Mas Daffi sering mengatakan kalau ia berencana menceraikan dan berusaha mengenyahkanku dari kehidupannya. Hanya saja ia masih terikat janji pada almarhum Papa Asmoro dan juga memikirkan nasib putrinya. Biar bagaimanapun, Mas Daffi masih memandangku sebagai ibu kandung Liana. Ia menyadari bahwa Liana masih membutuhkan bimbingan dari seorang ibu di usianya yang masih belia seperti sekarang.
Sebenarnya aku tahu mengenai keinginan Mas Daffi yang masih belum terlaksana itu. Seandainya saja Papa Asmoro tidak pernah memaksanya menikah denganku, ia pasti sudah berbahagia bersama Friska. Wanita yang sudah sejak lama ia cintai.
Aku tahu selama tujuh tahun pernikahan kami, Mas Daffi sering menemui Friska secara diam-diam. Terlebih saat Papa Asmoro masih hidup. Dulu Friska tidak pernah berani datang ke rumah ini. Mas Daffi dan Mama Juwita pun tidak berani membuka pintu rumah ini lebar-lebar untuk menyambut Friska seperti yang sekarang ini sering mereka lakukan.
Namun, di lubuk hati terdalamku aku masih menyimpan suatu kepercayaan pada suamiku itu. Aku yakin ia tidak pernah berbuat hal di luar batas.
Setelah beberapa jam berlalu, kucoba untuk menghampiri Mas Daffi ke ruang kerjanya. Kuketuk perlahan pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat itu, lalu mencoba membuka pintunya yang tidak terkunci.
"Mas, boleh aku masuk?" tanyaku walaupun tubuh ini sudah memasuki ruangan itu sepenuhnya. Ia tampak sedang serius membaca beberapa berkas yang terserak di atas mejanya. Tanpa melihatku dan tidak menjawab pertanyaanku, garis halus di dahinya bergerak turun naik.
"Mas, ini, aku buatkan kopi."
Hening, Mas Daffi seakan tidak menyadari kehadiranku di sana. Setelah meletakkan kopi di atas meja, kucoba lagi mendekatinya.
"Lagi baca apa, Mas? Kelihatannya pusing sekali."
Kalimatku berhasil menghentikan aktivitasnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela, masih enggan menatapku. "Nggak usah kepo. Aku kasih tahu pun kamu nggak mungkin ngerti!" Ia lalu kembali fokus pada pekerjaannya semula.
Kata-katanya sedikit menggores perasaanku lagi, tapi tetap saja diam-diam kuperhatikan salah satu berkas yang berada tepat di depanku. Di sana tertulis hal mengenai cara menangani sengketa antara pimpinan dengan buruh. Oh, Mas Daffi ternyata sedang mengalami masalah di kantornya.
"Mas, Mas udah baca undang-undang no. 2 tahun 2004? Di sana ada, lho, jawaban atas masalah ini."
Mas Daffi kembali melihat ke arah berkasnya.
"Belum, tentang apa itu?" ucapnya heran.
"Sebentar aku ambilkan dulu." Bergegas kutuju kamar dan segera kembali ke ruang kerja Mas Daffi.
"Ini, Mas bisa baca di halaman 30-35."
Mas Daffi segera mengambil buku di tanganku, kemudian membukanya. Tak lama kemudian kedua sudut bibirnya terangkat ke atas.
"Ini dia yang aku cari sejak tadi. Maka .... " Ia mencoba melihat ke arahku, namun segera memalingkan wajahnya lagi. Sedikit senyum tampak di wajahnya yang tampan.
" ... si."
Tumben.
Dadaku mulai berdegup kencang lagi. Sikap Mas Daffi yang tak biasanya barusan, mampu mengikis sedikit rasa sedihku beberapa jam ke belakang. Kuberanikan diri untuk lebih mendekatinya, sangat dekat, hingga ia bisa menghirup wangi parfum vanila yang baru saja kupakai. Aroma yang menjadi favoritnya. Wajahku pun sudah dibaluri dengan foundation dan bedak tipis tadi. Tidak lupa warna peach ikut serta menghiasi bibirku. Namun, belum sempat aku meraih tubuhnya, dia sudah mengangkat wajahnya.
Bersambung.