi dan gelap. “Permisi Pak, Bu...,” panggil Nusa dengan suara terengah-engah. “Ras... Laras....” Nusa mengelilingi rumah tersebut, berharap menemukan Laras atau Bu Ratri di belakang rumah. Belakang rumah itu pun kosong, tidak ada siapa-siapa di sana. Nusa berbalik ke depan, berharap menemukan tetangga yang masih belum tidur dan bisa memberikannya informasi di mana Laras berada. Nusa mulai putus asa karena tidak menemukan Laras dan mertuanya, pria itu lalu duduk jongkok di depan pintu. Menunggu siapapun yang bisa memberikan informasi kepadanya. “Nusa.” Nusa mengangkat kepala, Ratri sudah berdiri di depannya. Pria lalu berdiri dengan cepat dan memegangi tangan Ratri. “Bu, bagaimana Laras? Kata Suri, Laras tadi sakit perut. Sekarang ia di mana, Bu?” Nusa memberondong Ratri dengan banyak pertanyaan, raut cemas terpancar jelas di wajahnya. Wanita itu kemudian tersenyum kecil. “Laras baik-baik saja, ia sudah melahirkan. Anak kalian laki-laki, ia juga sehat.” “Benarkah, Bu?” Tanpa sadar Nusa memeluk erat tubuh Ratri, ia sangat bahagia mengetahui Laras sudah melahirkan dan anak pertama mereka laki-laki. “Nus,” panggil Ratri sambil berusaha mengurai pelukan Nusa. “Sana ke rumah Bi Ijah, Laras masih di sana.” Nusa mengusap bening air yang sudah menggenang di kedua matanya. Ia sangat terharu, dan sudah tidak sabar lagi melihat putranya. * Nusa sekarang sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Di sana, ia hidup teratur di bawah pengasuhan wanita yang baik hati yang baru Nusa ketahui bernama Fitri. Fitri ternyata seorang pecinta kucing yang menampung kucing liar, ada banyak kucing yang di asuhnya. Selama Nusa di sana, makan Nusa menjadi teratur. Ia tidak perlu lagi mengais tong sampah untuk mencari sisa makan guna mengisi perut atau menunggu belas kasihan orang yang lewat yang bersedia memberinya roti atau sisa makanan yang mereka makan. Bersama Fitri, Nusa merasa hidup dalam satu keluarga. Merasa memiliki ibu yang menjaga dan memberi kenyamanan. Namun hal tersebut tidak membuat Nusa berbahagia. Ia tetap tidak puas dengan dunianya sekarang. Fitri terlalu protektive pada semua kucing-kucing yang membuat semua hewan itu tidak bebas bergerak, semua hewan tersebut ada di keluarkan dari kandang mereka tapi tidak pernah keluar dari rumah Fitri. Sementara Nusa sendiri ingin keluar dari rumah tersebut supaya bisa menemui Laras yang ia yakini berada tidak jauh dari sana. Sudah satu minggu berlalu, selama itu pula Nusa menunggu kedatangan Laras yang kembali ke rumah Fitri. Nusa memperhatikan stok barang yang di bawa Laras minggu yang lalu, semua isi kardus yang di antarkan Laras tersebut adalah berbagai jenis makanan kucing. Dan sisa makanan dalam kemasan tersebut sudah menipis, Nusa yakin tidak akan lama lagi Laras akan datang membawakan makanan lagi untuk mereka. Pintu rumah Fitri di ketuk seseorang dari luar. Nusa terdiam dan memasang mata dan telinganya, bersiap-siap untuk melihat siapa tamu yang datang. Ia berjalan pelan menuju pintu luar, di susul Fitri dari belakang. Kemudian Nusa berdiri di balik kaki Fitri, jika memang tamu itu Laras maka Nusa akan langsung melompati tubuh wanita yang sudah ia rindukan itu. “Kamu?” Fitri terlihat kaget saat membuka pintu. Begitu juga dengan Nusa, Selain kaget, Nusa juga kecewa ternyata tamu yang datang bukan Laras melainkan seorang anak laki-laki kecil yang wajahnya sudah di tutupi kardus. Mengesalkan bukan? Sudah menunggu satu minggu ternyata yang datang bukan yang di harapkan. “Tarok mana, Bu?” tanya anak kecil tersebut dengan suara yang tertahan karena menahan berat barang yang ia bawa. “Tarok sana saja.” Fitri menunjuk sudut ruang, kemudian ia membantu membawakan kardus tersebut hingga masuk ke rumahnya. Nusa berjalan pelan ke belakang, ingin kembali ke tempatnya semula. Jujur saja, ia merasa semangatnya kini telah hilang karena sangat kecewa. Apalagi melihat kardus yang di bawa anak itu, dari kemasannya saja Nusa sudah bisa melihat kalau kardus tersebut berisi makanan untuk mereka. Fitri sudah tidak memakai jasa Laras lagi melainkan menggantinya dengan anak kecil itu, begitu isi pikiran Nusa. Dimana Larasku? Kenapa bukan dia yang datang? Ucap Nusa di dalam hati, kakinya terus melangkah ke arah dalam rumah hingga ia mendengar suara Fitri bertanya pada anak kecil yang baru saja datang itu. “Mama mana?” “Mama sedang sakit, Bu.” “Kasihan kalian, ini kasih ke mama untuk biaya berobat.” “Terima kasih banyak, Bu.” Nusa membalikkan badan karena terkejut mendengar percakapan Fitri dan anak laki-laki itu. Mama? Apa mama yang mereka maksud adalah Laras? Lalu kalau Laras mamanya jadi anak laki-laki itu? Cakraaa.... “Meooong... meooong.” Nusa berlari secepatnya ke arah luar, ke tempat anak laki-laki tadi meletakkan barang yang ia bawa. Ia harus bertemu dengan Cakrawala, buah hatinya. “Meooong.... meooong.” Nusa melompati daun pintu yang sudah bergerak menuju engsel, dia harus cepat sebelum pintu kayu itu tertutup. Saat tubuhnya mencapai pintu, saat itu pula pintu kayu tersebut tertutup rapat. Klik. Suara pintu tertutup bersamaan dengan suara benturan tubuh Nusa di pintu kayu itu. “Heiiii.... kau harus hati-hati.” Fitri kembali mengelus kepala Nusa sebelum berlalu dari tempat itu. Tubuh Nusa luruh ke lantai, ia ingin menangis sejadi-jadinya. Ia meratapi kebodohannya yang sama sekali tidak berfikir jika anak tersebut adalah Cakrawala, putera pertamanya dengan Laras. Andai saja Nusa tetap di sana saat mereka meletakkan barang yang di antar, andai saja Nusa memiliki rasa ingin tahu yang besar, ingin tahu siapa yang menggantikan Laras membawa barang pesanan, pasti ia sudah melihat wajah putranya, Cakrawala yang juga sangat ia rindukan. Bukankah kesempatan itu sudah ada? Tinggal kita yang harus peka Bukankah semua sudah ada jalan takdirnya? Jangan pernah kalian menyesali, apa yang sudah di takdirkan dan apa yang sudah di tetapkan Manusia tinggal menjalani, Tuhan-lah yang menentukan. Happy Reading-Semoga suka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN