"Parah tuh, si, Dito, kebanyakan dia makenya ampe oleng gitu motornya," pekik salah satu pemuda berjaket hitam di tengah bisingnya suasana balapan. Ia sedikit berteriak mungkin karena tidak mengira kalau ada orang lain di dekat mereka. "Ah, biarin aja. Noh, buktinya dia masih bisa unggul di depan. Yah, kalau lagi apes, palingan dia mati," jawab pemuda bersuara berat. "Yoih, setidaknya dia mau beli punya gue, ga sok suci macam si Daffi itu. Sukurin tu anak, gue bikin m**pus!" Kalimat pemuda itu disambut tawa oleh pemuda lain yang berdiri di sekitar mereka. Daffi? Daffi siapa? Apa yang mereka maksud itu anak temannya Om Sahid? Dan barang yang mereka maksud tadi apakah itu n*****a? Aku terus menajamkan telinga sambil terus melihat ke arah balapan yang semakin malam semakin berlangsung

