"Kamu, kan, cuma ingin tau Liana les di mana. Buat apa pake nganter ke pagar segala? Di sini itu banyak preman, Aku gak mau kalau nanti mereka ganggu kamu." Mas Daffi bicara lagi, mengalihkan sejenak pikiranku akan isi pesan di ponselku.
Tapi, tunggu, apa yang dia bilang tadi? Aku nggak salah dengar, kan? Kenapa kata-katanya manis sekali? Membuatku serasa seperti disiram air es, sejuk sekali. Benarkah ia sekhawatir itu padaku?
"Lagian kasian kalau sampai teman-teman Liana nanti sampai melihat wajahmu. Nanti dia malu," ucapnya kasar di depan Liana.
Bahuku melorot. Baru saja ia membuatku serasa terbang tinggi ke langit, dalam sekejap ia menghempaskanku lagi ke bumi. Menyebalkan!
Aku sadar memang wajahku ini membuat takut sebagian orang, makanya aku tak pernah lupa untuk menutupinya dengan selendang saat sedang berada di luar rumah. Termasuk saat ini, aku juga mengenakan selendang di kepala.
Sebenarnya Papa Asmoro dulu pernah menawariku untuk melakukan operasi plastik di wajah. Tapi aku tolak, karena menurutku belum perlu. Pikirku saat itu, aku akan menunggu keputusan Mas Daffi saja. Jika ia yang menyuruh, tentu aku akan langsung mengiyakan. Lagi pula operasi plastik, kan, membutuhkan biaya yang sangat besar.
"Iya, Mas."
Mobil berjalan perlahan memasuki kawasan pemukiman yang sangat mewah. Tidak jauh dari gerbang utama, kami akhirnya tiba di salah satu ruko tiga lantai yang sangat megah. Pagar tinggi bercat biru lautnya berdiri angkuh menyambut semua murid yang datang. Ditambah lagi dengan hiasan berbagai ornamen bebatuan di dinding, semakin memperindah eksterior gedung itu. Banyak kendaraan roda empat yang lalu lalang mengantarkan anak mereka, sebaliknya jarang sekali terlihat kendaraan roda dua.
Mas Daffi memarkir mobil tak jauh dari pintu masuk. Setelah ia mematikan mesin, cepat-cepat kurapikan kembali letak selendangku, baru setelahnya keluar mobil dan membantu Liana turun.
Mataku seketika berbinar ketika mengetahui bahwa putriku bisa kursus di tempat semewah itu. Tanpa sadar kakiku berjalan melangkah mengikuti Liana dan Mas Daffi menuju gerbang.
"Eh, kamu mau ke mana? Diam saja di sana!" Mas Daffi berbalik badan demi hanya untuk memotong langkahku. Akhirnya aku hanya bisa pasrah, melihat Liana memasuki tempat lesnya dari jauh saja.
***
Saat aku tengah menunggu Mas Daffi keluar dari pagar, datang sekawanan pemuda berpenampilan preman menghampiri. "Bu, sedekahnya, Bu. Asem ni mulut, udah lama ga ngerokok," ucap salah satu pemuda itu.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman, tanpa menjawab apapun. Sama sekali tidak berniat memberi.
"Yah, Bu. Kita, tu, mau duit, bukan senyuman. Masa naik mobil bagus gini, ga ada duit," cibirnya. "Mana?" tangan salah seorang pemuda itu sudah memegang tanganku.
"Ok, sebentar." Baru saja akan mengeluarkan uang dari dalam dompet, Mas Daffi tiba-tiba sudah berada di belakangku.
"Heh, lepasin! Ngapain kamu pegang-pegang istri orang? Mau saya panggilin satpam?" ancam Mas Daffi kepada mereka.
"Jangan dikasih, Ri. Kebiasaan nanti, paling kalian pakai buat rokok, kan! Sudah sana kalian pergi!" Dengan bersungut-sungut mereka akhirnya pergi menjauh.
"Kamu itu ga usah sok baik pake mau ngasih uang segala ke mereka. Kebiasaan nanti!" ucap Mas Daffi lagi.
"Tapi ...."
"Makanya tadi aku bilang kamu ga usah ikut, di rumah aja. Dasar bandel. Kayak gini, kan, jadinya. Untung tadi aku cepat datang jadi kamu ga diapa-apakan sama mereka. Sekarang kamu langsung pulang aja. Ga usah nunggu sampai Liana pulang. Aku sudah menelepon Friska. Dia yang nanti akan menjemput Liana," titah Mas Daffi lagi.
"Tapi, kenapa harus Friska, Mas? Aku ini ibunya Liana, biar aku tunggu saja sampai Liana pulang nanti."
"Kalau aku bilang pulang, ya, pulang!"
"Tapi, Mas ...."
"Kamu ini kenapa, si, susah banget dikasih tau? Udah cepetan pulang! Aku mau langsung ke kantor. Nih, uang buat ongkos taksi." Selesai mengangsurkan selembar uang berwarna merah ke tanganku, Mas Daffi langsung masuk mobil dan meninggalkanku sendirian di sana.
Sepeninggal Mas Daffi, pelan-pelan senyumku mengembang.
Bersambung.